PETRUK DADI RATU

E-mail Print PDF

Petruk kecewa banget ketika Prabu Ambarasraya ingkar janji. Raja negeri Pandansurat ini menolak mengambil Petruk sebagai menantu walau ia telah berhasil mengalahkan Prabu Kalawahana. Awalnya raja raksasa dari Guwaseluman ini hendak memaksa Dewi Ambarawati, putri pak Ambarasraya, menjadi isterinya. Tentu saja niat itu ditolak, karena tidak lumrah. Manamungkin sosok raksasa beristerikan manusia. Penolakan telah menjadikan mas Kalawahana marah dan menyerbu Pandansurat. Karena kuwalahan, kepala negeri itu membuat surat ederan, yang isinya, siapa saja yang bisa mengusir Kalawahana, akan dijodohkan dengan putri tunggalnya sing ayu dhewe sak dunia. Banyak pemuda yang mencoba, tetapi semuanya gagal. Dalam keadaan kritis, datanglah Petruk Kantongbolong mengikuti sayembara. Dengan bantuan ayah biologisnya, Begawan Salantara, putra angkat Ki Lurah Semar ini dapat membuat Prabu Kalawahana termek-mehek pulang ke Guwaseluman.

Anehnya, setelah kesulitan teratasi, justru bung Ambarasraya ingkar janji dan hingga saat ini masih menunda-nunda perkawinan. Itulah yang membuat Petruk kecewa. Dalam kegelisahannya, tiba-tiba ada keributan. Dua wanita, Dewi Wara Srikandi dan Mustakaweni sedang uleng - berkelai mempertebutkan Jimat Kalimasada. Sedemikian seru jambak-jinambak, krawus-kinrawus, tanpa sadar justru Jimat Kalimasada terjatuh. “Ini dia kesempatan bagus,” gumam Petruk. Jimat Kalimasada dia ambil dan diganti dengan bungkus rokok kretek Bentul. Mak brubut …… Petruk lari meninggalkan dua betina yang sedang gulung-koming berkelahi.

Dengan senjata ampuh Jimat Kalimasada, dia menaklukkan negeri kepulauan Lojitengara. Dia mengangkat dirinya sendiri menjadi raja baru dengan gelar Prabu Welgeduwelbreh. Bukan Petruk bila tidak membuat gara-gara. Setiap hari ganti sepatu, jari tangan sepuluh cincinnya duapuluh, hidung panjang diberi cincin yang matanya pecahan gelas. Sehari berganti pakaian lima kali, tetapi khusus pakaian dalam, sudah lima hari tak pernah ganti. Edan tenan. Memang, dengan Jimat Kalimasada, negerinya menjadi stabil, ekonomi berkembang dengan pesat, dan bangsa Lojitengara dihormati bangsa-bangsa lain. Tetapi, demokrasi tidak bisa berkembang. Semuanya harus manut ingkang sinuwun Prabu Welgeduwelbreh.

Lain Lojitengara lain pula negeri Amarta. Tanpa Jimat Kalimasada, negeri itu menjadi hamburadul. Egoisme menjadi panglima dan pencitraan menjadi model. Untung, suasana itu tidak berlangsung lama. Dengan restu Ki Lurah Semar, Gareng meringkus Prabu Welgeduwelbeh sedang Bagong ngemut pusar Petruk yang bodong. Kanthongbolong tulung-tulung, Jimat Kalimasada dikembalikan, dan hilanglah klilip negeri Indraprasta.

Seperti halnya negeri Amarta yang pernah kehilangan Jimat Kalimasada, Indonesia tak luput dari suasana itu, yaitu tidak konsekwen terhadap way of life-nya. Semennjak negeri ini diproklamirkan di tahun 1945, para pemimpin bangsa tidak pernah sepi akan sikap pengingkaran terhadap Pancasila. Peristiwa pemberontakan PKI Madiun 1948, yang diulangi di tahun 1965; pemberontakan DI/TII, RMS, Permesta; pengunduran diri Bung Hatta dari jabatan Wakil Presiden; Demokrasi Liberal yang membuat jatuh bangunnya Kabinet; Ekonomi Terpimpin, Demokrasi Terpimpin; Totaliter, KKN adalah sederatan contoh yang mengingkari Pancasila.

Kalau mau jujur, Orde Reformasi yang digelar sejak 21 Mei 1998 yang tujuannya hanya Asal Bukan Suharto, adalah tindakan bukan Pancasila. Tidakan hanya memberhentikan pak Nazarrudin dari Bendahara Umum Partai Demokrat, tanpa sekaligus mencopotnya dari keanggotaan DPR maupun anggota partai (walau untuk sementara) adalah tindakan bukan Pancasila. Memperlakukan kasus Gayus Tambunan dengan segala masing-masing-nya, kasus kantong Polisi yang gendut bukanlah tindakan Pancasilais. Sikap anggota DPR tentang perjalan luar negeri, pembangunan gedung baru, gambar porno, termasuk tingkah polah bersidang yang memalukan, juga bukan tindakan Pancasilais. Tingkah polah penyelesaian kemelut PSSI yang berlindung dibawah “dinamika Demokrasi”, kekerasan atas nama agama, bom dll, juga bukanlah perilaku Pancasilais.

Syukurlan, para pemimpin Lembaga-lebaga Negara telah mengakui bahwa ternyata nilai-nilai Pancasila telah terpinggirkan. Selasa, 24 Meri 2011 mereka berkumpul di gedung Mahkamah Konstitusi, dan membuat Joint Press Statement. Ketua MK, pak Mahfud MD mengatakan: “Diperlukan rencana aksi nasional yang dilakukan oleh satu lembaga untuk melakukan sosialisasi dan penguatan nilai-nilai Pancasila secara formal melalui pendidikan Pancasila dan konstitusi.”

Rakyat berharap, agar keputusan para pemimpin itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh agar tidak didakwa seperti PETRUK DADI RATU.

 

SUD – Pengamat wayang.

 

You are here Artikel Cempala PETRUK DADI RATU