Tokoh Perempuan dalam Pewayangan

E-mail Print PDF

Oleh : Parwatri Wahyono (Guru besar bidang Ilmu Susastra Universitas Indonesia

Makalah : untuk Seminar & Pagelaran Wayang Komunitas Wayang Universitas Indonesia di FIB UI Depok, 17 Mei 2008

 

PENDAHULUAN

 

Pada tanggal 26 Agustus 1996 saya berbicara tentang Tokoh Wanita dalam Pewayangan pada Seminar dan Sastra di Universitas Kristen Petra Surabaya. Kali itu saya juga akan mengutarakan tokoh-tokoh yang sama ditambah dengan tokoh lainnya agar berbeda. Dalam Seminar Wanita yang lampau saya mengetengahkan tokoh-tokoh yang boleh dikatakan tokoh ideal, yang menonjol, karena kata “wanita” yang berasal dari bahasa Sanskerta Vvan, vanita adalah perfect passive participle, berarti yang diidamkan, yang dicintai, yang diinginkan (macdonell, 1958 : 268). Jadi saya pilihkan tokoh-tokoh yang menjadi idola, telah (sangat) dikenal, atau sangat menonjol perannya karena sesuatu hal menjadi idola, telah (sangat) dikenal, atau sangat menonjol perannya karena sesuatu hal yang khas, yang dimilikinya, jadi tentu saja yang jelas positif. Kini dengan judul yang berbeda, yang diberikan oleh Panitia, Tokoh Perempuan dalam Pewayangan”. Kata “perempuan” berasal dari kata “empu” yang berarti gelar kehormatan untuk “tuan”, empu jari adalah ibu jari, jempol’ (KBR, 1983 : 558-9) atau inti kunyit/umbi-umbian tanaman obat (empon-empon) yang besar, ahli, pandai keris, pujangga (Poerwadarminta, 1939 :121). Jadi saya ambil yang mengandung arti “gelar kehormatan” atau juga “yang pantas dihormati”, meskipun dalam hal para tokoh ini memiliki sesuatu yang kontroversial.

 

Penjelasan ini saya maksudkan agar makalah ini tidak disebut plagiat (walaupun yang mengarang adalah saya sendiri juga), karena dalam penilaian akademis untuk kum kenaikan pangkat, satu karangan yang sama bila dibawakan di forum yang berbeda/walaupun dalam bahasa yang berbeda, akan dianggap sebagai plagiat dan tidak dinilai, bila tidak disebutkan bahwa makalah tersebut pernah dibawakan atau disebutkan sebagai acuan, justru penulis akan mendapat gelar plagiator.

 

Sumber data yang dipergunakan di sini adalah karya sastra Jawa yang tokoh-tokohnya tokoh pewayangan seperti lakon-lakon wayang, sastra wulang atau sastra ethik, serta Ensiklopedi Wayang (Senawangi 2004). Karya sastra wayang yang dimaksud adalah karya sastra jawa klasik dengan siklus Lokapala, yakni Serat Arjunasasrabahu (R. Ng. Sindoesastra), dari siklus Mahabarata : Serat Partakrama (1932), Sumbadra Larung (1933), Srikandhi maguru manah (1932) ketiga-tiganya karya R.Ng. Sindoesastra juga, semuanya masih tertulis dalam huruf Jawa terbitan Batawi Centrum yang kemudian bernama Bale Pustaka, dan dari Mahabharata Kawedhar (R.M. Soetarto Hardjowahono, majalah bulanan dalam bahasa Jawa dari no. 1/th 1 Januari 1936-no. 12/th II Desember 1937), karya sastra dalam bahasa Indonesia karya Sindhunata, Anak Bajang menggiring angin (1993), dan sebuah sastra ethik Serat Candrarini karya R. Ng. Ranggawarsita, yang menjadi judul skripsi sarjana saya (berbahasa Jawakrama, 1975) dan saya edit dan sempurnakan dalam bahasa Indonesia, dimuat dalam jurnal Makara, 2004. Saya menganggap keteladanan yang terkandung dalam karya sastra dari abad XIX yang satu ini masih relevan untuk zaman sekarang, walaupun tentu banyak yang menyebutnya kontroversial, namun saya melihat dari sisi lain yang lebih komplek, yakni dari sudut pandang sastra, religi, sejarah, politik, sosial dan psikologis. Sumber dari kitab Jawa Kuna adalah Adiparwa (Siman Widyatmanta, 1950), sedang dari siklus Ramayana saya ambil Serat Rama (R. Ng. Jasadipoera, 1925, huruf Jawa).

 

Cerita/Lakon Wayang

 

Cerita atau lakon wayang diambil dari siklus kosmogoni, siklus Lokapala, Ramayana dan Mahabharata. Cerita yang berasal dari khazanah sastra India ini masuk ke Jawa kemudian digubah kembali oleh pujangga Jawa, disesuaikan dengan alam pikiran Jawa, sehingga oleh orang Jawa cerita itu dianggap betul-betul terjadi di Jawa dan raja-raja Jawa adalah keturunan tokoh-tokoh dalam cerita wayang tersebut.

 

Kosmogoni menceriterakan tentang asal mula alam semesta beserta isinya, pantheon Hindu dll. masuk ke Jawa melalui proses alih bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuna. Kitab Mahabharata (SKrt) menjadi Mahabharata yang terdiri atas 18 parwa (bagian) dalam bahasa Jawa Kuna : Adiparwa, Sabhaparwa, Ud-yogaparwa, Bhismaparwa, Asramawasanaparwa, dst.

 

Siklus Lokapala mengisahkan Prabu Arjunasasrabahu, dalam sastra India (Skrt) terdapat pada Uttarakandha, digubah dalam bahasa Jawa Kuna prosa dengan judul Utarakandha, dan dalam bentuk kakawin (puisi) Arjunawijaya. R.Ng. Sindusastra menggubah cerita Arjunasasrabahu ke dalam puisi Jawa klasik (macapat) dalam enam jilid (aksara Jawa) dengan judul Serat Arjunasasrabahu, Bale Pustaka 1931, 1932.

 

Siklus Ramayana mengisahkan kehidupan Rama dan Sinta. Di India cerita Ramayana terdapat dalam banyak versi : Ramayana Walmiki, Raghuvamsa Kalidasa, Setubandha Pravavasena, Adhyatma Ramayana dalam berbagai bahasa : Sanskreta, Hindi, Tamil dll. Ramayana Jawa Kuna kakawin dalam huruf Jawa edisi Kern (1900) digubah oleh R.Ng. Jasadipura ke dalam puisi Jawa klasik berjudul Serat Rama dalam dua jilid, diterbitkan oleh Bale Pustaka 1925. Gubahan cerita Rama dalam bentuk prosa Jawa Baru prosa dikerjakan oleh Imam Supardi dan Surohamidjojo dengan judul Ramayana, diterbitkan oleh Penyebar Semangat Surabaya, 1962, dan judul Sita, Sejarah dan Pengorbanan serta Nilainya dalam Ramayana oleh Imam Supardi, 1962. Dan tentunya masih banyak cerita-cerita Ramayana dan Mahabharata dalam bentuk lain, seperti komik karya Kosasih pada tahun 60-an.

 

Siklus Mahabharata menceriterakan kehidupan para Pandawa dan Korawa, sejak lahir, masa kanak-kanak dan dewasa sehingga perang Bharatayuda.

 

Tokoh-tokoh Perempuan Dalam Pewayangan

 

Untuk mendapatkan gambaran seorang tokoh dapat dilihat dari penokohan atau aspek-aspek perwatakannya. Ada tiga dimensi yang dimiliki seorang tokoh, yang merupakan struktur pokoknya, yaitu fisiologis, sosiologis dan psikologis.

 

Dari segi fisiologis, (segi penokohan) tokoh utama adalah 1) tokoh yang pemunculannya dalam cerita itu paling sering, 2) tokoh yang menyebabkan perubahan (yang menggerakkan cerita) (Oemarjati, 1971:67).

 

Dalam kajian ini tokoh-tokoh wayang perempuan akan dilihat dari segi sosiologis dan segi psikologisnya. Tokoh-tokoh dilihat watak dan perilakunya sebagai tokoh yang utama. Budaya Jawa mengenal tiga jenis watak yaitu nistha, madya, dan utama. Watak dan laku nista adalah sifat dan perbuatan yang hina. Dalam pewayangan tercermin dalam watak dan perbuatan tokoh-tokoh yang disimping (dijejer, dipajang) di sebelah kiri, tokoh-tokoh hitam, pelaku kejahatan, yakni bangsa raksasa, Korawa, yang dalam hidupnya sangat banyak melakukan tindakan yang tercela dan selalu membuat onar. Watak dan laku/perbuatan madya adalah watak dan perbuatan yang pantas (samadya, cukup, sedang), artinya yang baik, tidak jelek, tetapi bukan yang sangat atau ter-baik, hal ini dikaitkan dengan perannya dalam lakon. Seperti sebenarnya seorang tokoh baik wataknya, tetapi karena terpaksa, harus melakukan tindakan yang kurang baik, misalnya harus berbohong, tetapi itu demi kebaikan (dora sembada). Watak atau perbuatan yang utama, yakni watak atau perbuatan yang sangat baik, sangat terpuji, yang Maespati?Prabu Arjunasasra dikerahkan memerangi kerajaan Magada. Mereka ketakutan menghadapi kehebatan musuh, lalu berlarian meninggalkan gelanggang. Oleh Patih Suwanda para raja tersebut dijatuhi surat yang isinya mengingatkan agar mereka hendaknya tidak berjiwa kerdil, melakukan perbuatan nista, lari dari peperangan. Kita simak kutipan berikut:

 

Sagung nrepati manggala, away tan murih utami, apan ya Gustinira, maha prabu Maespati, nistha madya tinampik, mung utama tetepipun, kang linampahan, sireku para narpati, tinggal madya padha ngarepake nistha.

 

Semua para raja, pemimpin, janganlah melakukan tindak yang tidak utama, karena gustimu Maha Prabu di Maespati menolak perbuatan yang nista maupun madya, hanyalah perbuatan yang utama yang dilakukan. Kalian itu raja,tetapi malahan meninggalkan perbuatan yang baik dan justru mengedepankan perbuatan hina.

 

Selanjutnya dikatakan oleh Patih Suwanda, raja yang demikian itu melakukan doa dosa, yaitu pertama dosa kepada gusti (tuannya), karena tidak mematui tatakrama, betul-betul meninggalkan watak watak utama. Sang Prabu Sri Arjunasasra di Maespati sikapnya di dalam merengkuh semua raja bawahannya dianggap saudara, semuanya dianggap anak. Tidak rela bila sampai menemui hal-hal yang tidak baik, berusaha agar semuanya mendapatkan yang baik, dan bila kelak mati, dijaga, dilindungi Tuhan. Kini menghadapi tugas, (begitukah) perilaku perbuatan mereka! Jangankan membalas budi, sedang menjaga dirinya sendiri saja tidak dapat, tidak urung menemui kematian yang hina.

 

Dosa yang kedua adalah dosa kepada Tuhan, ditakdirkan sebagai raja namun mencari mati yang hina nista. Semua lari dari peperangan, takut kesaktian musuh, itu (bukan main!), hebat, itulah nista-nistanya raja. Siapapun yang lari meninggalkan gelanggang tetap orang urakan (terjemahan bait-bait dalam Sindusastra, 1932)

 

Tokoh-tokoh wayang perempuan yang dibicarakan di sini dipilih berdasarkan atas deskripsi perannya yang menonjol dalam lakon wayang dan mempunyai keistimewaan/kekhasan tersendiri. Ada tiga siklus kehidupan wayang, berturutan dari siklus yang paling tua adalah 1) siklus Kosmogoni, kemudian 2) siklus Lokapala, lalu 3) siklus Ramayana, dan 4) siklus Mahabharata.

 

  1. Siklus Kosmogoni

 

  1. Tokoh perempuan dari siklus kosmogoni yang paling utama dan tertekan adalah Dewi Sri. Dalam budaya Jawa terutama sangat dikenal dan diakrabi oleh para petani. Dewi Sri atau sering disebut “mbok Sri” adalah dewi padi, lambang kesuburan. Dewinya sandang pangan. Setiap hendak memulai menanam padi, petani mengadakan upacara miwiti/wiwit, mohon berkah agar nantinya padi dapat tumbuh subur dan panen yang berlimpah. Demikian pula sewaktu akan memetik/menuai padi juga diadakan upacara. Setelah panen masyarakat petani mengadakan syukuran masal, metri desa/bersih desa, dengan membuat tumpeng besar/gunungan yang nantinya dibagi-bagikan kepada/dinikmati bersama masyarakat, dan biasanya disertai dengan pergelaran wayang kulit dengan lakon dewi Sri Boyong/Sri Mulih/Sri Mantuk sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dan ungkapan terima kasih kepada Gusti kang Akarya Jagad.

 

Dalam Hinduisme Dewi Sri adalah sakti Dewa Wisnu, sang pemelihara dunia. Sesuai dengan darma Dewa Wisnu sebagai pemelihara dunia, Dewi Sri adalah kekuatan/spirit yang menjadikan dunia tetap terbentang, oleh karena itu orang Jawa menganggap dewi Sri sebagai leluhur, nenek moyang, dewi padi, dewi kesuburan, dewi kemakmuran. Sebagaimana Batara Wisnu yang setiap kali berinkarnasi, maka Dewi Sri juga selalu mengikuti sebagai isterinya. Sebagai Dewi Widowati di Lokapala, sebagai Dewi Sukasalya di Ayodya, di Maespati sebagai Dewi Citrawati, isteri Prabu Arjunasasra, sebagai Dewi Sinta di Mantili, isteri Sri Rama. Sebagai Wara Sumbadra, isteri Arjuna, di sini Batara Wisnu tidak saja menitis kepada Arjuna tetapi juga kepada Kresna.

 

  1. Dewi Uma permaisuri Batara Guru dikenal sebagai ibu Batara Kala, yang kemudian, sampai kini dikenal dalam tradisi ruwatan. Sebagai Batari Durga menjadi penguasa jim peri perayangan, ilu-ilu banaspati, gojobarat di hutan Kredhawahana atau kahyangan Setragandamayit, dipuja oleh para pemohon berkah untuk perbuatan yang negatif, contohnya seperti Korawa.

 

Dalam Ensiklopedi Wayang Indonesia (1999:1380-2) digambarkan kelahiran Dewi Uma disertai kegoncangan alam, gunung-gunung meletus, gempa bumi dan badai. Ia dilahirkan oleh Dewi Nurweni, putri raja jin, tidak berupa bayi biasa, berujud segumpal cahaya merah yang melesat ke angkasa, melayang ke sana kemari, tidak bisa ditangkap ayahnya, Umaran yang mengejar. Cahaya itu hinggap di pucuk gunung Tengguru yang dikuasai para gandarwa. Di situ ayahnya bersemadi mohon agar anaknya diujudkan manusia, tanpa menyebut laki atau perempuan. Doanya terkabul, tetapi bayi berkelamin ganda (beberapa dalang mengatakan kelainan kelamin wanita yang tidak berlubang (bagapuru), diberi nama Umiya (artinya “anak ibu”). Ia tumbuh cantik dan suka menuntut ilmu, dan bertapa. Akhirnya ia menjadi sangat sakti dan ingin menjadi panguasa dunia. Batara Guru mendengar kesaktian Uma. Ia ingin menemui Uma tetapi dipermainkan olehnya. Uma berubah menjadi ikan turbah, diburu batara Guru, nyaris tertangkap berubah jadi gadis cantik melesat terbang ke angkasa. Demikian kejar mengejar itu terjadi, selalu tidak dapat tertangkap. Batara Guru kesal, lalu mohon bantuan Hyang Wenang agar diberi dua tangan lagi supaya dapat menangkap Uma. Sejak itu batara Guru bertangan empat. Uma tertangkap, dihukum dengan mencabut kesaktiannya. Uma diruwat sehingga menjadi gadis yang sempurna, kemudian diperistri batara Guru. Kemudian hari karena suatu hal mereka bertengkar dan Uma dikutuk menjadi raseksi dan diberi nama batari Durga, ditempatkan di Setragandamayit sebagai rajanya para demon.

 

  1. Siklus Lokapala.

 

  1. Dewi Citrawati, adik Prabu Citragada, titisan Dewi Sri, yang menunggu lamaran raja Maespati, Sri Arjunasasra, sebagai titisan Batara Wisnu dapat kita ketahui dari kitab Arjunasasrabahu yang berbunyi sebagai berikut :

 

Mengko sun tuturi siro, panjalmanireng Dewi Sri, dumunung aneng Magada, nuksmeng retna Citrawati, putri kalok ing bumi, ing pramudita pinunjul, padha wae lan sira, brangtaning tyas Citrawati, iya nganti panuksmanira Kesawa (Sindusastra, 1932, IV:7)

 

(Sekarang kuberitahu kamu, penjelmaan Dewi Sri berada di Magada, menjelma pada Retna Citrawati, putri yang tersohor di dunia, unggul di antara seisi bumi. Sama dengan kamu kerinduan Citrawati menanti penjelmaan batara Wisnu)

 

Panuksmaning sanghyang Wisnumurti, kang tansah den Antos, pan ing nguni pasthi ubayane, sagah lamun anjalma manitis, marang Maespati, nggenira dumunung.

 

(Penjelmaan sanghyang Wisnumurti yang senantiasa ditunggu, dahulu sudah pasti janjinya, sanggup menjelma menitis ke Maespati)

 

Anuksma ring Arjunasasra di :adhuh dewaningong, apa Baya wurung panjalmane, yen sidaa nggenira mastitis, lawase Samangkin, sayekti wus timbul (Sindusastra, ibid : 14).

 

(Menjelma kepada Arjunasasra yang tampan: wahai dewaku, mungkinkah urung menitis? Bila jadi menjelma, sedemikian lamanya Sekarang tentu telah timbul)

 

Dalam kitab Arjunasasrabahu putri yang biasa cantik dan anggun serta kebesarannya dilukiskan sebagai berikut :

 

Langen-langening pasir myang wukir, wus ilang nuksma mor, marang Putri Magada langene, langen-langening bumi myang langit, ngumpul Dadi siji, marang sang dewa rum.

 

(Keindahan pantai dan gunung hilang menjelma bersatu pada keindahan diri putri Magada. Keindahan bumi dan langit berkumpul menjadi satu pada yang paling cantik dari para dewi)

 

Miwah kembang-kembang ing sabumi, sarine tanpa don, yayah

Muksa kabeh wewangine, ngumpul marang ing dyah Citrawati, tuhu

panuksmaning, Sri sang dewaning rum.

 

( Dan sari-sari bunga sedunia seakan lenyap wanginya, berkumpul pada dyah Citrawati, sungguh penjelmaan Dewi Sri, dewi dari yang paling cantik).

 

Pantes dadya gustining parestri, musthikaning wadon, jro supena

tanana tondhene, para putri sabawa kadi, sapantese anyethi, marang

dewaning rum.

 

(Pantas menjadi tuan para wanita, mustika para putri. Dalam mimpi tiada

bandingnya, para wanita sedunia sepantasnya mengabdi kepada sang dewi,

dewi dari yang paling cantik)

 

Pan inguni wus kawetu saking, kidung sang sinom,

batara Brama kasor garwane, dewi Ratih miwah

Rarasati, pantes awotsari, mring sang dewaning rum.

 

(Bukankah dahulu telah lahir dari kidung sang putri,

permaisuri barata Brahma kalah. Dewi Ratih dan Rarasati

pantas menyembah kepada dewi dari yang paling cantik).

 

Gambaran keluhurannya 9prabawa, daya, pengaruhnya) yakni karena kecantikannya Banyak raja menginginkannya menjadikan permaisuri baik dengan jalan damai maupun dengan kekerasan, menyebabkan negaranya dirundung bahaya perang seperti tercermin dalam kutipan berikut :

 

Duk samana sang raja pinutri, lagya sru wirangrong, dene

ingkang rama nyar sedane, ingkang rayi duk jumeneng aji

gung oreg prajeki, wit sariranipun.

 

(Pada waktu itu sang putri raja sedang sedih sekali karena

Ayahnandanya baru wafat. Ketika adindanya menduduki

Tahta Negara mengalami huru hara peperangan karena dirinya)

 

Ingkang karya rudahing nagari, kathah para katong, kang

Samya mrih marang sarirane, anglalamar tan kena tinampik,

Sedyane paraji, misesa prang pupuh (Sindusastra, ibid : 14)

 

(Yang menjadikan kesusahan Negara, banyak raja menginginkan dirinya, meminang, tidak mau ditolak. Para raja hendak memaksa dengan peperangan.

 

 

Dewi Citrawati sebagai titisan Dewi Sri adalah putrid yang mulia dan agung. Perkawinannya dengan Arjunasasra dengan persyaratan maskawin yang berupa memenangkan sayembara perang dan memenuhi bebana ( permintaan) madu (maru) 800 (domas) orang putri raja.

 

Gambaran yang diberikan dalam Ensiklopedi Wayang Indonesia (1999 : 392-3) Citrawati membawakan karakter wanita yang selalu ingin memanfaatkan kekuasaan suaminya untuk kesenangan sendiri, dengan minta taman Sriwedari dipindahkan dari kahyangan Untarasegara ke Maespati. Hal ini dilaksanakan oleh Patih Suwanda dengan bantuan adiknya, Sukasrana. Kemudian minta agar sungai Gangga dibendung untuk berenang-renang dengan para dayangnya. Prabu Arjunasasra triwikrama dan tidur melintang sungai sebagai bendungan. Air bah menggenangi perkemahan Rahwana, yang kemudian mengamuk. Dalam peperangan ini Patih Suwanda gugur.

 

Menurut pendapat saya gambaran yang diberikan oleh Sindusastra lebih bias diterima. Tentang pemindahan taman Sriwedari dan [embendungan bengawan Silugangga memang itu terjadi, berkaitan dengan jalinan karma Sumantri (Patih Suwanda) dengan adiknya, Sukasrana.

 

Sumantri yang tampan dan sakti, yang menurut Serat Tripama pantas dijadikan teladan bagi para prajurit dengan pengorbanannya untuk rajanya, Arjunasasra, dengan memegang teguh tiga prinsip : guna, kaya, purun (kepandaian, harta dan keberanian), tetapi ia sombong, malu tidak mau diikuti adiknya yang berujud rasaksa bajang tetapi sangat sakti. Selalu mengingkari janji, bahkan sampai menakut-nakuti dengan membidikkan anak panah yang ternyata betul-betul melesat mengenai adiknya. Sebelum kematiannya Sukasrana yang sangat mencintai kakaknya berpesan bahwa ia akan menjemput bersama-sama ke alam kelanggengan nanti bila kakaknya, Patih Suwanda berperang dengan raja Alengka, Dasamuka.

 

  1. Dewi Sukesi, putrid raja rasaksa Sumali di Alengka dengan Dewi Danuwati, Danuwati putri raja Mathili. Walaupun berujud rasaksa namun Prabu Sumali berwatak pandita keturunan batara Brama. Putrinyapun cantik dan berbudi luhur, tidak ada yang mengira putrid seorang rasaksa. Oleh Sindusastra digambarkan :

 

Warnane dewi Sukesi, tan mantra putrining ditya, ngasorken resmining

sasi, sasat absari swarga, rajaputri ing Ngalengka, sayekti punjul ing bumi.

(Sindusastra, 1936, I : 23)

 

(Kecantikan dewi Sukesi mengalahkan keindahan bulan, tidak ada yang mengira kalau putrid rasaksa. Seakan-akan bidadari sorga, putriraja Alengka

betul-betul unggul di dunia)

 

Dalam percakapan antara Resi Wisrawa dengan Prabu Sumali pada waktu melamar Dewi Sukesi, diceritakan oleh Sumali dalam Serat Arjunasasrabahu sebagai berikut :

 

Kalamun mijila priya, putra tuwan pun Sukesi, memper lan

pun Wisrawana, limpad pasanging lelungid, wasis pratameng

kawi, saliring lukita putus, tatas titising sastra, emane mijil

pawestri, alit mila denya karem ulah sastra.

 

(Seandainya dia lahir sebagai pria, putramu Sukesi itu mirip

Wisrawana. Ia sangat cerdas, tajam perasaannya, pandai dan

Luwes berbahasa (berbicara), pandai tentang segala ilmu. Sayang lahir sebagai wanita, sejak kecil senang berolah ilmu).

 

Pan ing mangke diwasanya, dadya lok liyan negari, kathah para

raja-raja, kang prapta ngebun-bun enjing, wangsul samya tinampik,

putranta pratignyanipun, benjing purun akrama, lamun

antuk satriya di, tuwin para ratu kang saged narbuka.

 

(Kini telah dewasa, menjadi buah bibir begara lain, banyak raja dating meminang, semuanya kembali, ditolak. Ia bersumpah, hanya mau

menikah dengan satriya yang luhur atau raja yang dapat menjelaskan)

 

Artine kang sastra cetha arjendra hayuning bumi, malah prasetyanira,

Seksi ing para maharsi, kinarya pasanggiri, yen tan antuk ratu punjul. Ingkang saged narbuka, wahananing kang sastradi, prasetyane

wahdat datan arsa krama

 

(makna sastra cetha arjendra hayuning bumi, bahkan sumpahnya yang disaksikan oleh para maharesi, dijadikan sayembara, bila tidak mendapatkan raja yang unggul, yang dapat menjelaskan ilmu luhur tersebut, ia akan wadat, tidak menikah)

 

Kini putramu dicegah oleh kemenakan, Jambumangli bertindak sebagai penghalang. Kepada semua rajaadiknya dijadikan sayembara perang. Agar dapat mendapatkan jodoh raja perwira dan sakti, yang dapat menandingi kekuatannya.

 

Jadi sekarang janji nini putrid tertutup, terhalang, yang kelihatan hanya sayembara perang, akal si Jambumangli. Ia seperti mempunyai maksud, menginginkan Sukesi tetapi tidak berani menyampaikan kepadaku. Dan yang kedua tidak sanggup menjelaskan arti ilmu itu.

 

Adapun teks Arjunawijaya yang disebut di atas (pupuh I, 8-13) yang kiranya menjadi “ngelmu” sastrajendra hayuning rat adalah bait yang ke 11, yang berbunyi :

 

Ndan sang pandita dibyacitta wihikan karyanya

sang stryahajong nghing putreki ginongnya mongha

sedeng ing pujatibhakti n teka ………..(11)

 

Nah, ang pendeta yang bijaksana itu tahu akan tugas

Sang putrid yang cantik jelita itu, yakni hanya putralah

yang diinginkannya, maka ia (putrid itu) dating pada

saat ia (sang pendeta) sedang mengadakan pemujaan

dengan sangat hormatnya ………… (11)

 

Kata sang strihajong menjadi sa stryhajong, lalu menjadi sastrahajong, hajong artinya sama dengan hayu, dalam bahasa Jawa hayu, hajeng adalah sinonim; rahayu, rahajeng, raharja, kemudian sastra hayu menjadi sastraharja, dan berkembang seperti yang disebut di atas.

 

Tokoh Dewi Sukesi memang bukan tokoh idola masyarakat Jawa, akan tetapi dibicarakan si sini karena perannya yang unik. Alam pikiran Jawa daoat menerima konsep Hindu tentang hokum karma, peningkatan taraf kehidupan dari ujudrasaksa menjadi ujud ksatria dengan penyesuaian genetika modern dari Hendel. Dalam kaitannya dengan perkawinan resi Wisrawa, menunjukkan bahwa sangatlah berat mempertahankan predikat satriya pinandhita. Ada satu tuntutan Sabda Pandhita Rat, yakni apa yang diucapkan oleh seorang pendeta atau raja, hendaknya dapat dipegang dan dipenuhi, jadi ada satunya kata dan perbuatan.

 

  1. Siklus Ramayana

 

  1. Dewi Sinta. Tokoh ini sangat terkenal di terutama setelah lahirnya sendratari Ramayana di Prambanan sejak tahun 1960 serta meningkatnya pariwisata Indonesia.

 

Dewi Sinta putrid raja Janaka di negeri Manthili. Penjelmaan dewi Sri ini dipersunting oleh Sri Rama setelah memenangkan sayembara mengangkat busur pusaka kerajaan. Sinta adalah tipe wanita yang setia. Putri cantik ini memilih mengikuti suaminya hidup dalam pembuangan selama 14 tahun dari pada hidup mewah di istana. Hidup dalam kemewahan namun terpisah dari suami, bagaikan hidup di neraka, namun hidup berdekatan dengan suami walaupun dalam kesengsaraan adalah sorga, demikian kata-kata keiikhlasan sang dewi yang terlukis dalam cuplikan kisah Ramayana berikut :

 

Onak dan duri bagaikan sutradewangga bagi dinda, apabila dinda diperkenankan selalu berada di samping kakanda. Rumput-rumput di dalam hutan bagaikan permadani, sedangkan pohon-pohon yang rindang bagaikan istana yang megah, asalkan adinda membayangi perjalanankanda selama dalam pembuangan. Apakah artinya waktu 14 tahun apabila kita jalani suka sama suka, duka sama duka , duka bersama, sebaliknya 14 tahun dinda akan terasa bagaikan 14 abad apabila dinda akan ditinggal seorang diri di sini (Supardi, 1962:29)

 

dhuh kakangmas, dununging katresnan kula, kula boten niyat noleh dhateng sanesipun priya, kejawi dhateng paduka, sarta kula prasetya badhe ngayut tuwuh bilih katilara.

 

duhai kakanda tempat curahan kasih saying, saya tidak berniat menoleh kepada priya selain kanda, dan saya bersumpah akan bunuh diri bila sampai kanda tinggalkan.

 

dhuh kakangmas, pisah kawula lan paduka punika naraka tumrap kawula, nanging celak kawula lan paduka, dununging kaswargan kawula. Manawi kula lapeksa katilar, kapejahana kemawon ruwiyin amargi temtu kula lampahi. Punapa kula saged pisah kaliyan paduka 14 tahun laminipun? (Supardi dan Surohamidjojo, 1962 : 23)

 

Duhai kakanda, perpisahanku dengan kanda merupakan nerakan bagiku, tetapi berdampingan dengan kanda itulah sorgaku, Bila saya terpaksa ditinggal, lebih baik kanda bunuh saja dahulu, karena pasti saya tidak akan kuasa menyangga betapa berat kesangsaraan yang akan saya jalani Daparkah saya berpisah dengan kanda selama 14 tahun?

 

Barang-barang perhiasan ratna mutu manikammilik dinda akan kami bagi-bagikan kepada semua isi istana ini, sedikitpun tidak akan ketinggalan (Supardi, ibid : 30)

 

Demikian gambaran Dewi Sinta, wanita yang mulia, yang tidak terikat akan kebendaan. Iapun tidak mempunyai watak membenci dan bukan wanita pendendam. Ia tetap hormat dan bakti kepada dewi Kekayi yang menyebabkan kesengsaraannya. Hal initerlihat pada sikapnya sewaktu mohon diri meninggalkan Ayodya menuju ke hutan.

 

Dalam pembuangan ia diculik Rahwana dan ditawan di taman Argosoka di Alengka. Ia menolak dijadikan permaisuri, bahkan akan bunuh diri kalau sampai Rahwana menyentuh kulitnya. Demikianlah keteguhan iman dewi Sinta.

 

Dalam peperangan Rama dan Rahwana akhirnya Rahwana mati. Penderitaan Sinta belum berakhir. Setalah bebas dari tawanan, ia harus membuktikan kesuciannya kepada rakyat Ayodya dengan masuk ke dalam api tumangan. Dewi Sinta yang setia dan suci tidak hangus terbakar bahkan tubuhnya bersinar bagaikan mas. Versi lain Sinta membuktikan kesuciannya dengan cara kembali ke pangkuan ibu pertiwi, masuk ke bumi yang membelah diri. Ia adalah putrid Dewi Sudara, dewi bumi (Supardi & Surohamidjojo, ibid: 112).

 

Dewi Sinta adalah titisan Dewi Sri, permaisuri batara Wisnu yang berkewajiban memelihara dunia. Pasangan Sri Rama ini harus dibebaskan dengan memusnakan keangkara murkaan Rahwana. Perpisahan Sinta dan Rama untuk meluruskan jalan bagi Rama dalam tugasnya membangun dunia baru memusnakan angkara murka yang digambarkan sbagai Rahwana (Mulyono, 1978 : 58-61).

 

  1. Dewi Anjani, putrid Resi Gotama dengan dewi Windradi. Ibunya berselingkuh dengan batara Surya yang memberinya cupu manic astagina. Ketiga putra resi Gotama Anjani dan Sugriwa serta Subali berebut ingin memiliki cupu itu. Ketika ibunya ditanya sang resi dari mana asal cupu itu, ia diam tidak menjawab sehingga sang resi berkata, ditanya kok diam saja seperti tugu. Oleh kekuatan kata-kata sang resi, Sabda Pandhita Ratu, seketika itu juga Windradi berubah menjadi tugu. Cupu manic dibuang, dilempar jauh, jauh di telaga Madirda. Kepada ketiga putranya yang berebut disuruh agar mencari sambil mengatakan, kok seperti kera saja, berebutan. Sesampai mereka di telaga Madirda Anjani membasuh mukanya dan kedua saudaranya langsung menyelam ke dasar telaga. Oleh kekuatan sabda sang resi, muka Anjani berubah menjadi muka kera dan Suiwa Subali pun menjadi kera. Mereka bertiga pulang mohon maaf kepada ayahandanya. Sang ayah menyuruh mereka bertapa. Anjani bertapa nyanthaka, seperti katak, dan hanya makan daun yang jatuh di dekatnya. Suatu hari batara Guru melihatnya terpesona sehingga air maninya jatuh ke daun asam muda yang kemudian dimakan Anjani.

 

Akibatnya Anjani hamil. Anak yang dikandungnya itu lahir dan dikenal sebagai kapiwara Anoman, tokoh pendekar wanaraseta yang utama, salah satu dari lima saudara tunggal Bayu: Bima, raseksa Jajah Wreka, Liman Setubanda dan bagawan Maenaka serta Anoman.

 

  1. Siklus Mahabharata

 

  1. Dewi Kuntinalibrata/Dewi Prita, putri Prabu Kuntiboja. Ia adalah putri utama pamonging Pandhawa, sinatriya kang luhur ing budi. Sewaktu masih gadis berguru kepada begawan Druwasa. Kepadanya diajarkan ilmu/mantram Adityahrdaya, aji pepanggil wekasing tunggal, aji pameling wekasing rasa, mantram untuk mendatangkan dewa (Ensiklopedi Wayang I, 64). Suatu pagi ia tergoda ingin mencoba kekuatan mantram itu, dan datanglah batara Surya. Dari batara Surya ia dianugrahi anak, Karna, yang dilahirkan lewat telinga.

 

Dalam sayembara pilih yang diadakan ayahnya, ia menjatuhkan pilihan kepada Prabu Pandu. Dewi Kunti pun menjadi permaisuri raja Astina. Selain itu Pandu juga memperistri dewi Madrim atas lamaran Resi Bisma kepada Prabu Salya, kakak Dewi Kunthi (Hardjawahana, 1936, I, 6:174-176). Versi lain mengatakan Dewi Madrim adalah tanda kalah dari Narasoma setelah berperang dengan Pandu, seusai pernikahannya dengan Dewi Kunthi.

 

Suatu hari Pandu dan kedua isterinya berburu ke hutan. Lima anak panah Pandu sekaligus mengenai seekor kijang jantan perkasa yang sedang memadu kasih. Ternyata kijang itu brahmana Kimindama. Perbantahan seru terjadi, Pandu dianggap raja yang tidak etis, tidak welas asih kepada sesama. Pandu pun menjawab semua binatang di hutan adalah sah untuk diburu, seperti musuh dalam peperangan, tanpa menunggu korban itu sudah siap untuk mati atau belum. Akhirnya Pandu dikutuk bahwa ia akan meninggal bila sampai mengadakan hubungan intim. Kita simak uraian dalam Mahabharata Kawedhar berikut : (Hardjawahana 1936, 7 : 190-193).

 

Heh nata ing Astina, dhasar pancen nyata saben wong darbe wenang tumindak manut sakarepe dhewe, nanging mesthine kudu ora ninggal tatanan lan kasusilan. Para Wicaksana yekti ora bakal nganggep absah marang sarupaning tindak kang ora manut anggering tatanan lan kasusilan. Heh narendra tedhak Bharata, sira darahing utama, tedhaking ngatapa trahing kusuma rembesing madu; sebab apa dene sira teka kongsi kalakon kendhih dening watak daksiya, nganti kalimput kaduga tumindak sawenang-wenang marang sapadha-padhaning urip?

 

Kendel panguwus-uwusipun sangsam, Prabu Pandhu lajeng mangsuli kaliyan alon, heh menjangan kang bangkit tata jalma, wruhanira munggah tumraping satriya apa dene narendra, buron alas kang kaya sira iku satemene ora beda kaya dene mungsuhe kang kudu pinikut minangka dadi boyongane. Mula kaliru banget manawa sira banjur age-age ngarani yen tindak ingsun iku ora bener Sumurupa buron alas iku satemene kena dipateni sarana patrap kaya apa bae. Dadi lekasingsun iki nyata ora nalisir saka kuwajibaning narendra, kepriye dene sira teka banjur kasusu ngarani Manawa tindakingsun mau luput? Heh menjangan, nalika resi Agastya nedya gawe sesaji, disaranani mbebedhag menjangan. Iya wiwit nalika samana sang maharsi banjur netepake menjangan kang ana alas iku kabeh pancen wus dicawisake kanggo keperluwaning sesaji katur para dewa. Dai anggoningsun nglepasi jemparing marang sira iku satemene wus manut tatacara kang wua tumindak wit kuna makuna, mula lekasingsun iku ora kena yen sira anggep kaliru, jalaran wus miturut lelabuhane resi Agastya inguni. Malah ana wanci kang wus tinamtokake yaiku sajroning sesaji AUM kudu nganggo daging menjangan.

 

Telas pangandikanipun Prabu Pandhu, sangsam jaler ingkang taksih gulasaran ing siti wicanten malih, teka bener banget wuwusmu iku Prabu Pandhu. Nanging apa sira ora sumurup satemene wong ora wenang nandukake gegaman marang mungsuh kang durung samapta? Kenane namakake gegaman iku samsa wus prejanji nalika arep-arepam arsa tandhing yuda. Dadi yen anggone nandukake gegaman ana ing sajrone campuh prang, iku ora luput arane.

 

Dhawuhipun Prabu, heh menjangan tuhu wasis ing wicara, wruhanira, wus jamak lumrahe wong mateni menjangan iku nganggo laku werna-werna, dadi ora perlu mesthi kudu mratitisake dhingin, apa si menjangan wus samekta ing yuda durung, Karo maneh ngendi ana wong arep mateni menjangan kathik nganggo nenantangsarta kudu gawe prajanjen dhisik kaya kang sira karepake iku? Kajaba iku mengko tamenjangan, satemene banget ndhadekake gawoking panggalihingsun, dene sira iku bangsaning sato teka bangkit tata janma serta sumurup marang angger-angger Kasatriyan. Mara sajarwaa, sapa satemene sira iku ?

 

Wangsulanipun menjangan, Heh narendrane bangsa Kuru, aku ora ngluputake anggonmu mateni menjangan sarta ora pisah ngarani kliru kang dadi karepmu. Amung jujuling atimu kang kongsi kaduga nindakake pratingkah daksiya, ing kono dununging kaluputanmu, yaiku dene sira ora sabar nytantekake tumeka rampung anggonku posah-pasihan karo menjangan wadon iki, satemah sira wus njugarake panggawe mulya. Wruhanira Prabu Pandhu, para wicaksana ora bakal kaduga ngreridu apa dene njugarake pakarti mulya.Heh tedhaking Bharata, sira wus linahirake dari narendrane bangsa Porawa, wua misuwur ing jagad tetelu mungguh ing kotamanmu. Apa rumangsamu, lekasmu mau diarani daksiya sawenang-wenang, iya aran panggawe dosa hedhe, memarah ora kajen lan nenuntun marang yomani, mula wus surup manawa sira kena ing sot.

 

Heh Prabu Pandhu, narendra mesti wus nora bakal kesamaran apa mungguh gatining salulut. Heh narendra kang putus marang salwiring kasusulan, benere sira mesthi bisa suminggah saka panggawe kang menuntun marang yomani. Heh pethinganingpara ratu, wajibng nata sanityasa marsudi nanggulangi sakehing tindak daksiya lan sakabehing tindak kang ora manut pepacak agama, apa dene kang ora miturut weakton marang kabekjan sarta kesenengan kaya kang kawursita ing dalem layang sukci. Prabu Pandhu kang tansah tetap ing wajib, mruhanira aku ini kapinujon lagi mancala warna menjangan ana ing alas kene, lan ora tau ngaru biru marang sapepadane tumitah. Saiki aku nemahi sangsara awit saka panggawenira, mula sira mesthi bakal nandhang sotku. Rehne sira wus nangsaya marang titah kang lagi arsa salulut, mula sira mesthi uga bakal nemahi pati samasa sira arsa tuminsak saresmi. Dhuh nata binathara kang wus kasusra ing tri loka, manawa sira arsa sumurup aranku, Kimidama, kang wus antuk nugrahaning dewa saka nggonku tapabrata. Mulane aku mancala warna menjangan, amarga salulut iku tumraping para Brahmana sarta para tapa dudu panggawe kang sukci. Heh ratune bangsa Kuru, mungguh dosanira iku ora dianggep kaya dosaning mateni Brahmana, awit saka sita ora sumurup sapa sajatine kang sira lepasi jemparing, dadi pancen ora nemaha ,ateni Brahmana. Heh nata kang tanpa pangrasa, sira wus nangsya marang aku nalika aku lagi mangunsih, mula pepesthenira iya bakal kaya dene papesthenku. Samasa sira nedya mangun resmi lawan prameswarinira, ing kono tekaning antakamu. Dene sawusira murud ing kasidan, prameswarinira uga bakal sumusul marang alaming pati kalayan rasa sih sarta bekti. Dhuh narendra kang sepen rasa welas, kariya rahayu ana ing marcapada, antenana tekaning antakanira.

 

Kemudian Prabu Pandhu menjalani kehidupan brahmacarya, hidup di hutan diikuti kedua isterinya yang setia. Adapun akhirnya Prabu Pandu dapat menurunkan Pandawa adalah berkat ilmu yang dimiliki dewi Kunti, Adityahrdaya/aji panggendaming dewa/ aji pepanggil wekasing tunggal, tersebut di atas. Ia menginginkan anak dari hyang Darma, dewi keadilan, agar kelak anak itu tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari kebenaran.

 

Mara yayi sira nekakna Dewaning Aadil, supsya sira lan ingsun ora padha kalepetan ing dosa jalaran atmajinara kang bakal lahir saka pangwasane Dewaning Adil tembe ora bakal nindakake sakabehing panggawe sisip.

 

Nalika miyosipun sang jabang bayi wonten suwanten kapiyarsa ing wiyat nguwuh : jabang bayi kang lagi lahir iki ing tembe bakal dadi pepthingane para satriya. Kaprawirane linuwih sarta bakal jumeneng nata binathara ambek adil paramarta sabuwana tanpa sisihan. Bayi sutane Pandu kang pambarep arane Yudhisthira, sudira ing rananggana sarta ora tau nalisir saka ngadil, kautamane misuwur ing jagad tetelu.

 

Kemudian anak kedua yang diinginkan adalah yang kuat sentosa, dan dewi Kunti pun mendatangkan batara Bayu serta memohon :

 

Dhuh jawataning ulun, mugi pun patik pinaringana atmaja jalu ingkang linangkung kasoranipun, minangka pangedhakipun sadaya titah ingkang ambek sesongaran.

 

Miyosipun jabang bayi sinarengan ing gara-gara ……... Sasirepipun gara-gara kapiyarsa suwanten ingawiyat, jabang bayi kang lahir iki ing tembe bakal dadi satriya sekti. Kasorane nggegirisi tanpa timbang ing jagad. …. Kaparingan parab Bima (ibid, 7 : 205-208).

 

Setelah mempunyai dua anak, Pandhu ingin satu lagi, yang seperti batara Indra dengan keberanian, kesaktian dan keluhurannya yang tak ada bandingnya. Untuk itu ia bersama dewi Kunthi bertapa dengan melakukan yoga, berdiri di atas satu kaki dan bersemadi, dari matahari terbit sampai matahari tenggelam. Melihat ketekunan dan kesungguhan keduanya batara Indra pun datang mengabulkan permohonan itu.

 

Heh kaki Prabu, katarima anggonira tapabrata, samengko sira bakal sun paringi armaja jalu kang misuwur ing rat tanpa timbang. Sutanira mau ing tembe bakal tansah gawe kamulyane para Brahmana, sapi sarta manungsa kang becik pambekane, apa dene dari prajurit sekti mandraguna kawawa nyirnakake para ambek candhala, rinaketan dening sagung para ambek utama, linulutan dening sagung para kadang lan pawong mitrane, ora ana mungsuh kang kuwat nadhahi pamuke (ibid, 8:214)

 

Kelahiran anak ketiga ini pun disertai suara menggelegar di angkasa. Setelah sirna gara-gara tersebut kedengaran suara lembut bagai suara gamelan, sayup-sayup sampai :

 

Heh Kunti, mustikaning wanodya, armajanira kang lagi lahir ing iki tembe kasudirane wus tan beda lan hyang Siwah, kasektene ing rat tanpa sama, ing palagan nora bisa kasoran kaya dene bathara Indra. Iya putranira iki kang ing tembe bakal bisa nyembuh misuwure kabeh kadang warga miwah leluhure, sarta tansah gawe bungahing pikirira, kayadene putrane waruju dewi Adati kang peparab bathara Wisnu …. Ing tembe bakal tampa gegaman peparinge hyang Mahadewa kang aran Pasopati langegaman pira-pira maneh saka kaswargan. Mulane ing tembe atmajanira iki bakal bangkit ngrebut nagara jajahan kang wus padha uwal saka regemane bangsa Kuru (ibid 8:216)

Demikian pula atas pengertian dan kasih dewi Kunti, Pandu mendapatkan sepasang anak kembar dari dewi Madrim yang memohon kedatangan dewa Aswin.

 

Jadi kalau kita simak sesungguhnya kisah Mahabharata adalah kisah perjalanan spiritual yang digambarkan sedemikian rupa agar dapat diterima oleh masyarakat umum, artinya yang belum mendalami secara filosofis. Anggapan poliandri dewi Kunti yang melahirkan lima putra, Pandawa, dan juga dewi Drupadi yang menjadi isteri kelima Pandawa, adalah penghayatan spiritual, oleh pikir dalam menciptakan apa yang diidamkan, seperti keinginan dewi Kunti memiliki anak, karena kekuatan pikirnya yang hebat, gedachte kracht yang mendalam, yang diupayakan dengan serius.

 

  1. Dewi Kresna/Drupadi. Ia putri Prabu Drupada di Cempalaradya yang mengadakan sayembara untuk mendapatkan jodohnya. Ada dua versi sayembara itu. Yang pertama, biasanya dalam pewayangan, adalah sayembara barang siapa dapat mengalahkan Gandamana, akan memboyongnya. Pemenang sayembara itu adalah Bima, dan menyerahkan dewi Drupadi untuk kakaknya, Yudistira. Perkawinan ini membuahkan seorang anak, Pancawala.

 

Versi kedua adalah sayembara membentangkan gendewa pusaka Pancala. Sayembara dimenangkan oleh Arjuna. Drupadi diboyong, maksudnya diperuntukkan kakaknya tertua, Yudistira. Dewi Kunti yang tidak tahu bahwa Arjuna membawa pulang seorang putri, seperti biasanya bila Pandawa mendapatkan sesuatu selalu mengatakan agar dibagi rata berlima. Karena ia seorang putri utama, ber budi bawa laksana, kata-katanya harus ditepati, dan itu memang sudah menjadi kehendak dewata agung. Maka Drupadi pun menjadi isteri Pandawa lima dan memperoleh lima putra, urut dari suami tertua: Pratiwindya, Srutasoma, Srutakitri, Satanika dan Srutakarma (Ensiklopedi Wayang 1999:573-478, 1535-1536).

 

Ada versi lain tentang kisah dewi Drupadi dalam Mahabharata. Diceritakan maharsi Wiyasa menjelaskan kepada Prabu Drupadi tentang rahasia kehidupan Pandawa dan Drupadi yang tidak dapat dilihat secara wadag. Dewi Sri akan turut menjelma sebagai Drupadi untuk menjalankan karya agung di dunia. Drupadi harus menjadi isteri belima Pandawa untuk membantu tugas mulia tersebut. Hal ini dapat dilihat pada kutipan berikut :

 

Dhuh Sri Narendra ung Pacala, mugi kauningana sajatosipuntumurunipun dewi Sri Punika dados putri sang retna dewi Drupadi, pramila endahing citranipun ing salumahing bumi sakurebing langit boten wonten inkang nimbangi, saha tumurunipun punika kedah dados jatukramanipun para kadang Pandhawa gangsal, awit sampun keparengipun para jawata dhinawuhan ambiyantu ngrampungaken pakarya agung (ibid, 1937/II,12:339).

 

Dhuh sang maharsi tetunggulingpunpara wicaksana ing triloka, sasampunipun kula saged nyumerapi dhateng jati-jatining kawontenan, sestunipun kula samangke sampun boten badhe suwala ing sakarsa paduka. Panyuwun kula mugi lajeng kadhawuhna punapa ingkang kedak kula laksanani murih jumbuh kalayan keparengipun para jawata ingkang sampun rinantam prelu kangge ngrampungi pakaryan agung, Dhuh sang mahawiku tetungguling para sukci ing bawana samangke kula saged ngakeni tuwin pitados bilih ing donya punika yektinipun boten wonten barang mokal saha kula sumerep bilih sadaya-sadaya punika sampun rinantam dening jawata kangge prelunipun pakaryan agung. Dhuh sang maha yogi memaniking para wicaksana ing jagad smangke kula naming sumarah saha ndherek ing sakepareng paduka.

 

Aturipun Prabu Drupadi sarwi andheku, dhuh sang mahawiku ingkang sampun asoca bathara, rehning duk panjalmanipun dewi Sri ingkang kapengker kagungan panyuwun dhateng dhateng hyang Cangkara supados dipunparingi semah priya linangkung saha panyuwunipun wau dipunambali Ngantos kaping gangsal, lajeng saking keparengipun hyang Cangkara panyuwunipun punika dipunparengaken saha badhe dados jatukramanipun Indra gangsal ingkang samangke sampun manjalma ing Pandhawa gangsal pramila wewadi sesemgkeranipun para jawata wau sapunikanipun sampun babar ing arcapada. Awit saking punika kababaring keparengipun karsa hyang Cangkara wau nadyan silih sulaya kaliyan dat tatacaraning akathah sayekti boten badhe anjalari dhumawahing pidosa samasa dipuntindakaken. Dhuh sang maharsi, mugi padoka pitados bilih lekas kula punika mangke satuhu alelambaran pangawikan miwah piyandel kula niyat ngleksanani keparengipun para jawata linangkung murih rampunging pakaryan agung, dhuh Sang mahayogi ingkang wicaksana, suwawi paduka lajeng keparenga angestreni dhaupipun Pangeran. (ibid, II/12:340-341).

 

Demikian perkawinan dewi Drupadi dengan Pandawa, berganti lima hari berturut-turut mulai dengan yang paling tua, Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa berlangsung secara besar-besaran dan meriah (ibid, 341-346).

 

Kisah putri yang setia mendampingi Pandawa dalam pembuangan setelah kalah main dadu, selalu dalam ancaman Korawa yang ingin membinasakan dengan berbagai cara (Bale Sigala-gala). Sewaktu kalah main dadu ia diseret-seret dengan ditarik rambutnya dari keputren dan dipermalukan oleh Korawa dengan ditelanjangi di tengah arena, namun dewata melindunginya. Drupadi pun bersumpah tidak akan bersanggul sebelum keramas dengan darah dan keset kepala Dursasana (ibid 476). Semula Drupadi tidak boleh mengikuti pembuangan Pandawa, ia harus tetap di Istana akan dijadikan bulan-bulanan Korawa. Berkat kebijaksanaan Resi Bisma yang minta agar boleh ikut menikmati kemenangan Korawa, ternyata diperbolehkan, dan ia memilih minta Drupadi, sehingga Drupadi dapat dikembangkan kepada Pandawa. Pada akhir tahun ke 12 dari pengembangan Pandawa mereka menyamar mengabdi di Wirata. Hidup Pandawa memang diabdikan kepada pekerjaan agung, sebagai satria yang mendarmabaktikan diri kepada masyarakat dan memerangi kebatilan/keangkaraan.

 

  1. Dewi Sumbadra,

 

Dewi Sumbadra, putri Prabu Basudewa ini adalah titisan dewi Sri. Bersama kakaknya, Kakrasana dan Narayana, Lara Ireng (nama kecilnya) ini semasa kecil diungsikan di Widarakandang, diasuh oleh demang Antagopa dan Nyai Segopi. Mereka bertiga selalu diincar oleh kangsa, saudara tirinya. Dalam lakon Semar mbarang jantur, Lara Ireng dan Larasati (anak nyai Segopi) dilarikan ke hutan, menyelamatkan diri dari kejaran Kangsa. Di sini mereka bertemu Arjuna dan ditolong. Pertemuan kembali dengan Arjuna pada lakon Kangsa adu jago. Perkawinannya dengan Arjuna dengan persayaratan maskawin : seratus ekor kebo danu pancal panggung, pengantin naik kereta kencana Jatisura mulik batara Indra, didampingi seorang dewa yang tampan, pengantin putri didampingi seorang dewi yang cantik. Membawa sepasang kembar mayang dewandaru jayandaru, sewaktu kirap diiringi gamelan lokananta ( Lakon Partakrama, Ensiklopedi, ibid : 15333-1534). Persyaratan kembar mayang dewandaru jayandaru ini menjadi tradisi pada perkawinan adat pengantin Jawa sampai sekarang.

 

Tentang perkawinan Subadra dengan Arjuna, dalam Adiparwa diceriterakan Subadra dilarikan oleh Arjuna. Ini adalah siasat Kresna agar dikejar oleh para satria/raja yang menginginkannya, karena tidak ada sayembara. Baladewa marah karena ia bermaksud menikahkan dengan Burisrawa. Ia bertanya mengapa Kresna melakukan hal itu, dijawab oleh Krasna, bahwa putri yang dibeli dengan harta, mas picis rajabrana (kekayaan materi), tidak ada bedanya dengan binatang. Putri utama, putri Ksatria/raja harus dimenangkan dalam sayembara/perang.

 

Lakon Sumbadra Larung mengisahkan Sumbadra bunuh diri karena akan diperkosa oleh Burisrawa.

 

Dewi Sumbadra melahirkan seorang putra, Abimanyu, yang menurunkan Parikesit yang melanjutkan trah Bhatara (sampai dengan raja-raja Jawa).

 

Tokoh Sumbadra, isteri utama Arjuna yang sangat halus budinya danpandai momong maru, merupakan tokoh wanita ideal (pria) Jawa.

 

Dalam Serat Candrarini yang dibuat atas perintah Susuhunan Paku Buwana IX di Surakarta, ada lima isteri Arjuna dijadikan teladan bagi wanita Jawa yang dimadu. Para isteri disarankan agar meniru perilaku dan sifat kelima putri tersebut apabila menginginkan kehidupan rumah tangganya langgeng. Rupanya ada kegoncangan dalam kehidupan masyarakat Surakarta pada waktu itu dengan maraknya poligami. Berikut ini pembahasan kelima tokoh wanita yang dimaksud.

 

Dewi Sumbadra dilukiskan sebagai putri yang sangat menawan, sederhana dalam berhias namun sedap dipandang ngresepake ati, senyumnya selalu terkembang. Bermata sipit indah, bahunya bidang, badan sedang, pembawaannya tenang, halus tutur katanya, tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar. Pemaaf, mengutamakan kebenaran, teguh pendiriannya. Setia dan bakti kepada suami, tidak pernah menolak kehendaknya, sikapnya kepada para madunya seperti kepada saurada, sama sekali tidak menunjukkan sikap terhadap madu pada umumnya wanita. Tidak menaruh syak wasangka, tulus lahir batin, penuh pengertian. Para madunya bersikap mengabdi kepadanya. Arjuna sangat segan kepadanya. Wataknya yang mementingkan hal-hal yang baik, utama ini menunjukkan watak ksatria, sesuai dengan darahnya, putri raja Basudewa di Mandura.

 

  1. Dewi Wara Srikandi.

 

Dewi Wara Srikandi sangat dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya di Indonesia, tetapi sudah mendunia, sebagai seorang prajurit wanita yang tangguh, sehingga tokoh pejuang wanita selalu dijuluki sebagai Srikandi. Putri Prabu Drupadi dari Pancala/Cempalaradya ini adik dewi Drupadi. Lakon yang terkenal adalah Srikandhi maguru manah, di mana ia dilamar oleh Prabu Jungkungmardeya yang kuat. Ayahnya tidak merani menolak karena takut kerajaan diserang. Pada malam menjelang pernikahan Srikandi melarikan diri, ternyata ke Mandura, belajar memanah kepada Arjuna. Jungkungmardeya marah, peperangan terjadi, tetapi akhirnya ia dapat dibunuh Arjuna. Kemudian Pandawa melamarnya untuk Arjuna. Srikandi mengajukan syarat, pertama dalam semalam Taman Maerakaca yang dirusak Jungkungmardeya harus pulih kembali dan kedua minta lawan seorang wanita untuk bertanding memanah. Arjuna dapat memenuhi syarat tersebut. Dewi Larasati dapat memenangkan pertandingan memanah, dan akhirnya dijadikan isteri Arjuna juga.

 

Dalam perang agung Barathayuda Srikandi diangkat menjadi senapati, berhadapan dengan Resi Bisma. Peperangan yang diawali dengan penuh emosi, rasa segan dan hormat serta bakti kepada kakek yang mulia berakhir dengan gugurnya Resi Talkanda, ketika janji yang sudah tiba saatnya, sukma dewi Amba menjemput sukma Resi Bisma yang dicintainya bersama-sama kembali ke alam kelanggengan.

 

Dalam Mahabharata disebutkan Srikandi semula lahir sebagai pria, yang diakukan sebagai wanita menikah dengan putra sang Hiranyawarman. Ketika ketahuan bahwa lelaki, negara terancam perang. Srikandi melarikan diri masuk ke hutan. Di sini ditolong oleh Stunkarna dengan bertukar sex, kemudian kembali ke Pancala. Negeri kembali anam tidak ada peperangan.

 

Dalam Serat Candrarini ia digambarkan sebagai putri raja yang cantik, parasnya bagai bulan, kulitnya bak mas sinangling/digosok, lirikan matanya galak-galak manis, tubuhnya sintal, badannya tinggi semampai. Tutur katanya lepas, gerak gayanya pantas, luwes, memikat, halus budinya. Pandai melayani suami, pandai menyelasarkan busana sesuai dengan waktu dan tempat, menjadi teladan para wanita. Terhadap para madunya sikapnya bersaudara, tidak mudah terpengaruh oleh omongan yang digelar. Ia supel tidak jadi marah, hilang marahnya menjadi sayang, Ia sangat gemar membaca kitab wulang dengan suaranya yang merdu mengalunkan tembang Wisatikandeh. Meskipun sangat disayang Arjuna ia tidak menjadi sombong, sebagai balasannya ia sangat hormat dan bakti dan sayang kepada mertua, dewi Kunti, dengan setiap hari ada saja yang dikirimkannya, dan semua keinginan dewi Kunti dipenuhi. Watak yang demikian ini, mengutamakan kebaikan dan senang menuntut ilmu dengan membaca kitab-kitab wulang menunjukkan watak ksatria, sesuai dengan darah yang mengalir di tubuhnya, sebagai putri raja.

 

  1. Dewi Ulupi,

 

Dewi Ulupi putri resi Kanwa dari pertapaan Yasarata, yang menurunkan Irawan. Kadang-kadang disebut dewi Palupi, anak begawan Sidikwacana (ada yang menyebut Resi Kurawa) di pertapaan Yasarata. Dalam kitab Adiparwa disebutkan Ulupuy adalah putri naga Airawata yang datang menghadap Arjuna pada waktu sedang mengadakan sesaji air dan api di begawan Gangga (Widyatmanta, 1953:102). Dalam Serat Candrarini disebut putri bagawan Kanwa. Digambarkan sangat elok parasnya, sorot matanya para madu bersaudara, pandai melayani apa yang menjadi kemauan suami, momong putra dan abdi. Semua orang di Madukara sayang dan segan kepadanya, hormat dan tertawan oleh perbawa putri pendeta.

 

Watak pendeta tercermin dalam tindak tanduk asih dan asuh.

 

  1. Dewi Gandawati

Dewi gandawati, yang dimaksud disini adalah isteri Arjuna, putri raja Arjunayana di negeri Sriwedari. Dalam pewayangan disebutkan putri Prabu Gandakusuma di negeri Cediwiyasa (Ensiklopedi, ibid 548), ibu Gandawardaya dan Gandasasi yang menjadi isteri Dewakusuma, anak Sadewa.

 

Dalam Serat Candrarini digambarkan sebagai putri yang cantik jelita, kulitnya kuning kehijauan, wajahnya serius, tenang dan santun. Bicaranya halus, gerak gayanya menawan. Tahu membedakan yang baik dan yang buruk (wiweka) Dalam mengabdi suami ia selalu mematuhi perintahnya. Bila marah tidak kelihatan karena disampaikan dengan kata-kata yang manis. Ia sangat terampil akan segala pekerjaan wanita, membuat wewangian hasilnya berguru kepada para bidadari, ini ditularkan kepada para madunya.

 

Dari deskripsi ini terlihat watak dewi Gandawati yang mencerminkan watak ksatria, yang mengutamakan wiweka, selalu memilih perbuatan yang baik daripada yang tidak baik.

 

e. Dewi Manuhara, isteri Arjuna ini dalam pewayangan disebut putri begawan Sidikwacana dari pertapan Andhong Cinawi, ibu dari Pregiwa dan Pregiwati (Ensiklopedi, ibid: 884). Dalam Serat Candrarini ia adalah putri wiku Manikhara dari gunung Tirtakawama. Ia sangat cantik, raut mukanya bak gambar, matanya sipit tapi manis, njait, tenang, wajahnya manis, apalagi kalau berhias, kusut pun kelihatan manis, tubuhnya ramping. Ia sangat bersahabat, kata-katanya manis, tidak tanduknya menawan hati, pandai melakukan hal-hal yang membuat senang hati suami dan para madunya. Sopan santun, supel serta gemar menjalankan puasa dan berolah puja. Deskripsi ini menunjukkan watak brahmana, tidak pernah meninggalkan tirakat dan selalu berolah puja sesuai dengan daya perbawa pendeta yang menurunkannya.

 

Kesimpulan :

 

  • Serat Candrarini sebagai sastra wulang dalam mendeskripsikan fisik, watak dan perilaku kelima isteri Arjuna menunjukkan bagaimana cara sikap dan tindak tanduk wanita gar keselamatan dan kelestarian kehidupan perkawinan terjaga, walaupun dimadu, karena wanita yang bercerita adalah sehina-hinanya wanita.

 

Bagaimana caranya adalah :

  1. Dengan memperhatikan keadaan dan kesehatan badan wadag, dirawat agar senantiasa kelihatan resep (enak dipandang) : yogya ngupakareng dhiri, manjrenih mardi weni, wewida ganda rum-arum, rumarah ngadi warna (1.2).

  2. Memperhatikan pakaian/busana, yang penting keserasian dan sesuai dengan waktu dan tempat (berarti bukan mewahnya, tetapi sopan dan tidak mengganggu kesehatan): bangkit mantes lan memangun, jumbuhing kang busana di, tumrape marang sarira, ing warna tibaning wanci (VI.7), tan pati ngadi busana (II.2)

  3. pemaaf, berusaha agar supel dalam pergaulan, memperlihatkan sikap bersahabat/persaudaraan: amot mengku aksama (II.2), mring maru kadi sudhara rumesep tan walang ati (II.3), tandang tanduke rumengkuh, mring priya myang marunira (IV.4), kinawruhan maru sesikune, winaweka winoran memanis, rinacuk dipun slondhohi, nora keguh rinengonan, gapyak-gapyuk den srowoli, dadya nora bisa duka, lejar lumuntur ingkang sih (VI.8).

  4. mempunyai ketrampilan atau kepandaian : bisa nuju ing karsane priya myang marunipun, pinapangkat denya nglagani (III.5), bisa cawis angladeni, kang dadi kareming priya, myang pura cethi sedene (IV.5), ing weweka titi (V.2), wasis salir pakaryaning estri, reratus kekonyoh, widadari sang dyah pagurone, winulangken mring marune sami (V.6), lawan sukane sang ayu, maos sagung srat palupi (VI.6).

  5. setia, menunjukkan bakti kepada suami dengan cara menjalankan perintahnya/tugasnya: setyeng priya datan lenggana sakarsa (II.2), bisa nuju ing karsane priya myang marunipun (III.5), bisa cawis angladeni, kang dadi kareming priya (IV.5), susileng tyas sumawiteng laki (V.5) dadya denira males sih, bekti marang maratuwa, gumati mring dewi Kunthi, pamunjunge saben dina, sakarsane den turuti (VI.10).

 

Semua hal tersebut merupakan hal-hal yang positif, yang tetap relevan sampai kapan pun. Nilainya menjadi minus karena pada zaman itu hanya demi menyelamatkan kehidupan poligami.

 

  • Dalam Hinduisme ada konsep spirit atau daya kekuatan para dewa yang disebut sakti, yang merupakan simbol dari sifat dan kewajibannya. Sakti ini diujudkan sebagai permaisuri sang dewa. Trimurti, tiga dewa penguasa dunia: dewa Brahma, sang pencipta, sakti nya dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan, sesuai dengan sifat dan kewajibannya sebagai pencipta dunia. Dewa Wisnu, sang pemelihara, saktinya dewi Sri atau Laksmi, dewi keseburan, dan Dewa Siwa, sang pengrusak, saktinya dewi Uma atau Durga, ratu segala makhluk halus, demon, simbol pengganggu dunia.

  • Menurut konsep sakti dalam Hinduisme, kelima isteri Arjuna tersebut diperlukan dalam hidupnya, memmenuhi darma ksatria pinandhita. Kekuatan atau spirit satria yang berwatak pendeta akan selalu memayungi dan menuntun jalan hidupnya, tidak dapat berpisah, selalu mengikuti kemana pun ia pergi. Ini digambarkan sebagai kelima isteri yang setia, yang berwatak satria (dilambangkan sebagai tiga putri raja/dari kasta ksatria: Wara Sumbadra yang mengutamakan watak utama, kebenaran, Retna Gandawati yang mengutamakan wiweka, dan Wara Srikandi yang mengutamakan ilmu), dan watak pendeta (dilambangkan sebagai dua putri begawan/kasta brahmana: Retna Ulupi yang mengutamakan asuh dan sih, dan Retna Manuhara yang mengutamakan berolah puja).

 

 

 

--- o ---

 

You are here Kepustakaan Makalah Tokoh Perempuan dalam Pewayangan