Manajemen Pergelaran Wayang

E-mail Print PDF

 


SUMARI

 

Pengertian Manajemen secara umum adalah suatu usaha dimana didalamnya terdapat perencanaan, pengorganisasian, penerapan dan pengawasan atau evaluasi. Seperti kita maklumi bahwa manajemen pada seni pertunjukan tradisional khususnya wayang masih cenderung menerapkan manajemen yang sifatnya tradisional. Sehingga penerapan manajemen yang profesional dikalangan seni tradisional masih jauh yang diharapkan. Hal ini disebabkan antara lain terbatasnya sumber daya dan ketertutupan seorang pemimpin atau dalang itu sendiri. Oleh karena itu dalam kesempatan ini akan diketengahkan gambaran secara ringkas dimana cara pengaturan manajemen pergelaran wayang yang berlaku secara umum maupun manajemen yang dilakukan para dalang dalam memanage ‘crew’-nya pada setiap pergelaran baik yang berlaku di desa maupun di kota.

 

TAHAP PRA PERSIAPAN

 

  1. Menanggap Dalang

 

Sebelum tahap persiapan dilakukan tentu jauh sebelumnya sudah didahului adanya perjanjian atau kontrak antara dalang dengan penanggap. Lalu bagaimana caranya untuk bisa mengontrak dalang ? Untuk bisa menanggap atau mengontrak dalang dapat dilakukan dengan cara pihak pengundang atau yang mewakili menemui seorang dalang secara langsung atau lewat sekretarisnya untuk membicarakan segala sesuatu yang berkaitan dengan pementasan, baik itu kapan, dimana pementasan tersebut, dalam rangka apa, penentuan lakon dan terutama kepastian jumlah tanggapan/honor dalang beserta ‘crew’-nya.

 

Untuk bisa menanggap dalang-dalang tenar seperti Anom Suroto, Manteb Soedarsono dari Surakarta, Asep Sunandar Sunarya dari Bandung dan Timbul Hadiprayitno dari Yogyakarta harus dilakukan jauh sebelumnya. Hal ini untuk mengantisipasi agar dalang-dalang tersebut belum terikat dengan penanggap yang lain. Karena untuk dalang-dalang terkenal tersebut khususnya pada bulan-bulan tertentu (Agustus-Oktober) tanggapan mereka bisa mencapai 10-25 kali dalam sebulan.

 

  1. Penetapan Honor Dalang

 

Untuk menetapkan berapa jumlah honor yang harus dibayar oleh seorang penanggap biasanya tidak ada aturan yang baku apalagi tertulis. Dikalangan seniman dalang, penentuan besar kecilnya honor yang harus diterima ini tergantung beberapa hal antara lain:

 

  1. Jauh dekatnya tempat pementasan dengan tempat tinggal dalang.

  2. Lengkap tidaknya crew atau peralatan yang harus dibawa.

  3. Kedekatan hubungan antara penanggap dengan dalang.

  4. Dalam kepentingan apa pementasan tersebut dilaksanakan.

 

Keterangan:

 

Jauh dekatnya tempat pementasan akan mempengaruhi jumlah honor yang harus diterima seorang dalang. Karena hal ini akan menyangkut transportasi maupun waktu. Sebagai gambaran untuk dalang terkenal seperti Anom Suroto dan Manteb Soedarsono dari Surakarta, tanggapan mereka untuk wilayah Karisidenan Surakarta dan sekitarnya saat ini mencapai 15-20 juta, namun untuk pentas atau tanggapan di Jakarta bisa mencapai 25-30 juta.

 

Sedang lengkap tidaknya ‘crew’ atau peralatan yang dibawa dalang juga sangat berpengaruh besar. Ada kemungkinan seorang penanggap hanya mengontrak dalangnya saja, sedang peralatan maupun ‘crew’ penabuh atau pesinden sudah disiapkan penanggap. Kalau ada peristiwa begini biasanya dalang cukup membawa pengendang, penggender pribadi. Hal ini dirasa sangat penting karena kedua penabuh ricikan ini mempunyai peranan yang besar dalam karawitan dan mereka dianggap memahami gaya/pembawaan atau sanggit dalangnya. Namun juga ada dalang yang merasa tidak sukses atau tidak siap kalau menggunakan penabuh bukan dari ‘crew’-nya. Maka lengkap tidaknya ‘crew’ dan peralatan yang dibawa dalang juga membawa konsekwensi besar kecilnya honor.

 

Jauh dekatnya hubungan penanggap dengan dalang juga sangat berpengaruh besar kecilnya tanggapan. Bagi penanggap yang sudah akrab ataupun masih ada jalinan kekeluargaan dengan dalang tentu akan mendapat keringanan-keringanan, bahkan jika perlu dalangnya tidak mau menerima honor (Jw. Sambatan), hanya penanggap diminta menanggung ‘crew’ yang dibawa dalang.

 

Sedang yang terakhir adalah kepentingan apa pementasan itu diselenggarakan. Untuk tanggapan yang sifatnya pribadi seperti pernikahan, tasyakuran, ruwatan dll akan berbeda dengan tanggapan yang sifatnya peringatan hari-hari besar seperti 17 an agustus, apalagi yang menanggap pemerintah daerah setempat dimana dalang berada maka tanggapannya akan sangat kecil.

 

  1. Waktu pembayaran honor

 

Kapan honor harus dibayarkan pada dalang ? Hal ini diantara dalang yang satu dengan yang lain mempunyai cara sendiri-sendiri. Ada dalang yang minta pembayaran honor ini dilakukan setelah selesai pementasan, namun ada juga yang membuat aturan harus dibayar 50% saat terjadi kontrak dan sisanya yang 50% dibayar setelah selesai pementasan. Bahkan ada juga yang minta dibayar 50% saat terjadi kontrak dan yang 50% harus dibayar sebelum dalang naik panggung, sehingga sebelum dilunasi dalang belum akan naik panggung. Semua ini mengantisipati adanya kecurangan-kecurangan dari penanggap. Apakah ini bisa terjadi? Bisa saja, dan sudah banyak kejadian yang membuktikan. Seperti yang dialami dalang-dalang terkenal seperti Anom Suroto dan Manteb Soedarsono, seringkali sehabis pergelaran ditinggal lari oleh panitia/penanggap padahal belum dilunasi.

 

  1. Menentukan Lakon wayang

 

Dalam penentuan lakon wayang biasanya dapat terjadi dua alternatif. Pertama, penanggap menyerahkan sepenuhnya pada dalang sesuai event yang diselenggarakan. Untuk acara pernikahan biasanya dipilihkan lakon-lakon yang bernuansa Raben seperti: Parta Krama, Brantalaras Rabi, Narayana Kridha Brata, Jaladara Rabi, Kunti Pilih, dll. Untuk acara peresmian pembangunan dipilihkan lakon-lakon yang sifatnya membangun seperti : Semar mBangun Kahyangan, Semar mBangun Klampisireng, Semar mBangun Gedong Kencana dll. Dalam rangka acara bersih desa dipilihkan lakon Sri Mulih atau Sri Mantuk dll.

Alternatif kedua ditentukan oleh penanggap, hal ini biasanya dilakukan oleh penanggap yang sedikit banyak mengetahui tentang cerita wayang. Dengan memilih lakon tertentu, penanggap ingin mengidentikkan dirinya sebagai tokoh tertentu dalam lakon tersebut. Misalnya dalam acara pernikahan, penanggap minta lakon Parta Krama, dengan lakon tersebut seolah-olah penanggap/anaknya yang mengalami pernikahan diidentikkan seperti Parta/Arjuna yang menikah dengan Sembadra, sehingga diharapkan kedua penganten tersebut dapat seperti pernikahan Arjuna dengan Dewi Sembadra. Pemilihan lakon juga didasarkan pada angsarnya. Ada kepercayaan dimasyarakat bahwa suatu lakon wayang dapat membawa pengaruh terhadap kehidupan penanggap maupun masyarakar sekitarnya. Ada lakon yang dianggap angsarnya kurang baik seperti lakon-lakon Baratayuda, Anoman Obong dll. Walaupun ini tidak berlaku secara umum, karena suatu daerah bila diselenggarakan wayang dengan lakon Baratayuda akan ada kejadian kurang baik atau terjadi bencana seperti terkena wabah penyakit, kematian dll, namun justru ada daerah tertentu justru tiap tahun harus wayangan dengan lakon Baratayuda kalau tidak daerah itu akan mendapatkan bencana.

 

Bisa juga terjadi, dalang sudah naik panggung, penanggap baru minta lakon tertentu dan tidak kalah anehnya dalang sudah mulai pementasan dengan lakon yang sudah disiapkan tiba-tiba penanggap minta diganti lakonnya. Hal ini bagi dalang-dalang senior atau tua sudah biasa dan pandai menyanggit maka ada istilah Jawa Dalang mangsa kurango lakon.

 

TAHAP PERSIAPAN

 

 

Setelah terjadi kesepakatan antara dalang dan penanggap baik harinya, besarnya honor maupun lakon yang dipilih, dalang kemudian memerintahkan sekretaris/orang yang dipercaya atau secara pribadi membuat jadwal pentas yang selanjutnya dibagikan kepada semua ‘crew’-nya. Disamping itu juga mencari peminjaman peralatan bagi dalang yang tidak mempunyai perlengkapan.

 

Dalam tahap persiapan, sering dilakukan latihan-latihan apabila dalang dikontrak dalam rangka pentas untuk event-event tertentu misalnya siaran untuk Televisi maupun keinginan dalang dalam menampilkan garapan-garapan baru. Adapun tujuan diadakannya latihan diantaranya untuk menyesuaikan garapan lakon dengan jam tayang yang disediakan (ini bila untuk siaran Televisi) maupun usaha dalang supaya pementasannya berhasil dengan baik dan disenangi baik penanggap maupun masyarakat sehingga dampaknya akan selalu ditanggap. Namun kadangkala karena padatnya jadwal pementasan dan sudah seringkali mendalang sehingga latihan-latihan ini dianggap sudah tidak perlu.

 

Bagi penanggap/penyelenggera persiapan yang dilakukan biasanya meliputi penyiapan tempat, menyebarkan undangan, memasang papan-papan pengumuman baik berupa spanduk maupun lewat media elektronik maupun media massa setempat. Sedang penyiapan tempat ini perlu dilakukan dan penuh pertimbangan. Seorang penanggap harus bisa memperkirakan seberapa banyak tamu undangan dan penonton yang akan hadir dengan melihat kondisi ataupun popularitas dalangnya. Seringkali karena kurang diantisipasi jauh sebelumnya, saat mulai pergelaran, penonton yang datang melebihi kapasitas tempat yang tersedia sehingga sering terjadi pengrusakan-pengrusakan bangunan untuk sekedar bisa melihat pertunjukan berlangsung.

 

TAHAP PELAKSANAAN

 

Setelah hari yang disepakati antara dalang dengan penanggap tiba, maka pada siang harinya atau satu hari sebelum pelaksanaan semua peralatan baik wayang, gamelan maupun sound system harus sudah disiapkan dan ditata dengan baik. Dikalangan pedesaan biasanya untuk acara-acara hajatan pada siang harinya diadakan klenengan dulu, baru pergelaran wayangnya pada malam hari, sehingga penataan kelir dan wayang baru dilaksanakan pada sore hari. Sedang dikalangan perkotaan atau dalam acara-acara tertentu yang tidak memerlukan klenengan penataan gamelan, kelir maupun wayang sudah bisa dimulai pada siang hari. Dalam penataan gamelan, kelir maupun wayang biasanya dalang sudah membawa petugas atau peniti sendiri. Sebagai gambaran bagaimana menata panggung pergelaran wayang dapat diuraikan sebagai beikut:

 

  1. Menata Panggung

 

Berbeda dengan di desa yang serba seadanya, maka di kalangan perkotaan biasanya untuk tempat pergelaran dibuatkan panggung khusus (bancik) untuk gamlan tingginya antara 40 cm, sedang untuk panggung gawangan kelir,dalang dan pesinden tingginya kurang lebih 60 cm, sedangkan panggung kusus dalang tinggnmgnya ditambah lagi 20 cm, supaya lebih kelihatan dari jarak jauh. Setelah penataan panggung selesai baru menata gamelan satu persatu. Untuk gender , gender penerus maupun slentem diletakkan persis dibelakang dalang ditambah dengan rebab. Untuk gambang disebelah kanan dalang, Kendang dibelakang gender. Gong dipojok kiri depan, dekat dengan kenong, sedang bonang di pojok kanan belakang dan seterusnya lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Gender barung 11. Bonang Barung

  2. Rebab 12. Gambang

  3. Kendang 13. Siter

  4. Demung 1 14. Suling

  5. Demung 2 15. Bedug

  6. Saron 9 16. Sinden

  7. Saron 1 17. Gerong

  8. Saron 2 18. Slenten

  9. Peking 19. Gender penerus

  10. Bonang Penerus 20. Gong

21. Kenong

 

 

  1. Menata Gedebog/Batang pisang

 

Sebelum menata batang pisang terlebih dahulu yang harus dilakukan adalah memasang gawangan kelir bila ada, (kebiasaan di desa langsung menempel di tiang rumah atau tarub). Setelah gawangan kelir sudah terpasang, langkah selanjutnya adalah menata batang pisang. Batang pisang ini dalam pergelaran wayang berfungsi yakni untuk menancapkan tokoh peraga wayang baik yang disimping maupun yang sedang dimainkan dalang. Selain itu batang pisang juga berguna untuk menancapkan sligi yang membuat kelir menjadi kencang dan tidak kendor. Sebelumnya disiapkan atau dipilihkan batang pisang yang baik yakni yang masih muda atau belum berbuah dan biasanya diambilkan dari pisang kepok. Untuk ukuran kelir/gawangan 8 m, menggunakan 4 batang pisang ( 3 batang untuk lapis atas dan 1 batang untuk lapis bawah). Sedang bila panjang kelir 14 m maka diperlukan batang pisang 6 buah (5 untuk lapis atas dan 1 untuk lapis bawah). Kebutuhan batang pisang ini menyesuaikan panjang kelir dengan melebihkan sebelah kanan dan kiri masing-masing 1 meter.

Setelah batang pisang tersedia lalu dimulai penataan dengan ditancapkan pada tapak dara. Pada pertunjukan wayang kulit purwa biasanya batang pisang disusun menjadi dua lapis yaitu lapis atas dan bawah. Batang pisang pada lapis atas disebut pamedan dan debog pada lapis bawah disebut paseban. Adanya penataan lapis atas dan bawah ini menyebabkan timbulnya kesan berdiri pada tokoh wayang yang ditancapkan di debog lapis atas dan kesan duduk bersila bila ditancapkan di lapis bawah. Bila menggunakan batang pisang 3 buah maka yang 2 batang untuk lapis atas dan 1 batang untuk lapis bawah. Sedang penyambungan 2 batang pisang pada lapis atas harus dibuat simetris pada tengah-tengah kelir dengan ujung sama ujung batang, dengan teknik penyambungan ada dua cara lihat gambar dibawah ini.

 

 

 

 

 

 

Sedang bila menggunakan 5 batang pisang, 4 untuk lapis atas dan 1 batang untuk bawah dengan teknik sambungan seperti diatas.

Semua batang pisang ini ditancapkan dalam kayu yang sudah disiapkan yang disebut tapak dara

 

  1. Menata Kelir

 

Setelah batang pisang terpasang, langkah selanjutnya baru memasang kelir. Kelir yang digunakan sebagai latar belakang atau background pada pergelaran Wayang Kulit Purwa dan beberapa jenis wayang lainnya berujud secarik kain lebar berwarna putih yang dibentangkang dalam gawangan yang sudah ditata sebelumnya. Ukuran kelir ini berkisar antara 8-14 meter, sedang lebarnya 250-300 cm. Pada bagian atas kelir dihias dengan plisir dari kain warna lain (biasanya merah, hitam, maupun biru) yang disebut plangitan. Dibagian bawah juga diberi plisir yang disebut palemahan.

Untuk memasang kelir pertama-tama yang dilakukan adalah memasukkan sligi ( terbuat dari kayu atau besi yang gilig dengan panjang sesuai lebar kelir dengan dilebihkan 25 cm, bagian bawah dibuat lancip supaya mudah ditancapkan dibatang pisang) ke dalam lubang kelir dibagian tepi kanan dan kiri. Selanjutnya dibentangkan paling tidak dua orang yang masing-masing yang memegang sligi. Setelah kelir dibentangkan, masing-masing sligi dimasukkan ke dalam blandaran/lobang yang sudang disiapkan di bagian atas, setelah itu masing-masing sligi ditancapkan pada batang pisang lapis atas. Setelah kelir membentang, lalu bagian bawah dikencangkan dengan placak yang ditancapkan di batang pisang lapis atas. Setelah selesai baru bagian atas kelir diikatkan pada sebatang bambu wulung (biasa di desa) yang disebut blandaran atau kayu bahkan berukir. Sedang tali untuk mengikatkan kain kelir ke blandaran ini disebut plunturan yang membuat kain kelir tetap kencang tidak kendor.

Setelah kelir dan batang pisang sudah terpasang, langkah selanjunya menata kotak wayang. Kotak wayang diletakkan disebelah kiri dalang dengan menempel pada batang pisang, sedang tutup kotaknya diletakkan di sebelah kanan dalang.

 

c. Menyimping wayang

 

Yang disebut simpingan wayang adalah peraga wayang yang ditancapkan berjajar pada batang pisang di kiri dan kanan dalang. Yang ditancapkan disebelah kiri disebut simpingan kiri semuanya menghadap ke kiri sedangkan yang disebelah kanan disebut simpingan kanan , semua wayangnya menghadap ke kanan. Teknik menyimping ini harus berurutan mulai dari yang besar sampai paling kecil ditancapkan lapis debog atas, kiri dan kanan diatur seimbang. Diantara simpingan kanan dan kiri ini ditengah-tengahnya dikosongkan kurang lebih 180-200 cm, dengan dilonggarkan sebelah kiri karena keluarnya wayang banyak adegan di sebelah kiri, lalu ditengah-tengahnya ditancapi kayon/gunungan. Wayang yang disimping ini sebagian besar dipihkan tokoh-tokoh wayang yang tidak akan dimainkan oleh dalang sebab yang akan dimainkan harus sudah disiapkan secara terpisah yang disebut wayang dudahan.

Karena simpinagn juga berfungsi sebagai pemandangan yang indah maka selain harus ditata yang rapi juga harus dipihkan wayang yang baik yang indah dipandang. Sebagai pedoman disini dapat disebutkan urutan tokoh wayang yang disimping baik wayang kulit purwa, Wayang gedog maupun Wayang Menak sebagai berikut:

 

SIMPINGAN WAYANG KULIT PURWA GAYA SURAKARTA

 

  1. Simpingan Kanan

 

  1. Brahala Dewa amral

  2. Prabu Tuguwasesa

  3. Raden Werkudara wanda mimis (hitam)

  4. Raden Werkudara wanda lindupanon

  5. Raden Werkudara wanda gurnat

  6. Raden Werkudara wanda lintang (hitam)

  7. Jagal Abilawa

  8. Raden Bratasena wanda mimis (hitam)

  9. Raden Bratasena wanda gurnat

  10. Prabu Setija bagus

  11. Gatutkaca ratu

  12. Danaraja

  13. R. Gandamana

  14. R. Gatutkaca wanda kilat

  15. R. Gatutkaca wanda guntur

  16. R. Gatutkaca wanda tatit (hitam

  17. R. Gatutkaca wanda gelap (hitam)

  18. R. Antarja

  19. R. Antasena

  20. R. Anoman

  21. Prabu Harjuna Sasrabahu

  22. Prabu Watugunung

  23. Rama jangkah

  24. Danapati

  25. Prabu Kresna wanda rondon

  26. Prabu Kresna wanda mawur

  27. Prabu Kresna wanda gendreh

  28. Prabu Rama Wijaya

  29. Prabu Kiritin

  30. Prabu Pandu Dewanata

  31. Prabu Parikesit

  32. Begawan Palasara

  33. Prabu Puntadewa wanda putut

  34. Prabu Puntadewa wanda panuksma

  35. R. Arjuna wanda kanyut

  36. R. Arjuna wanda jimat

  37. R. Arjuna wanda kinanti

  38. R. Arjuna wanda malatsih

  39. R. Arjuna wanda renteng

  40. R. Arjuna brongsong (srambahan)

  41. R. Arjuna sampir (slendang)(srambahan)

  42. R. Yudistira wanda malatsih

  43. R. Yudistira wanda kinanti

  44. R. Suryaputra

  45. R. Madubranta

  46. R. Pandu

  47. R. Rama

  48. R. Laksmana

  49. R. Kangka

  50. R. Permadi wanda pengawe

  51. R. Permadi wanda pengasih

  52. R. Permadi wanda kinanti

  53. R. Permadi sampir (srambahan)

  54. R. Nakula

  55. R. Sadewa

  56. Dewi Jembawati

  57. Dewi sarpakenaka

  58. Dewi Arimbi

  59. Dewi Banowati wanda berok

  60. Dewi Banowati wanda golek

  61. Dewi Kunti

  62. Dewi Anggendari

  63. Dewi Drupadi

  64. Dewi Herawati

  65. Dewi Banowati muda pakai kemben

  66. Dewi Banowati muda pakai slendang

  67. Dewi Sembadra wanda rangkung

  68. Dewi Sembadra wanda lentreng

  69. Dewi Rukmini

  70. Dewi Setyaboma

  71. Dewi Srikandi wanda goleng

  72. Dewi Srikandi wanda patrem

  73. Dewi Pergiwa

  74. Dewi Surtikanthi

  75. Dewi Jembawati

  76. Dewi Dursilawati

  77. Dewi Siti Sundari wanda gandes

  78. Dewi Utari

  79. Dewi Laksmanawati

  80. Dewi Laraireng wanda lanceng

  81. Putren lanyapan (srambahan)

  82. Putren pakai slendang (srambahan)

  83. Putren luruh (srambahan)

  84. Putren luruh pakai slendang (srambahan)

  85. Putren longok pakai slendang (srambahan)

  86. Dewi Rukmini muda

  87. Dewi Setyaboma muda

  88. Dewi Anjani

  89. Dewi Mustakaweni

  90. Bondan Paksajandu (Dewa Ruci)

  91. Putran anak kecil

 

  1. Simpingan kiri

 

  1. Brahala Hitam/ Kala Martyu

  2. Raksasa Raton srambahan (Kumbakarna) wanda barong

  3. Raksasa Raton srambahan (Kumbakarna) wanda macan

  4. Prabu Niwatakawaca wanda mendung

  5. Raksasa raton berjamang, grudan

  6. Lembusura

  7. Maesasura

  8. Patih Prahasta

  9. Raksasa Harimba

  10. Brajadenta

  11. Brajamusti

  12. Suratimantra

  13. Rajamala

  14. Kangsa

  15. Prabu Dasamuka wanda bugis

  16. Prabu Dasamuka wanda bengis

  17. Prabu Duryudana wanda jangkung

  18. Prabu Duryudana wanda jaka

  19. Raden Kurupati

  20. Prabu Bomantara /Boma tua

  21. Prabu Bomanarakasura

  22. Prabu Baladewa, wanda paripeksa

  23. Prabu Baladewa wanda sembada

  24. Prabu Baladewa wanda kaget

  25. Prabu Baladewa wanda geger

  26. Kencaka

  27. Rupakenca

  28. Seta

  29. Utara

  30. Wratsangka

  31. Raden Kakrasana, wanda kilat

  32. Raden Kakrasana, wanda sembada

  33. Prabu Basuketi

  34. Prabu Kuntiboja

  35. Prabu Basudewa

  36. Prabu Matswapati

  37. Prabu Drestarata

  38. Prabu Drupada

  39. Prabu Salya

  40. Prabu Bismaka

  41. Prabu Styajit

  42. Prabu Radeya

  43. Prabu Karna, wanda bedru

  44. Prabu Karna, wanda lontang

  45. Raden Yamawidura

  46. Raden Ugrasena

  47. Raden Durgandana

  48. Raden Sodo atau Basudewa muda

  49. Raden Sutjitra atau Drupada muda

  50. R. Setyaki, wanda mimis

  51. R. Setyaki, wanda wisuna

  52. R. Setyaki, wanda kakik

  53. Raja Sabrang WOK ( Prabu Partasudarma)

  54. Raja Sabrang bagus ( Prabu Dewasrani )

  55. R. Wibisana

  56. R. Prabu Rukma

  57. Patih Suwanda

  58. Raden Rukmarata

  59. Raden Rukmara

  60. Raden Drestajumna

  61. Raden Gunadewa

  62. Raden Warsakusuma

  63. Raden Narasoma

  64. Raden Narajana, wanda geblag

  65. Raden Narajana, wanda sembada

  66. Raden Samba wanda buntit

  67. Raden Samba wanda sembada

  68. Raden Samba wanda geblag

  69. Raden Partajumna

  70. Raden Pancawala

  71. Raden Lesmana Mandrakumara

  72. Raden Angkawijaya wanda bangkung

  73. Raden Angkawijaya wanda buntit

  74. Raden Sumitra

  75. Raden Irawan

  76. Raden Dewabrata

  77. Raden Krsnadwipayana

  78. Raden Wijanarka wanda pangasih

  79. Raden Wijanarka wanda miling

  80. Raden Bismawicara

  81. Raden Wisanggeni

  82. Raden Setyaka

  83. Raden Caranggana

  84. Raden Pinten

  85. Raden Tansen.

 

WAYANG DUDAHAN

 

a. Golongan Kurawa

 

  1. Drona

  2. Sengkuni

  3. Dursasana

  4. Durjaya

  5. Durmuka

  6. Jayawikata

  7. Durmagati

  8. Citraksa

  9. Citraksi

  10. Carucitra

  11. Surtayu

  12. Surtayuda

  13. Kartamarma

  14. Aswatama

  15. Burisrawa

  16. Resi Krepa

 

  1. Golongan Putran

 

  1. Danurwenda

  2. Sanga-Sanga

  3. Dwara

  4. Kartapiyoga

  5. Trisirah

  6. Trikaya

  7. Trinetra

  8. Dewantaka

  9. Yaksadewa

  10. Narantaka

 

  1. Golongan Pandita

 

  1. Resi Kanwa

  2. Resi Abiyasa

  3. Resi Bisma

  4. Resi sentanu

  5. Resi Sapwani

  6. Resi Ramabargawa

  7. Resi Bagaspati

  8. Resi Wisrawa

  9. Resi Kamunayasa

  10. Begawan Curiganata

  11. Begawan Sumali

  12. Begawan Dupara

  13. Begawan Ciptoning

  14. Kapi Jembawan

  15. Cekel Hendrajala

  16. Putut Jayasemedi

  17. Pandita tua

  18. Demang Antaboga

  19. Jagal Walakas

 

  1. Golongan Patih dan Punggawa

 

  1. Patih Udawa

  2. Patih Pragota

  3. Patih Prabowo

  4. Patih Saragupita

  5. Patih Tuhayata

  6. Patih Nirbita

  7. Patih Drestaketu

  8. Patih Hadimanggala

  9. Patih Handakasumelar

  10. Patih Jayatna

  11. Patih Tambakganggeng

  12. Path Sucitra

  13. Patih Jayasengara

  14. Patih Sabrangan

  15. Patih Baratkatiga

  16. Raden Gagakboko

  17. Raden dandang Winagsi

  18. Raden Podang Binorehan

  19. Raden Janget Tinelon

 

  1. Golongan Para Dewa

 

  1. Barata Guru

  2. Batari Durga

  3. Batara narada

  4. Batara Sambu

  5. Batara Brahma

  6. Batara Endra

  7. Batara Bayu

  8. Batara Wisnu

  9. Batara Mahadewa

  10. Batara Yamadipati

  11. Batara Kamajaya

  12. Batara Surya

  13. Batara Antaboga

  14. Batara Kuwera

  15. Batara Patuk

  16. Batara Temboro

  17. Batara Basuki

  18. Batara Panyarikan

  19. Batara cingkarabala

  20. Batara balaupata

  21. Batara Citrasena

  22. Batara Citrarata

  23. Sang Hyang Baruna (Ular)

  24. Sang Hyang Ganesa

  25. Sang Hyang Badawanganala

 

  1. Golongan Raksasa

 

  1. Raksasa raja muda (Suratimantra)

  2. Cakil

  3. Pragalba

  4. Buta Rambutgeni

  5. Buta Galiuk

  6. Buta Endog

  7. Buta Terong

  8. Buta Yuyurumpung

  9. Mamangmurka

  10. Raksasa Alasan laki-laki/ Kalaraseksa

  11. Raksasa Alasan wanita/Kalaraseksi

  12. Emban Kenyawandu

 

  1. Golongan Raksasa Pringgodani

 

  1. Raden Brajalamatan

  2. Raden Brajamingkalpa

  3. Kalabendana

 

  1. golongan Raksasa Setragandamayit

 

  1. Dadungawuk

  2. Jarameya

  3. Rindumaya

  4. Niramaya

  5. Pulasyia

 

 

 

  1. Golongan raksasa Guakiskenda

 

  1. Raksasa kepala macan

  2. Raksasa kepala gajah dll.

 

  1. Golongan raksasa Alengka

 

  1. Raden Aswanikumba

  2. Raden Kumba-kumba

  3. Dewi Sarpakenaka

  4. Wirupaksa

  5. Mintrakna

  6. Sukrasana

  7. Wilkataksini

 

  1. Para Raja sabrang

 

  1. Supali

  2. Gardapati

  3. Bogadenta

  4. Sridenta

  5. Kalinggapati

  6. Pratipa

  7. Citradarma

  8. Dll

 

  1. golongan Kera

 

  1. Prabu Subali

  2. Prabu Sugriwa

  3. Anjani

  4. Raden Subali

  5. Raden Sugriwa

  6. Raden Anggada

  7. Raden Anila

  8. Kapi Jembawan

  9. Kapi Anala

  10. Kapi Susena

  11. Kapi satabali

  12. Kapi saraba

  13. Kapi Winata

  14. Kapi Menda

  15. Kapi Hendrajanu

 

  1. Golongan wayang dagelan

 

  1. Semar

  2. Gareng

  3. Petruk

  4. Bagong

  5. Togog

  6. Sorowita

  7. Cantrik

  8. Cantrik Janaloka

  9. Cangik

  10. Limbuk

  11. Dewi Clekutana

  12. Retna Juwita

  13. Parekan

  14. Emban Wungkuk

  15. Setanan dll.

 

WAYANG-WAYANG RICIKAN

 

  1. Rampogan manusia

  2. Rampogan raksasa

  3. Kreta

  4. Kuda

  5. Ular

  6. Macan

  7. Burung garuda

  8. Banteng

  9. Kerbau

  10. Kijang

  11. Celeng

  12. Dll.

 

 

 

BERBAGAI MACAM SENJATA

 

  1. Keris lurus kecil

  2. Keris luk kecil

  3. Panah kecil

  4. Panah kepala burung/ sarotama

  5. Panah Nagapasa

  6. Panah Rante

  7. Nanggala

  8. Alugara

  9. Cakra

  10. Gada Lukitasari

  11. Gada Rujakpolo

  12. Gada biasa

  13. Limpung

  14. Candrasa

  15. Badama

  16. Cis

  17. Cundrik

  18. Kudi

  19. Arit

  20. Petel dll

 

Semua wayang dudahan ini dibagi-bagi dalam beberapa eblek dengan pembagian sebagai berikut :

 

  1. Eblek yang ada di atas tutup kotak/sebelah kanan dalang

 

Eblek 1. Wayang ricikan/ Hewan dan rampogan

Eblek 2. Wayang Panakawan, Bambangan, Pandita dan Dewa

Eblek 3. Wayang dudahan bala kanan

Eblek 4.Wayang yang akan dimainkan, didekat debog disiapkan wayang parekan, Cangik dan Limbuk

 

  1. Eblek yang berada diatas kotak/sebelah kiri dalang

 

Eblek 1. Wayang sabrangan dan Kurawa

Eblek 2. Wayang yang akan dimainkan

Sedang yang di dalam kotak raksasa prepat, setanan dll.

 

Untuk itu sebelum dalang naik panggung, seorang penyimping perlu minta keterangan kepada dalang tentang lakonnya apa dan wayang apa yang sekiranya diperlukan supaya pada saatnya nanti dalang tidak kebingunagan mencari wayang, apalagi mengambil wayang yang ada dalam simpingan. Hal ini akan mengurangi keindahan pemandangan di panggung.

 

 

SIMPINGAN WAYANG GEDOG

 

              1. Simpingan kiri

 

  1. Danawa Ageng

  2. Klana Tunjung Seta

  3. Klana Prabu Jaka

  4. Klana Sewan dana

  5. Selaraja

  6. Kudanawarsa

  7. Jaksanegara

  8. Jaya Badra

  9. Jayakacemba

  10. Kartawilaga

  11. Kuda Pandhapa

  12. Kuda Jejetan

  13. Panji Kudarawisrengga

  14. Panji Kuda Pamecut

  15. Panji Kuda Pambereg

  16. Panji Kuda gadhingan

  17. Arya Sinjanglaga

  18. Arya Gunungsari

  19. Kuda Nurawangsa

  20. Klana Triyaga

  21. Klana Jaya Puspita

  22. Klana Banuputra

  23. Panji Sutra

  24. Panji Sutrana

  25. Jaya Lengkara

  26. Jayengasmara

  27. Kayon/Gunungan

 

  1. SIMPINGAN KANAN

 

  1. Kartala

  2. R.T.Brajanata

  3. R.Andaga

  4. Prabu Lembu Amiluhur

  5. Prabu Lembu Mangarang

  6. Prabu Lembu Peteng

  7. Prabu Lembu Amisani

  8. Prabu Lembu Pandaya

  9. Prabu Darmawasesa

  10. R.Wirun

  11. R.Panji Inukertapati

  12. R.Panji Sinom Pradapa

  13. Jatipitutur/Jarudeh atau Doyok

  14. Pituturjati/Prasanta atau Bancak

  15. Panji Laleyan ( Jaka Sumilir )

  16. Retna Cindhaga

  17. Kilisuci

  18. Dewi Tejaswara

  19. Dewi Siswari

  20. Dewi Maneka

  21. Dewi Panepi

  22. Dewi Pamungkas

  23. Prabu Ayu

  24. Retna Galuh

  25. Kanestren

  26. Surengrana

  27. Andayaprana

  28. Kumudaningrat

  29. Retna Mindhaka

  30. Kemulan

  31. Tamihoyi

  32. Ragil Kuning

  33. Bikang Maraleya

  34. Bayi

  35. Gunungan ( kayon )

 

SIMPINGAN WAYANG GOLEK MENAK

 

 

              1. Simpingan Kiri

 

  1. Samaduna

  2. Lokayanti

  3. Baranyilih

  4. Barduwas

  5. Bandaryani

  6. Rukyatilalad

  7. Pardiyu

  8. Kalajarmun

  9. Bariaakbarr

  10. Kelanjejjali

  11. Jaswadi

  12. Halkamah

  13. Jenggi

  14. Taminasar

  15. Hongtete

  16. Herjan

  17. Bestak

  18. Nimdahu

  19. Datuk Berdaris

  20. Umarmadi

  21. Kalbujer

  22. Menak Kanjun

  23. Maliat Kustur

  24. Kisthapangindrus

  25. Kasanbesari

  26. Bintibahran

  27. Jobin

  28. Kewusnendar

  29. Kistaham

  30. Marjaban

  31. Mukaji

  32. Samasrani

  33. Karungrani

  34. Banakamsi

  35. Kultul

  36. Krasbinandur

  37. Kruduwa

  38. Mukanjir

  39. Malijeras

  40. Kustur Maliat

  41. Wredhaktur

  42. Bahrun

  43. Bardas

  44. Sapardan

  45. Sudatkabulumar

  46. Trembebes

  47. Gajahbiyer

  48. Kebarsih

  49. Barjursan

  50. Nusirwan

  51. Kaesruni

  52. Bawadinem

  53. Akhlas Wajik

  54. Sarehas

  55. Tamtanus

  56. Samtamnus

  57. Herman

  58. Hermus

  59. Hoksam

 

B. Simpingan kanan

 

  1. Lamdahur

  2. Sahalsah

  3. Umarmadi (Jemblung)

  4. Jayengrana

  5. Maktal

  6. Kobat Sarehas

  7. Ibnu Umar

  8. Abdul Muntalib

  9. Betal Jemur

  10. Nabi Kilir

  11. Asanasil

  12. Abunandir

  13. Syeh Syahban

  14. Maridin

  15. Tambu Jumirin

  16. Sultan Samsumurijal

  17. Umarmaya (wanda dukun)

  18. Umarmaya (wanda Jongkah)

  19. Amir Ambyah

  20. Jayusman

  21. Mariyunani

  22. Iman Suwangsa

  23. Tahkaran

  24. Maktal

  25. Amirajilin

  26. Baginda Amir

  27. Lukamakim

  28. Rustamaji

  29. Ruslan

  30. Ganggamina

  31. Hasim Kamtamsi

  32. Darudriya

  33. Baginda Umar

  34. Muninggar

  35. Widaninggar

  36. Ismayawati

  37. Jurujinem

  38. Sumanarini

  39. Sekar Kedaton

  40. Marpinjun

  41. Bestari

  42. Sudarawerti

  43. Sujarah Bangun

  44. Kadarwati

  45. Kuraisin

  46. Rengganis

  47. Adaninggar

  48. Sirtupelaeli

  49. Isnaningsih

  50. Jaitun Kumarrukmi

  51. Banowati

 

 

d. Memasang Keprak

 

Keprak/Kepyak atau kecrek adalah merupakan salah satu perlengkapan penting bagi seorang dalang. Untuk dalang wayang kulit purwa gaya surakarta biasanya menggunakan 3-5 keping logam monel, kuningan maupun perunggu, dengan ukuran 8 cm x 15 cm, yang disusun bertumpuk dan diikat dengan sebuah tali, lalu digantungkan di tepi kotak. Sementara itu untuk pergelaran wayang gaya Yogyakarta hanya menggunakan satu keprak saja dari besi yang dilengkapi dengan cempala besi yang diapit ibu jari kaki, sehingga tidak berbunyi jreg, jeg tapi ting…ting dsb.

 

  1. Pemasangan Lampu Blencong

 

Blencong merupakan salah satu perlengkapan pokok dalam pergelaran wayang. Pada waktu dulu lampu blencong ini menggunakan alat tradisional yang memakai sumbu dengan minyak jarak (minyak dari buah jarak), atau minyak kelapa, perkembangan selanjutnya menggunakan lampu petromak namun dengan kemajuan zaman sekarang lampu blencong sudah menggunakan bolam listrik, bahkan juga menggunakan bolam helogen. Penggunaan bolam helogen ini mempunyai kelebihan bayangan wayang lebih tajam dan tidah membias. Perkembangan selanjutnya tidak hanya sekedar satu, ada dalang yang memakai 3-5 bolam dengan berwarna-warna untuk mendukung suasana pergelaran. Lampu Blencong dipasang dengan jarak satu kilan kurang lebih 30 cm di atas kepala dalang. Fungsi lampu blencong ini disamping sebagai penerangan juga untuk menimbulkan bayangan, maka walaupun pergelaran dilakukan pada siang hari tetap menggunakan lampu blencong.

 

  1. Penataan Sound System

 

Sound system dalam pergelaran wayang merupakan alat yang sangat vital karena dengan soud system yang baik akan sangat membantu kualitas suara dalang, begitu sebaliknya kalau soud systemnya jelek akan mengganggu suara dalang. Karena pentingnya sound system ini sampai ada dalang selalu membawa sendiri beserta teknisinya (soud control). Dalam pergelaran wayang diperlukan minimal 15-25 mic supaya suara dalang, pesinden maupun gamelan bisa merata masuk ke soud system. Diantara tempat yang perlu dipasangi mic antara lain, dalang, keprak, pesinden empat mic, Penggerong dua mic, gender barung, gender penerus, slentem, rebab, gambang, gong besar, kendang dua buah , siter, suling, kenong, Khusus mic untuk dalang perlu dipihkan yang paling bagus. Sebelum dalang naik panggung soud system ini perlu dicoba dulu untuk mengecek suaranya dll.

 

  1. Pelaksanaan Pergelaran Wayang

 

Kurang lebih pukul 20.00 WIB para pengrawit dan pesinden mulai naik panggung untuk klenengan terlebih dahulu dengan gending-gending bonangan. Setelah dalang naik panggung kira-kira jam 20.45 dilanjutkan patalon sampai suwuk. Tepat pukul 21.00 dalang mulai pergelarannya ditandai dengan memukul kotak dilanjutkan gending jejer sampai selesai kurang lebih pukul 04.30 WIB dengan ditandai tayungan maupun golekan.

 

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pergelaran sudah mulai

 

  1. Keamanan

 

Baik penanggap maupun panitia harus mengantisipasi keamanan disekitar pergelaran wayang karena kemungkinan adanya pencopet, pemabuk atau hal lain yang sekiranya akan mengganggu pergelaran. Disamping itu pengamanan tempat tamu undangan jangan sampai ditempati penonton umum sebelum tamu undangan hadir.

 

  1. Penyediaan konsumsi

 

Mungkin dianggap remeh namun tidak kalah penting juga yakni penyiapan konsumsi untuk dalang, swarawati maupun pengrawit. Khusus untuk dalang biasanya minta minuman tertentu baik itu teh manis atau pahit, air jeruk, bir, sprit maupun cukup air putih. Yang lebih penting lagi adalah kapan mengeluarkan/menyiapkan konsumsi untuk para swarawati maupun pengrawit saat makan malam itu? Untuk lebih bagusnya mengeluarkan konsumsi untuk para pengrawit itu disajikan pada saat adegan Goro-goro (tengah malam) atau mereka tidak beraktivitas sehingga mereka tidak terganggu. Namun kadangkala yang sering terjadi tidak memandang aktivitas dipanggung, pengrawit sedang beraktivitas apalagi saat perang tiba-tiba konsumsi datang dan mereka harus menerima bahkan melanturkan kesana-kemari. Kejadian ini sangat mengganggu sekali baik bagi para pengrawit maupun penonton karena mengurangi keindahan panggung bahkan mengganggu penglihatan penonton yang sedang tertuju ke aktivitas dalang (memecah konsentrasi). Dll

 

EVALUASI

 

Kegiatan evaluasi ini sangat perlu dilakukan untuk menilai keberhasilan penyelenggaraan maupun keberhasilan pentas dalang. Diharapkan dengan diadakannya evaluasi ini bisa mengetahui dimana letak kekuaranagn maupun kelemahannya sehingga dikemudian hari bila menyelenggarakan pergelaran wayang lagi dapat lebih baik dan sukses. Evaluasi bagi dalang sendiri juga perlu dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dalang dimana letak kesalahannya atau kekurangannya sehingga dikemudian hari bila melakukan pentas dapat sempurna dan baik. Namun dikalangan seni tradisi biasanya kegiatan evaluasi ini jarang dilakukan baik itu menyangkut penyelenggaraan maupun keberhasilan dalang dalam pentas.

Hal ini disebabkan ketertutupan dalang itu sendiri dalam menerima kritik dan sifat dalang yang merasa pandai dan tidak mau digurui. Dia merasa apa yang dilakukan atau yang dicapai sudah cukup dan merasa dimaui masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

You are here Kepustakaan Makalah Manajemen Pergelaran Wayang