Mengenal Pakem Pedalangan

E-mail Print PDF


Dalam dunia pedalangan sering terdengar istilah pakem. Pakem yakni suatu panduan dasar bagi para dalang khususnya para siswa atau dalang pemula, yang meliputi berbagai teknis pementasan wayang (sabet, gending, bahasa, sulukan dll), lakon serta nilai budaya yang berlaku pada pendukung wayang.

Dilihat wujudnya pakem dapat dibagi tiga macam yaitu :

  1. Pakem balungan, yakni catatan berisi alur lakon secara garis besar yang sudah diatur berdasarkan urutan adegan serta disesuaikan untuk kebutuhan pelaksanaan sajian atau epesode lakon dalam bentuk atau pola pakeliran semalam. Buku-buku yang berisi balungan lakon misalnya :

  1. Serat Pedalangan Ringgit Purwa, susunan Ki Atmatjendana

  2. Serat Pedalangan Pedalangan Ringgit Purwa susunan KGPAA Mangkunegara VII

  1. Pakem gaancaran, yakni catatan berisi sejumlah lakon secara berurutan dengan tanpa memperhitungkan kebutuhan pelaksanaan dalam sajian pakeliran, bentuknya berupa tembang atau prosa. Misalnya :

    1. Serat Pustakaraja Purwa susunan Ranggawarsito

    2. Serat Arjunasasrabahu atau Lokapala oleh Yasadipura dll.

  2. Pakem pedalangan yakni berupa naskah lakon lengkap siap disajikan dalam satu pentas pakeliran. Bentuk pakem pedalangan ini memuat berbagai petunjuk teknis lakon secara lengkap meliputi narasi (janturan dan pocapan), cakepan (dialog atau ginem), petunjuk pelaksanaan gerak wayang (sabet), sulukan dan gending yang dipergunakan. Misalnya :

    1. Lakon Palasara Krama dalam Serat Sastramiruda susunan Kusumaddilaga.

    2. Serat Tuntunan Pedalangan Cakin Pakeliran Lampahan Irawan Rabi oleh Nayawirangka.

Sebuah pakem lahir atau disusun baik tertulis maupun tidak sebagai upaya untuk melangsungkan tradisi dan gaya pedalangan pada sub kultur tertentu. Pakem tertulis pada mulanya hanya berlaku dikalangan para dalang keraton, diterapkan pula pada berbagai pengajaran (kursus) pedalangan seperti Padhasuka (Pasinaon Dalang Surakarta) dll. Pakem yang pada mulanya disusun sebagai karya sastra atau dokumen-lazimnya ditulis oleh orang yang memiliki otoritas atau kewibawaan di bidang pedalangan kemudian dianggap sebagai peraturan yang harus dilaksanakan. Apalagi didukung keraton yang memiliki otoritas dan pengaruh yang sangat kuat. Maka semua bentuk pakem yang dikeluarkan keraton telah menyebar dan dianut sebagian besar komunitas pendukung pedalangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun setelah wibawa keraton semakin menipis mulailah pergeseran maupun perubahan pakem pedalangan yang ada. Munculnya patron-patron baru yang tidak memiliki bekal kesenimanan yang telah memberi dorongan atau dukungan langsung terhadap bentuk-bentuk kemasan yang tidak kratif, namun destruktif, karena oleh mereka ditafsirkan sebagai kebebasan tanpa batas, asal baru, ramai dan laku. Sebagian dalang muda sering melakukan inovasi-inovasi atau perubahan namun tanpa pertimbangan yang matang sehingga menghasilkan bentuk pakeliran yang keluar jauh dari pakem pedalangan. Demi mencari kepopuleran serta memperluas pengaruhnya, para dalang tidak segan-segan meninggalkan kaidah-kaidah pakeliran dengan menuruti selera penonton yang cenderung mengarah hiburan yang penting ramai dan lucu.

 

Sumari, 26 Pebruari 2001

 

 

You are here Kepustakaan Makalah Mengenal Pakem Pedalangan