Mengenal Wayang Menak Sasak

E-mail Print PDF

Oleh: Ki Sadarudin

(Pepadi) Komda Prop. Nusa Tenggara Barat

Sekretariat : Jnl. Swadaya VIII/3 Kekalik, Ampenan Kota Mataram

Nusa Tenggara Barat

 

 

Pendahuluan

Indonesia yang terdiri dari 13.700 pulau dan kepulauan dihuni oleh suku bangsa yang berbeda-beda, memiliki unsur kebudayaan yang berbeda pula. Pulau Lombok dengan penduduk asli suku Sasak yang sebagian besar beragama Islam terdapat seni pertunjukan tradisional wayang kulit sasak yang sudah dikenal sejak masa lampau hingga saat ini masih berkembang dan sangat digemari oleh masyarakat sasak.

 

Adapun beberapa petunjuk yang dapat membawa kita kepada kesimpulan bahwa kesenian wayang kulit sasak itu berasal dari:

 

1. Cerita (istilah sasak: kelampan) wayang kulit sasak sama dengan wayang golek di Jawa yaitu bersumber dari cerita Menak.

2. Dari sejarah pewayangan dikenal bahwa Sunan Giri dan Pangeran Trenggono (Sultan Kudus) di Jawa pada tahun 1477 dikenal sebagai pembantu wayang kulit atau wayang gedok.

3. Selanjutnya Sunan Prapen putra dari Sunan Giri, banyak memanfaatkan wayang kulit sebagai media penyebaran agama Islam di Lombok pada abad ke 16.

4. Hal ini juga memperkuat kesimpulan tersebut adalah adanya kesamaan nama-nama peralatan dan instrumen antara wayang Jawa dan wayang Sasak seperti kelir, kotak dan belencong.

 

Pertunjukan wayang kulit sampai saat ini merupakan pertunjukan tradisional yang masih digemari terutama oleh suku sasak karena fungsinya bukan saja hiburan akan tetapi karena didalam pementasan wayang itu juga diperoleh manfaat yang sangat berharga bagi penggemarnya. Gambaran-gambaran tentang kebaikan dan kejahatan itulah yang dinyatakan dalam pertunjukan wayang yang dibawakan oleh seorang dalang sebagai juju penerang dalam pementasan wayang sesuai dengan urutan lakon yang telah dipersiapkan.

 

Secara garis besar, didalam pertunjukan wayang dikenal adanya dua jenis pemeran yaitu tokoh baik dan tokoh jahat. Tokoh baik dapat juga disebut wayang kanan, dan tokoh jahat dapat juga disebut wayang kiri. Tokoh baik berada dibagian kanan dalang dan tokoh jahat berada dibagian kiri dalang.

 

Beberapa tokoh wayang kanan misalnya Jayeng Rana, Umar maya, Maktal, Taptanus Saptanus, Umarmadi, dan Alam daur (Selandir). Dari tokoh kanan seperti Jayengrana ditunjukkan sifat-sifat keutamaan, keteladanan bagi manusia-manusia.

 

Karena itulah Jayengrana memiliki banyak nama lain seperti:

- Wong Menak yang berarti orang yang berpola hidup menyenangkan.

- Jayeng Laga berarti kuat di medan perang.

- Jayeng Tinon berarti berwawasan dan berpandangan luas.

- Jayeng Palugon berarti orang yang kuat memakai senjata berat.

- Jayeng Murti berarti orang yang sakti tak terkalahkan.

 

Keutamaan keutamaan lain yang dimilikinya adalah jujur, adil, bijaksana, kesatria, dan lain-lain. Sedangkan tokoh-tokoh jahat seperti Baktak, Nusirwan, adalah tokoh-tokoh jahat yang sangat licik dan culas serta pengadu domba yang dapat membawa malapetaka.

 

 

I. Asal Usul dan Sumber Cerita Wayang Sasak

 

Wayang Sasak adalah pemberian nama terhadap wayang kulit yang berkembang di Lombok, mungkin bersamaan datangnya dengan penyebaran agama Islam di Lombok.

Menurut ceritanya bersamaan pula dengan wayang golek di Jawa yang berkembang di Kudus pada abad ke 16 dengan mengambil cerita Wong Menak, sehingga wayang yang berkembang di Lombok disebut wayang Sasak/Menak.

 

Agama Islam masuk ke pulau Lombok pada abad ke 16 yang dibawa oleh Sunan Prapen putra dari Sunan Giri.

Sedangkan Sunan Giri juga dikenal sebagai penggubah wayang gedog dan konon juga beliau bersama Pengeran Trenggono (Sunan Kudus) menciptakan wayang "Kidang kencana" pada tahun 1477 sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa Sunan Prapen membawa wayang ke Lombok.

 

Disamping itu konon wayang di Lombok diciptakan pula oleh Pangeran Sangupati yaitu seorang Muballig Islam di Lombok.

Hanya saja data yang pasti tentang asal usul dan pencipta wayang di Lombok belum ada. Apabila kita bertanya, sejak kapan sebenarnya mulai berkembang wayang di pulau Lombok serta siapa pelopor pertama kali? Adalah sangat sukar untuk mendapatkan jawaban yang pasti. Yang jelas keberadaan wayang di Lombok mempunyai peranan yang sangat penting bagi pengembangan masyarakat Lombok.

 

Cerita wayang di Lombok pada dasarnya mengambil cerita Menak yang sumber ceritanya dari Cerita Amir Hamzah yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Versi lain mengatakan bahwa mungkin juga ceritanya berasal dari persi (Iran) yang masuk ke Indonesia melalui tanah Melayu, dari sana masuk ke Jawa dan tersebar ke Lombok.

 

Cerita-cerita pewayangan di Lombok di ambil dari serat Menak yang terdiri dari Tujuh jilid dan lontar-lontar yang ditulis dari bahasa Jawa dengan huruf Jejawen (huruf sasak) yaitu turunan dari Jawa. Cerita pewayangan Menak di Lombok ditulis sesuai dengan kawiannya (fragmennya) sehingga kita menemukan sebagai judul seperti:

1. Bang bari,

2. Gendit,

3. Birayung,

4. Ruham,

5. Bansinah,

6.Dan lain-lain.

 

Tetapi yang jelas dua (2) sumber tersebut menceritakan tentang Amir Hamzah yaitu Pamannya Nabi Muhammad SAW, putra ke dua belas (12) dari Abdul Mutta Lib.

 

Dalam cerita wayang Sasak Amir Hamzah mempunyai banyak nama lainnya (Jejuluk=Sasak) seperti:

- Wayang Menak = Orang yang menyenangkan Hati,

- Jayeng Rana = Kuat dimedan atau Arena,

- Jayeng Tinon = Berpandangan jauh ke depan,

- Jayeng palugon

- Jayeng palupi = Kuat memakai senjata berat, dan lain-lain.

 

Disamping nama lain (Jejuluk), Amir Hamzah juga mempunyai gelar yang diberikan oleh pertapa sakti yang awas yaitu Pandita Betal Jemur.

Adapun gelar-gelar tersebut Yaitu:

- Kelana Jaya Dimorti Pahlawan artinya menguasai jagat,

- Amiril Mukminin = yaitu pemimpin bagi orang mukmin.

- Khamidil Ngalam = yaitu gelar terakhir setelah kawin dengan putri Roman yang bernama Hisna Ningsih.

 

Sebagaimana halnya dengan cerita pewayangan lainnya maka, didalam cerita ini digambarkan sifat-sifat yang baik maupun yang buruk yang di gambarkan pada tokoh kanan dan kiri.

 

Tokoh kanan adalah:

- Wong Menak,

- Umar Maya,

- Maktal,

- Taptanus,

- Saptanus,

- Umar Madi,

- Dan Alam Daur (Selandir).

 

Tokoh kiri adalah

- Nursiwan,

- Baktak,

 

Didalam cerita pewayangan ini menggambarkan tokoh-tokoh perjuangan pada zaman Nabi Muhamad SAW, yang dipimpin oleh seorang paman Nabi yaitu Amir Hamzah digambarkan sebagai seorang tokoh yang luar biasa yang memiliki senjata sifat: Pemberani, Alim, Bijaksana, Jujur, Kesatria, dll.

 

Didalam cerita pewayangan ini selalu yang akhirnya menang adalah kebenaran atau tokoh-tokoh kanan. Bagi masyarakat Sasak cerita pewayangan ini sering dituturkan lewat cerita dengan membaca naskahnya kemudian diterjemahkan dengan bahasa Sasak. Namun siapapun penciptanya atau pembawa wayang ke Lombok tidak perlu kita permasalahkan. Akan tetapi yang pasti keberadaan wayang di Lombok mempunyai peranan yang sangat penting artinya pengembangan masyarakat, walaupun wayang pernah juga mengalami pengunduran bahkan pula mendapat tantangan dari para Ulama'. Hal ini disebabkan wayang sebagai tontonan umum dan berkembang pula ke arah lain seperti: minuman keras dan lain-lain yang bersifat amoral. Padahal wayang itu sendiri mengandung nilai moral sangat tinggi.

 

II. Pakem atau Tatacara Pergelaran Wayang Sasak.

 

Secara umum semua kesenian tradisional yang ada dan berkembang di Lombok mempunyai tatacara tersendiri didalam pergelarannya.

- Gendang Beleq,

- Cupak Gurantang,

- Kelentang,

- Tawaq-tawaq,

- Wayang,

- Barong tengkok,

- Dan masih banyak lagi jenis Tradisional yang lainnya.

 

Semua jenis kesenian tersebut sebelum memulai pergelaran terlebih dahulu harus dilakukan "PEMERAS".

Adapun pemeras itu berupa:

1). Soksokan/Besek berisi:

- Sirih (leqoq),

- Buaq (buah pinang),

- Gambir (jambe)

- Kapur,

- Kulit jagung (rokoq),

- Dan tembakau hitam (mako bedeng)

 

Sama halnya dengan wayang, setelah selesai "Meras" maka sekehe mulai membunyikan alat musik yang disebut "Nabuh".

Alat musik wayang sasak sangatlah sederhana yang terdiri dari:

a. Gong,

b. Gendang lanang,

c. Gendang wadon,

d. Kajar,

e. Cenot,

f. Rincik, dan

g. Suling besar.

 

Jadi selehe wayang Sasak sebanyak 7 orang ditambah dua (2) orang pembantu Dalang yang disebut pengabih (Pengawit) satu dari dan satu dari kanan dalang.

2). Ceret (kocor) yang berisi air,

3). Telur Ayam,

4). Beras Pati,

5). Uang Kertas/Logam,

6). Ayam yang masih hidup satu ekor,

 

Gending Pembuka

 

Sebagai mana disebut di atas, setelah selesai Meras, penabuh wayang mulai membunyikan alat musiknya "Nabuh" sebagai gending pembuka yaitu "Rangsangan". Biasanya pada gending pembuka ini sekehe membunyikan instrumen musik wayang tersebut dalam keadaan gelap (tanpa lampu penerangan),

 

Setelah beberapa kali Nabuh, dalang lalu menyalakan lampu belencong sebagai pertanda bahwa musikpun akan berubah ke musik / gending "Selutur".

 

Gending Selutur.

 

Merupakan gending untuk mengiringi atau memulai mengeluarkan wayang pertama Adapun wayang yang pertama kali keluar yaitu Jayeng Rana, Munigarim dan Gunungan. Ketiganya keluar secara bersamaan.

 

Gending Janggel

 

Merupakan gending untuk mengiringi "Pengabut" atau Aksama. Setelah selesai pengabut barulah masuk ke "Pengucul" yaitu dimana melalui gunungan menceritakan/memberitahu kepada penonton tentang lakon/cerita yang akan dipergelarkan pada waktu itu, dan selanjutnya masuk kepada cerita yang utuh.

 

Meskipun instrumen wayang kulit Sasak lebih sederhana bila dibandingkan dengan intrumen wayang kulit Jawa misalnya, namun gending gendingnya berpariasi misalnya:

 

1. Gending selutur yaitu gending untuk mengeluarkan wayang pertama.

2. Rangsang atau Rangsangan sebagai gending pembuka (setelah pemeras), juga geding ini untuk menandai perang atau huru hara.

3. Baten/Batel sebagai gending wayang berjalan.

4. Cirbon sebagai gending untuk mengiringi raksasa.

5. Balik Rondon sebagai gending untuk mengiringi raksasa.

6. Janggelan Prabu sebagai gending untuk mengiringi raja/prabu.

7. Janggelan Wadon untuk mengiringi perjalanan dalam keadaan sedih atau menangis.

8. Kaderan sebagai gending untuk mengiringi Umar Maya.

9. Selisir sebagai gending untuk mengiringi Nabi.

 

III. Minat dan Apresiasi Serta Kepercayaan Penonton

 

Sebagaimana disebut diatas, pergelaran wayang sasak sampai saat ini masih sangat digemari oleh masyarakat suku Sasak. Karena dalam pergelaran wayang tersebut, disamping sebagai hiburan masyarakat juga dalam pergelaran wayang tersebut mempunyai makna dan nilai-nilai ajaran kehidupan yang sangat tinggi.

 

Apresiasi masyarakat suku Sasak terhadap wayang sampai saat ini masih tinggi. Hal ini terbukti bahwa pertunjukan wayang kulit masih difungsikan dapan upacara seperti upacara potong rambut, khitanan serta dalam acara perkawinan.

 

Adapun kepercayaan bahwa dari pertunjukan wayang kulit dalam upacara potong rambut misalnya, anak laki-laki yang diupacarakan itu akan mendapat berkah dari Allah SWT. Dan diharapkan kelak memiliki keutamaan, keutamaan yaitu : gagah, pemberani, satria, serta, luhur budinya seperti Jayeng Rana.

 

Dalam pertunjukan wayang yang dimaksudkan untuk hiburan kerap kali tokoh-tokoh pemeran seperti Jayeng Rana dan Alam Daur. Begitu kagumnya mereka terhadap dua tokoh ini, sehingga menurut anggapan mereka kedua tokoh ini tidak boleh kalah atau mati dalam peranannya.

 

Jika dalam satu episode salah satu diantara keduanya terkalahkan, maka para penggemar yang mengaguminya itu akan menjadi marah dan sebagai akibatnya, dalang diomeli habis habisan dan terkadang dia akan merusak apa yang ada disekitarnya.

 

Selain itu ada juga kepercayaan bahwa dalang akan terancam oleh makluk halus biasanya terjadi apabila dalang melakoni "Cerita Lahad" (bahasa sasak=kelampan Lahad). Karena itu para dalang yang percaya akan hal tersebut tidak berani melakoni cerita yang disebut diatas.

 

IV. Kendala-kendala Dalam Mengembangkan Wayang Sasak dan Solusi Yang Diharapkan.

 

Perkembangan Wayang sasak selama ini jauh tertinggal bila di bandingkan dengan kesenian tradisional lainnya. Wayang sasak mengalami kesulitan untuk dapat berkembang dimasyarakat sasak.

 

Adapun kendala-kendala yang di hadapi dan yang sangat kami rasakan antara lain:

1. Kurangnya perhatian Pemerintah tentang wayang sasak ini.

2. Kurangnya perhatian serta minat generasi muda untuk menggemari wayang sasak

 

Adapun solusi dan harapan-harapan kami agar sasak bisa berkembang di masyarakat sasak secara maksimal antara lain:

1. mengharapkan perhatian Pemerintah secara serius.

2. Mengharapkan pembinaan langsung secara berkala oleh PEPADI Pusat ke masing-masing Daerah.

 

Makna Simbolis

 

Sebagaimana yang dikemukakan di atas bahwa penjelasan wayang kulit bagi masyarakat suku sasak, setulusnya memiliki makna yang sangat berharga, makna-makna itu di sirat melalui perang-perang yang di lakonkan.

 

Namun di balik yang nyata terdapat pula makna-makna yang simbolis yang tersirat di balik yang tersurat. Kita mengetahui bahwa pelaku utama dalam pertunjukan wayang beserta intrumennya merupakan pelengkap.

 

Secara simbolis "Dalang" sebagai pelaku utama dapat diartikan sebagai Tuhan Maha Pencipta (dalil kekuasaan tuhan). Atas kehendak dan kekuasaannyalah dunia ini di ciptakan berserta penghuninya, yakni Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang kemudian beranak pinak yang kemudian menjadi banyak dengan Prilaku yang baik dan yang buruk tercermin dalam kehidupan.

 

Oleh karena itu maka dalam pertunjukan wayang kulit secara kronologi pertama-tama sehari sebelum mengeluarkan judul cerita yang akan di perankan dalang memunculkan "gunungan" sebagai simbol alam di sertai Jayeng Rana sebagai simbol adam dan Munigarim sebagai simbol hawa.

 

Bersamaan dengan di munculkan gunungan berserta dua wayang itulah di sampaikan judul cerita atau kisah yang akan di pentaskan. Pada dasarnya karena prilaku persertanya sebagaimana yang di kemukakan di atas, maka dalam pertunjukan wayang terdapat dua peran utama yaitu peran jahat dan peran baik.

 

Wayang = bayangan, dari kata

Yung Yang = bayangan yang bergoyang

Kelir artinya supaya kita jangan keliru atau salah dalam melakoni hidup ini.

 

Wayang kanan sebagai tokoh baik terdiri dari tujuh.

1. Wong Menak (Jayeng Rana) makna yaitu hati manusia. apa yang kita ucapkan atau kita lakukan selalu mulai dari hati/kata hati, dan tentunya kata hati ini akan di imbang oleh Maktal dan Umar Maya.

2. Maktal yaitu pikiran, yang akan menimbang benar atau salah suatu upacara atau perbuatan.

3. Umarmaya yaitu akal, yang akan menimbulkan baik buruknya suatu upacara atau perbuatan

 

Setelah ditimbang baik buruk, benar dan salah dari kata hati tersebut maka dilaksanakan oleh:

 

4. Taptanus yaitu perumpamaan kedua anggota tubuh yang selalu berpasangan

5. Saptanus.

6. Amar madi pelambang napsu

7. Alam daur yaitu perlambang kesehatan

 

Adapun wayang kiri sebagai tokoh jahat

1. Musirwan/Nursirwan

2. Patih Baktak

 

Kedua tokoh ini berusaha agar supaya sang Jayengrana seluruh pengikutnya itu mati, dengan cara membujuk raja-raja yang belum takluk oleh Jayengrana untuk berperang melawan Wong Menak dengan imbalan akan memberikan putrinya yaitu Murigasin sebagai hadiah apabila Jayeng Rana mati.

 

Di samping wayang-wayang sebagaimana disebut diatas ada juga wayang perempuan.

 

Wayang perempuan sebagai perlambang "ILMU"

1. Munigarim sebagai perlambang kesucian

2. Asmaya Wati sebagai perlambang keindahan hati/ lemah lembut

3. Sekar kedaton sebagai perlambang keindahan

4. Sudara Warti sebagai perlambang alqur'an dan hadis

5. Sirtu Pirlahili sebagai perlambang mengetahui Tuhan

6. Marpinjun artinya memimpin diri sendiri

7. Kisbandiah sebagai perlambang tarekat (memperhalus batin)

8. Kelaswara artinya perkataan yang lemah lembut

9. Hisna Ningsih artinya yang di ridoi Tuhan (Husnul Khotimah).

 

Wayang (Unsur-unsur pendukung nilai pedalangan)

Wayang :

a. Hiburan

b. Seni meliputi: Seni rupa, Seni pahat, Seni suara, Seni sastra, Seni karawirtan, Seni gerak

c. Pendidikan dan penerangan. Ilmu pengetahuan

e. Rohani dan simbolik

You are here Kepustakaan Makalah Mengenal Wayang Menak Sasak