Senin (27/12/’10).
Kahyangan Junggirikaelasa porak-poranda. Dua raksasa kembar, Badrayaksa dan Kandiyaksa mengobrak-abrik sangkar dewata, dan meng-ultimatum agar Sang Hyang Guru lengser. Dewata pating plongo tak mampu mencegah. Batara Guru diikuti deputinya, Betara Narada, lari pontang-panting kearah selatan.
Dengan tersengal-sengal Narada bertanya: “Adi Guru, kita akan kemana?” Batara Guru: “Kita akan ke Kawah Candradimuka.”
Narada: “Untuk apa?”
Guru: “Minta tolong Pandawa, Kresna dan Setyaki.”
Narada: “Lhooo…, huaaa…ha…ha…ha…kek-kek-kek…”
Melihat reaksi deputi-nya itu, Sang Hyang Guru cemberut.
Dialog ini ada dalam pergelaran wayang kulit purwa, dengan ceritera Pandhowo Pitu, yang digelar oleh Yayasan Putro Pendhowo pimpinan pak Kondang Sutrisno. Ki Sayoko Gondoseputro yang pada malam itu, Minggu, 26 Desember 2010, bertindak sebagai songo-singaning dalang – istilah pak Ragil/MC - telah mampu memukau sekitar 1.000 penonton, yang memenuhi halaman gedung warga RW 05, Harapan Baru, Bekasi. Atas permintaan ibu Kondang Sutrisno, yang adalah putri thing-thing Ponorogo, pergelaran didahului dengan pertunjukan Reog Ponorogo. Dalam kesempatan ini, Panitia Penyelenggara telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp.5.920.000,-- dari para penonton, untuk merampungkan pembangungunan Majid Al Iman. Pergelaran yang ramai dan lucu bertrambah gayeng, ketika pelawak Gogon ikut nimbrung didalamnya.
Menyalahi aturan.
Diawali dengan kehendak Bima untuk membentuk kelompok baru, yang disebut Pandhowo Pitu. Kelompok ini di-veto Sang Hyang Guru, karena dianggap menyalahi aturan. Yang benar, Pandawa itu lima bukan tujuh. Akibat veto itulah, maka Bima dimasukkan kedalam Kawah Candradimuka. Puntadewa, Arjuna, Nakula, Sahadewa, Kresna, dan Setyaki dolider. Mereka ikut mesuk kedalam kawah. Anehnya, kawah yang biasanya bergolak makantar-kantar bila ada nyawa koruptor dimasukkan kesitu, kali ini justru menjadi padam, membawa hawa sejuk, ayem-tentrem. Lebih dari itu, justru para Pandawa dapat berjumpa dengan ayahandanya Pandu beserta ibu tirinya Madrim.
Ketika Betara Guru minta pertolongan agar Pandawa bersedia menyingkirkan dua raksasa kembar, Kresna sebagai juru bicara Pandawa mengatakan: “Kami sanggup asal paman Pandu dan bibi Madrim dibebaskan dari hukuman.”
Narada: “Setujuuu……”
Guru: “Lho… itu kan porsi saya.”
Harada: “Huaa……ha……ha……ha……hi-hi-hi…kek-kek-kek…”
SUD







