Kronologi Wayang Kulit

E-mail Print PDF

Semenjak Hayam Wuruk menjadi raja di Majapahit, saat itu masih jaman Hindu, budaya wayang sudah ada yaitu disebut dengan wayang beber. Adapun bentuk wayang beber, masih berupa adegan-adegan wayang yang digambar pada lembaran kulit kayu waru atau kain halus dan dari tiap lembar berisi 4 adegan, sedangkan satu lakon dibuat 4 lembar jadi jumlahnya 16 adegan dalam satulakon (cerita). Kemudian pagelaran dengan cara membeberkan lembaran yang bergambar wayang tadi, setelah dibeberkan tidak dipegang oleh dhalang, tapi dalang hanya menceritakannya dari belakang gambar tersebut. Dikarenakan caranya dibeberkan, maka pertunjukan wayang itu dinamakan wayang beber. Sedangkan permulaan adanya wayang beber itu, hasil perkembangan dari gambar-gambar yang bermotif relief pada candi Penataran, sehingga bentuk gambarnya masih mirip seperti manusia.

Setelah berdirinya kerajaan Islam di Demak, ketika itu jaman para Wali mengembangkan agama Islam di bawah pimpinan seorang raja yang bernama Raden Patah, para wali turut menyempurnakan wayang beber untuk media syi'ar Islam. Namun pada tahun 1437 Saka, Raden Patah beserta para Wali merubah wayang beber dari bentuk lembaran menjadi dipisahkan satu-satu dan bentuk gambarnya menjadi miring, lembar dan tangannya dipanjangkan sudah tidak menyerupai gambar manusia. Hal ini karena berubahan dari akidah agama Hindu disempurnakan ke dalam akidah agama Islam, bahwa visualisasi wayang kulit tidak boleh menyerupai manusia, sebab dikhawatirkan menimbulkan pengkultusan pada diri manusia. Namun dari penyempurnaan itu baru diberi gagang (pegangan) pada setiap bentuk wayang, tepi belum bisa digerakkan bagian tangan karena bagian tangan belum difungsikan. Walaupun demikian sebagian gambar sudah dipahat (ditatah) seperti bagian mata, mulut dan bagian-bagian tertentu lainnya.

Selanjudnya Sunan Gunung Giri turut melengkapinya dengan membuat wayang Wanara (kera) seperti: Hanoman, Subali, Hanggada, Sugriwa, Anila dan sebagainya. Dari jenis wayang ini bermata dua dan dipahat atau dilubangi. Perubahan bentuk wayang beber menjadi wayang satu-satu, maka mempengarui cara pegelarannya yaitu tokoh-tokoh wayang dimainkan satu demi satu dan diperankan antara satu dan lainnya. Setelah ada perubahan bentuk wayang menjadi digerakkan satu-satu, maka dilengkapi dengan kelir (layar putih), dhalung (alat penerangan yang memakai sumbu dari kain lawe dan minyak kacang/goreng) yang digantungkan di atas posisi dhalang, memakai kedebog pisang karena wayangnya sudah bergagang, dan sebagainya. Dengan menggunakan kelir maka seorang dhalang menjadi tertutup kelir tidak terlihat oleh para penonton dari sisi depan, tapi hanya bayang-bayang hitam dari adegan wayang di depan pakeliran (panggung). Karena bentuk pagelarannya yang terlihat hanya bayang-bayang, maka sebagai seorang mengatakan bahwa pertunjukan itu dinamakan wayang. Jadi artinya wayang itu berasal dari kata bayang-bayang.

Penyempurnaan wayang kulit tetap berjalan dan selalu dilakukan oleh pada Wali, seperti Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang) juga ikut menyempurnakan bentuk wayang tersebut dengan diberinya tangan sehingga bagian tangan bisa digerakkan dan terlihat lebih hidup tatkala dimainkan dengan memakai tudingan oleh Dhalang. Bahkan Sunan Bonang pun turut melengkapi jumlah wayang dengan membuat wayang berjenis hewan-hewanan, dan wayang baris (pasukan perang) berikut senjata-senjatanya.Beliau selain membuat wayang, juga membuat alat musik yang dinamakan gamelan untuk mengiringi pagelaran wayang kulit. Dengan dilengkapi alat musik (gamelan), maka syi'ar Islam semakin semarak dan banyak diminati oleh semua lapisan masyarakat. Adapun jenis gamelan yang dibuatnya adalah gamelan Prawa, dan nama Prawa itu mengambil dari kata Purwa yang artinya kawitan (asal-mula). Sebab menyatakan asalnya gamelan yang dibuat untuk mengiringi pagelaran wayang kulit, oleh karena itu sampai sekarangpun mayoritas setiap pagelaran wayang kulit memakai gamelan Prawa. Yaitu gamelan yang memakai nada (iringan) tinggi dan kencang, serta jumlah nadanya:

1. Nada Susul

2. Nada Miring

3. Nada Sanga

4. Nada Sepuluh

5. Nada Panjang (blong)

Karena Raden Makdum Ibrahim sebagai perakit gamelan atau pembuat gamelan, maka terkenal dengan sebutan Sunan Bonang, dan gelar itu diambil dari salah satu nama karawitan (gamelan) yang beliau buat, yaitu bonang. Hal ini karena untuk mengenang jasa-jasa beliau yang begitu gigih dan sangat besar perhatiannya dalam pengembangan agama Islam secara kultur di pulau Jawa khususnya.

Wayang Kulit Cirebon

Sebagai seniman besar yang berjasa dalam perkembangan Islam di Jawa umumnya dan Cirebon khususnya adalah Raden Sya'id atau Raden Lokajaya yang bergelar Sunan Kalijaga. Beliau putra Tumenggung Wilatikta dari Tuban, dan usahanya dalam mengislamkan manusia dengan cara mengenali peradaban dan budaya atau adat istiadat yang mereka lakukan, kemudian tampa disadari oleh umat Hindu-Budha, bahwa budaya yang mereka miliki, sebenarnya dijadikan media pendekatan untuk penyebaran agama Islam secara arif dan bijaksana. Dengan siasat yang sangat halus dan berkesan tidak menentang arus budayaanya, akhirnya akidah mereka dapat diarahkan ke dalam akidah-akidah agama Islam. Karena dengan kemahiran sastra dan falsafahnya hingga dapat menguasai kultur dan tradisi yang ada untuk melahirkan misi Islamnya. Salah satu metode keberhasilan Sunan Kalijaga dalam mengembangkan Islam, yaitu memuarakan adat atau tradisi ke dalam agama Islam, sebab tradisi dan budaya agama itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, seperti baju dan celana, keduanya saling berhubungan erat (ketat). Jadi keselarasannya, yaitu budaya sebagai eksistensi agama dan agama sebagai aktualisasi budaya. Oleh karena itu metode syi'ar Islam yang dibawakan oleh para Wali selalu dilambangkan dengan seni budaya agar manusia dapat menghayati agamanya.

Cirebon adalah salah satu tempat terbesar di tanah Jawa, yang merupakan pusat pengembangan budaya wayang kulit, sebagaimana diriwayatkan dalam "Sejarah Babad Cirebon", tentang perjalanan Sunan Kalijaga atau Sunan Panggung sampai turun temurun kepada para dhalang (seniman) di Cirebon.

"Kocapa Raden Lokajaya putranipun Ki Wilatikta Tumenggung Tuban, sedya geguru ing Sunan Cirebon, prapta sampun ing Keraton Pakungwati. Jeng Sinuhun pinuju suwung. Lagiya Lokajaya mangu tenggah serawuhipun, dupi ciptanira hing galih, "Apa tan weruh aku ning kene wis lawas". Tan dangu ing wuri wonten cangkir mirah sepasang kebek isine. Nedya cangkir ing ngalap seja kainum. Cangkir angucap,"durung ana kang ngidini, teka wani nginum". Lokajaya kagiat nggenipun aningali cangkir bisa ngucap, semune kelingseman, nulya kaselehaken. Tuhu keramatipun Susuhunan Cerbon. Lokajaya langkung sedyanira tuhu ning guru, tan dangu nulya Jeng Susuhunan Cerbon rawuh, prapti sampun ing arsa. Lokajaya sigra anyungkemi ngaturi pangabekti. Jeng Susuhunan aningali Lokajaya tuhu ning Waliyullah, sigra kinanti lenggah sejajar. Ngandika Jeng Susuhunan, "katuran pembagi serawuhipun Rayi Lokajaya, lan kados pundi ing Ampel twin para kadang ing Bonang twin Undung?". Ngandika Lokajaya, "Tabaruk dalem, sagunging para kadang samiya basuki, ananing hamba nuhun sih kamarman dalem, mugi miwejang sejatining syahadat twin sampurnaning tohid". Jeng Sunan aningali ing lohilmahfud, Nabiyullah Khidir kang maringi piwejang, Nulya ngandika Jeng Sunan, "Rayi yen tuhu sedyanipun, mugi kersaha ing panggonan ingkang sepen". Sigra Lokajaya sinareng Jeng Sunan ngungsi ing wana kang sepi, prapta sampun ing wana sapinggiring lepen, soring kayu andul ngandika Jeng Sunan, "Rayi Lokajaya punika kemiri satus kangge wilangan, poma sampun linggar-linggar sapinggiring lepen punika lan rayi kula paringi cepengan hale jaga". Jeng Sunan nulya kondur. Lokajaya mituhu dawuhipun guru, yen dalu melangkring ing kayu andul, yen siang wangun makebonan. Kang akhiripun misuwur dados kasebat kebon Kalijaga. Dupi antawis sasinipun kemiri ingkang satus cacahipun dawah ing lepen, Lokajaya sigra anggogoni, kesaru wonten banjir ageng, Lokajaya nulya kentir kabiyas dugi ing dalam samudra (puser jeladri). Sigra cinandak kaasta dening Nabiyullah Khidir, nulya inget Lokajaya padang panrawangan kadya dening nagara, wowohan radi warna, kekembangan mancawarna, sampun ing arsanipun Baginda Khidir, Lokajaya sigra anubruk sujud aramba-aramba. "Duh Eyang nuhun sih tabaruk dalem, hamba kados pundi aningali sanes jaman". Nabiyullah Khidir ngandika sarwi gumujeng, "Jabang Kalijaga saiki sun paringi kantung lan panurat, lan age dahar sawarege, ganjarane wong mituhu pakoning guru". Kalijaga sugra dahar, ngraos sewu nikmat sewu rahmat. Sesampunipun dahar, ing raos seger tur padang panarawangan. Nulya winejang Sampurna Ning Taohid Sajatine Ning Syahadat. Sampun rampung genira mejang, Kalijaga matur kesuwun. Dupi antawis dinten, Kalijaya nulya pamit sigra kondur. Prapta sampun ing daratan tumurun teras manjing alas, metu alas, munggah gunung, tumurun gunung, lelantra sekersanipun.

Kocapa Jeng Kalijaga anglelantra sekersanipun ngantos prapti ing kebon kalijaga nitih kuda lumping. Sigra Jeng Sinuhun Cerbon prapti ing arsanipun, Kalijaga gumujeng sarwi ayungkemi. Jeng Sunan Cerbon ngandika sarwi mesem, "Rayi Kalijaga, kados pundi kang sinedya pikantuk punapa dereng, nanging cahyane anguwung-nguwung kadi pangrasukipun ilmu sejati?". Ngandika Jeng Kalijaga, "Kasinggihan dawuh dalem, tuhu tuwin Wali Kutub, uninga wangun marganing kamulyaan, hamba langkung satya tuhu mangarsa ing tuwan, saha nuhun idin bade mikun ing panggonan punika kebon kalijaga".

Jeng Sunan Cerbon anyumbadani Lokajaya mangun makebonan, sinareng wangun kelampahan Jaya Sampurna, adus saban daluh ing wayang seperteloning wengi. Kasuhur tangga desa, katah sami suhud, Ki Katim murid pembajeng. Antawis dinten Kalijaga medek arsanipun Jeng Susuhunan Cerbon, prapti sampun ing arsa. Ngandika Susuhunan Cerbon, "Kados pundi ingkang sukarya rayi?". Ngandika Jayeng Kalijaga, "Nuhun Sunedra surananing supena, kala dalu nyupena mundi wulan". Jeng Sunan uninga sedyanipun, ngandika "Rayi iki bakal pikantuk ganjaran putri Ratna Winaon, putra mami, pinasti jodone lan rayi jum'ah ajeng kadaupaken". Kalijaga matur Sumangga. Jayeng Kalijaga seba'danipun nikah lajeng jumenang imam lan remen manggung wayang kinarya syi'ar Islam, ngantosa dumugi ing tedak-tedaipun. Jeng Kalijaga kagungan putra jalu ingkang peparap Raden Nurkalam minangka ingkang yuga dados dhalang saturun-turunnipun ing Cerbon".

"Dalam suatu serita, Raden Kalijaga putra Ki Wilatikta yang menjadi Tumenggung di Tuban, ingin berguru kepada Sunan Cirebon, sampailah ke Keraton Pakungwati. Jeng Sinuhun sedang tidak ada di keraton. Sedang enaknya Lokajaya menyendiri sambil menunggu datangnya Jeng Sunan, lalu katanya dalam hati, "Apa todak tahu saya ada di sini sudah lama".Tak lama kemudian ada cangkir mira (tempat minum yang terbuat dari permata merah) sepasang penuh isinya. Maksudnya cangkir ingin diambil untuk diminum. Cangkir berkata, "Belum ada yang mengijinkan, berani-berani minum". Lokajaya merasa terkejud ketika melihat cangkir bisa berbicara, tampaknya merasa malu, terus ditaruh lagi. Benar-benar karomahnya Susuhunan Cirebon. Lokajaya lebih mantap keyakinannya pada guru, tak lama kemudian datanglah susuhunan Cirebon, berada dihadapannya. Lokajaya segera bersujud menghaturkan bakti. Jeng Suhunan melihat Lokajaya jelas nyata akan tanda kewaliannya, segera dirangkul untuk duduk bersama. Berkata Jeng Suhunan:"Saya haturkan selamat datang Rayi Lokajaya, serta bagaimana kabarnya di Ampel juga semua saudara di Bonang dan di Undung?" Lokajaya berkata:"Berkat do'a Paduka Alhamdulillah semua Saudara keadaannya baik-baik saja. Namun hamba mohon keikhlasan Paduka, semoga dapat memberikan wejangan syahadat sejati serta sampurnanya tauhid. Jeng Sunan lalu melihat pada lohilmahfud, Nabiyullah Khidir yang memberi ijazah kewalian. Lalu berkata Jeng Sunan:"Rayi, kalau benar maksudnya, semoga berkenan berada pada tempat yang sepi. Segera Lokajaya bersama Jeng Sunan menuju hutan yang sepi, datang sudah dihutan tepi sungai, di bawah pohon Andul. Berkata Jeng Sunan:"Rayi Lokajaya, terimalah kemiri seratus biji untuk perhitungan, usahakan jangan sampai pergi-pergi dari tepi sungai ini, dan Rayi Saya beri sesuatu pegangan untuk berjaga. Jeng Sunan lalu meninggalkannya. Lokajaya mematuhi semua nasehat gurunya, kalau malam bersandar di pohon andul, kalau siang berkebun. Yang akhirnya menjadi nama kebun Kalijaga. Lalu antara bulannya, kemiri yang berjumlah seratus itu jatuh ke sungai, Lokajaya segera mencarinya di dalam air, begitu datang banjir besar, Lokajaya kemudian hanyut terbawa air sampai tenggelam ke dasar lautan (samudra). Lekas ditangkap Nabiyullah Khidir, buah-buahan bermacam-macam, bunga beraneka warna, sudah berada dihadapan Baginda Khidir, Lokajaya lekas merangkak sujud berkali-kali. "Duh Eyang mohon pertolongan paduka, hamba ini bagaimana melihat lain alam". Nabiyullah Khidir bersabda sambil tersenyum, "Ananda Kalijaga sekarang Saya ingin memberi kantong dan panurat (pisau), serta lekas makanlah sekenyangnya, itu pahalanya orang yang mematuhi perintah guru". Kalijaga memakan semuanya, merasa sangat nikmat dan sangat rahmatnya. Setelah makan, merasakan sangat segar juga terang benderang. Kemudian diwejang (diberi ilmu) "Sampurnanya Tauhid Sejatinya Syahadat". Setelah selesai diwejang, Kalijaga berterima kasih. Terus beberapa hari kemudian, Kalijaga lantas permisi mau pulang. Sampailah turun kedaratan terus masuk hutan, keluar hutan, naik gunung turun gunung, pergi kemana-mana sesukanya. Cerita Jeng Kalijaga mengembara sesukanya sampai datang kembali ke kebun Kalijaga sambil naik kuda lumping. Tiba-tiba datang Jeng Sinuhun Cirebon di hadapannya, Kalijaga tersenyum sambil bersujud. Jeng Sunan Cirebon bertanya sambil tersenyum:"Rayi Kalijaga, bagaimana yang menjadi tujuan ketemu apa belum, tetapi cahayanya bersinar-sinar seperti sudah mendapatkan ilmu sejati?". Menjawab Jeng Kalijaga:"Berkah dawuh Paduka, nyata tuan Wali Kutub, tahu pada jalannya kemuliaan, hamba sangat tulus dan yakin kepada Tuan, dan mohon diijinkan hamba ingin bermukim di kebon Kalijaga ini. Jeng Sunan Cirebon mengijinkan Lokajaya untuk bermukim dan membangun perkebunan, sambil menjalankan kelakuan Jayasampurna, mandi setiap jam tiga malam. Termasyur di tetangga desa, banyak yang mempercayai, Ki Katim sebagai murid yang pertama. Antara hari kemudian Kalijaga datang menghadap Jeng Susuhunan Cirebon, datang sudah di hadapan. Bertanya Jeng Susuhunan Cirebon: "Bagaimana ada kepentingan apa Rayi?" menjawab Jayeng Kalijaga:"Mohon petunjuk tentang mimpi, semalam bermimpi menyangga bulan". Jeng Sunan mengetahui maksudnya, lalu berkata: "Rayi itu akan memperoleh jodoh seorang pitri namanya Ratna Winaon, putra Saya, bakal pasti jodohnya dan Rayi hari Jum'at akan dinikahkan". Kalijaga bersedia. Jayeng Kalijaga sesudah nikah lalu diangkat jadi imam (pemimpin) agama, lalu gemar manggung wayang untuk mensyi'arkan agama Islam, hingga samapai ke turun-turunannya. Jeng Kalijaga mempunyai putra laki-laki yang bernama Nurkalam, maka Beliaulah sebagai penerus dhalang sampai turun temurun di Cirebon".

Sunan Kalijaga setelah menemukan hakekat dan kema'rifatan Islam di Cirebon, maka beliau semakin rajin usahanya untuk menyempurnakan bentuk wayang kulit beserta ritual pagelarannya, semua disesuaikan dengan muara ilmu keislaman. Hal ini karena Sunan Kalijaga ingin mengislamkan orang-orang di Jawa dan Cirebon khususnya, yaitu dengan memunculkan karya seni budaya sebagai medianya. Adapun kesempurnaan yang dilambangkan ke dalam eksistensi wayang kulit itu, merupakan suatu gambaran-gambaran atau suatu perumpamaan syare'at agar semua umat manusia lebih mudah dan lebih jelas memahami ajaran Islam. Karena berda'wah dengan menggunakan alat peraga itu lebih dominan serta langsung dirasakan percontohannya oleh semua yang melihatnya. Jadi bukan berda'wah, arti da'wahnya itu menduga, jadi kesan syi'arnya tidak halus seperti peragaan atau pagelaran wayang kulit, karena tidak ada kesan yang nyata, bahwa percontohan orang-orang yang benar dan orang-orang yang salah itu dibuktikan dengan lakon wayang pada saat itu. Jadi syi'arnya itu lebih menyentuh pada nilai-nilai rasa manusia itu sendiri, bukan saja sekedar rasionya atau angan-angan Islamnya.

Dengan metode wayang kulit, Sunan kalijaga berhasil mengislamkan umat manusia, dan dikarenakan beliau mensyi'arkan ajaran Islam itu dengan senantiasa di atas pentas atau panggung wayang, kemudian beliau diberi gelar Sunan panggung atau Pangeran Panggung. Seyogyanya memakai gelar Sunan artinya Susuhunan atau junjungan manusia yang berderajad pada jaman para Wali karena keilmuanya.Sedangkan gelar Pangeran adalah predikat atau sebutan dari orang jaman dahulu, yang telah lulus ilmu kepangeranannya atau ma'rifatullah. Apabila ada yang menyebutkan bahwa Sunan Panggung itu berbeda dengan Pangeran Panggung, bukan berarti beda orangnya tetapi hanya gelar atau sebutannya saja. Itupun menurut silsilah sejarah Cirebon yang ada, namun yang namanya sejarah bukan untuk diperdebatkan, akan tetapi perlu kita arifi atau kita maklumi keberadaannya. Mengapa? Karena sejarah boleh berbeda versi menurut si penemu masing-masing, sedangkan penemuan orang itu belum tentu sama, sehingga terjadilah berbagai versi dalam sejarah. Walaupun banyaknya versi atau perbedaan sejarah di Cirebon atau di Jawa umumnya, yang harus dapat kita simpulkan adalah tujuan dari sejarah, yaitu mengikuti jejak ketauladanan beliau dalam agama, untuk menemukan ilmu keislaman yang sesungguhnya. Karena agama Islam itu diturunkan semenjak jaman Nabi Muhammad SAW hingga sekarang masih jelas pertanggungjawabannya dalam silsilah secara turun temurun kepada para putra dan pengikutnya. Maksudnya supaya menemukan ajaran Islam atau menjadi umat Islam bukan sekedar faktor keturunan atau karena dilahirkan oleh orang Islam, lalu otomatis bisa dijamin keislamannya.

SIMBOLIS WAYANG SEMAR

Sunan Panggung semakin yakin dan mantap untuk mensyi'arkan agama Islam melalui media pewayangan Cirebon, hingga semua tatanan ataupun aksesoris pagelaran secara sakral dan ritual wayang kulit Cirebon bernafaskan ajaran Islam. Visual wayang kulit yang telah dicontohkan oleh Sunan Panggung, perwujudannya disesuaikan dengan nilai-nilai falsafah agama. Dengan kepandaian sastra dan falsafah, maka Sunan Panggung membuat kesempurnaan bentuk wayangpun mengandung makna tuntunan agama. Seperti dicontohkan pada salah satu bentuk wayang semar Cirebonan yaitu :

- Berbadan bulat

- Berwarna badan hitam dan bermuka putih

- Bermata sipit

- Dagu atau mulutnya diikat pakai rantai sampai ke kaki

- Tangan kanan kelima jarinya dibuka

- Tangan kiri kelima jarinya digenggam

- Memakai gigi satu berwarna putih

- Memakai kuncung (rambut di kepala).

 

Nama Semar berasal dari kata samarun atau ghoib, maksudnya bahwa Sang Pencipta atau Tuhan itu Maha Ghoib. Menurut akronim kata semar ialah sesembahan ning masyarakat, arti dari masyarakat adalah manusia. Jadi maksudnya Tuhan Yang Maha Ghoib itu menjadi sesembahan manusia. Semar juga diartikan "Ning sesembahan iku ora samar" atau pada sesembahan itu tidak samar (tahu). Maksudnya bahwa manusia harus tahu atau tidak samar dan tidak ragu terhadap Tuhan Yang Maha Suci. Jangan sampai hanya kenal dan tidak tahu.

 

AWWALUDDINI MA'RIFATULLAH

Artinya:

"Awalnya orang beragama harus tahu kepada Allah".

- Adapun berbadan bulat itu menandakan bentuk alam atau dunia itu bulat.

- Berwarna badan hitam dan bermuka putih, artinya menunjukkan adanya alam kelanggengan atau akherat sehingga warnanya hitam, sedangkan bermuka putih mengandung arti adanya alam dunia atau alam padang, warna putih juga melambangkan kesucian. Selain itu juga makna warna hitam dan warna putih, apabila dimuarakan ke dalam ketauhidan Tuhan, maka berarti "Minal Ghoibi wasyahadati" yang artinya Tuhan itu yang ghoib dan yang tampak atau nyata. Adapun yang dimaksud ghoib, bahwa Tuhan itu ghoibing ghoib atau ghoibing dari yang ghoib yaitu Maha Ghoib sehingga tidak dapat dilihat dengan kasat mata biasa. Sedangkan Tuhan itu yang tampak atau nyata, artinya bahwa Tuhan bukan seperti makhluk atau jasmani manusia juga bukan seperti apa-apa. Tapi nyata disini artinya wajib adanya, sebab didalam sifat 20, bahwa Tuhan bersifat wujud artinya ada. Jadi ada itu mustahil kalau tidak wujud, tetapi wujud tadi bukan dhohir jasmani manusia apalagi makluk lainnya. Karena kalau jasmani manusia itu pasti terkena rusak, begitu pula dengan makhluk lainnya pasti terkena rusak dan bakal sirna. Sedangkan Allah SWT itu langgeng dan abadi, jadi mustahil kalau Allah itu berada pada wujud yang rusak atau terkena apes. Walaupun ada orang yang berasumsi bahwa nyata atau tampak itu dilihat dari kacamata batin atau mata hati, maka yang demikianpun bukan. Mengapa? Karena perlu kita pahami bersama, bahwa mata hati itu sanubari manusia itu juga tetap terkena rusak artinya orang yang beriman itu rumah Allah. Kalau ditafsirkan dengan pikiran yang sempit, bisa jadi akan terjerat dengan pahamnya sendiri, bahwa batin atau hati manusia beriman itu jadi rumah Allah, berarti Allah itu berada pada hatinya orang beriman atau dalam batin. Padahal bagi orang yang mau berpikir dengan akal yang tajam atau menggunakan dalil akli, sudah jelas yang namanya hati iti tiada lain adalah anggota atau anatomi manusia, jadi pasti terkena rusak juga. Kalau artinya Tuhan itu yang tampak atau nyata, maka kita kembalikan kepada dalil yang berbunyi "Aina robbi bi robbi" artinya yang tahu Tuhan itu hanya Tuhan.

- Bermata sipit, artinya menggambarkan seorang yang sedang melakukan dzikir atau mengheningkan cipta kepada Allah SWT. Jadi maksudnya manusia harus senantiasa berdzikir dan berdo'a kepada Allah SWT, supaya selalu mengingat-Nya. Kemudian dapat diartikan juga, bahwa mata itu penglihatan, sedangkan sipit artinya kecil. Jadi maksudnya menurut penglihatan Allah SWT, bahwa semuanya itu kecil jika dibandingkan dengan Allah Yang Maha Besar.

- Dagu atau mulutnya diikat pakai rantai sampai ke lali, itu mengandung arti bahwa segala ucapan manusia harus berhati-hati dan harus selaras dengan tindakan atau perilaku hidup sehari-hari. maksudnya ucapan itu harus dinyatakan dengan perbuatan yang benar.

- Tangan kanan kelima jarinya dibuka, artinya menunjukkan adanya rukun Islam itu lima bagian, yaitu: Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji. Selain itu juga dapat diartikan bahwa sempurnanya benar itu ada lima bagian, separti:

1 Benarnya menurut diri pribadi.

2 Benarnya menurut keluarga.

3 Benarnya menurut masyarakat atau umum.

4 Benarnya menurut pemerintah.

5 Benarnya menurut agama.

Jadi maksudnya dikatan benar itu, kalau diakui menurut kelima bagian di atas dan jangan sampai benar itu menurut salah satu,

itu berarti tidak sempurna benarnya.

- Tangan kiri kelima jarinya digenggam, artinya bahwa manusia harus menggenggam rukun Islam yang lima dan menjalankan shalat lima waktu, begitu pula kesuksesan manusia hidup harus menggenggam lima macam: jujur, wekel (rajin), pintar, berani (kendel), benar. Karena manusia awalnya harus jujur, setelah punya jujur kemudian wekel atau rajin dan kalau rajin maka akan pintar, jika manusia sudah pintar maka dengan sendirinya timbul percaya diri menjadi kendel atau berani. Dari keempat tadi maka manusia harus melakukan dengan benar.

- Memakai Gigi berwarna putih, artinya menunjukkan bahwa manusia harus gigih (kuat) dan kokoh imannya kepada Allah Yang Maha Esa, serta warna putih artinya suci. Jadi maksudnya bahwa Tuhan itu Maha Esa juga Maha Suci.

- Memakai Kuncung Kencana Sari, artinya kuncung berasal dari kata Kun dan Muncung atau muncul dan timbul yaitu Kun Fayakun maka jadi-jadilah bumi langit seisinya. Kemudian kencana artinya emas atau mulya dari sari itu kembang, jadi maksudnya Tuhan menciptakan bumi langit seisinya, adalah untuk mengembangkan kemulyaan hidup manusia di dunia.

Motif Gagang (Campurip) Dan Tuding Wayang Cirebon

Disamping menyempurnakan bentuk wayang kulit, Sunan Panggung juga membuat gagang untuk pegangan wayang kulit yang dinamakan "Campurip" dan "Tuding" yaitu alat penggerak tangan wayang kulit bermotifkan bawang siungan atau seperti siungan bawang dengan diberi tanda keratan lima kali, dan cara memegang wayang kulit menurut aturan yang benar adalah dengan menempelkan jempol/ibu jari di bawah bendolan atau bawang siungan yang berkerat lima kali. Isyarat itu mengandung makna, apabila orang sudah memegang dan melakukan rukun Islam yang lima, maka menjadi jempol atau sempurna Islamnya. Lalu pegangan wayang kulit dinamakan campurip artinya campuring urip atau campurna hidup yaitu campur hidupnya sang dhalang kepada wayang sebab wayang tidak dapat bergerak sendiri kalau bukan geraknya sang dhalang, juga wayang tidak bisa bicara kalau bukan ucapan sang dhalang. Jadi wayang itu merupakan gambaran manusia yang menyatakan "La khaula wala quata illa billahil aliyil adzim", artinya tiada daya dan kekuatan manusia kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung, oleh karena itu kepasrahan manusia kepada Sang Pencipta iti diibaratkan seperti wayang. Yaitu benar-benar tidak mengakui keberadaannya dan memang tidak bisa apa-apa, kecuali semuanya itu adalah kehendak sang dhalang. Demikian pula sirnanya diri manusia karena larut ke dalam samudra Illahi.

Tuding wayang itu berkerat lima kali, serta Tuding itu akronim dari kata tuduhing artinya petunjuk. Sehingga dapat diartikan, bahwa petunjuk kesempurnaan agama adalah petunjuk kesempatan manusia semenjak di kandung juga ada lima , yaitu:

1. Irodat, yang meliputi

2. Sawiya

3. Loama

4. Amarah

5. Mutma,inah

Dari irodat huruf depannya I, lalu sawiyah depannya S, loama huruf depannya L, kemudian amarah huruf depannya A, serta mutma'anah haruf depannya M. Jadi kalau kita baca hurup depan dari kelimanya, maka berbunyi Islam. Dengan petunjuk yang lima macam di atas, bahwa Islam itu sudah ada lebih awal sebelum manusia dilahirkan ke alam dunia. Maka dari itu, setelah manusia dilahirkan ke alam dunia diwajibkan untuk mencari Islam agar bisa kembali menjadi Islam. Asalnya Islam kembali Islam. Sebab Islam adalah agama yang sempurna bagi manusia, artinya kesempurnaan Islam adalah manusia. Sebagaimana Allah menyempurnakan agama adalah Islam, Juga Allah menyempurnakan makhluk itu manusia. Jadi relevansi kesempurnaan antara Islam dan manusia yaitu Islam bukan manusia, manusia bukan Islam, tapi Islam itu manusia sesungguhnya. Apalagi orang tidak ketemu dengan Islam, maka sama halnya kelak tidak ketemu untuk kembali sebagai manusia. Karena Islam hanya bagi manusia bukan untuk makhluk lainnya.

Anggah-Ungguh Bahasa Wayang Kulit

Sarana manusia di dalam menyempaikan hasratnya kepada orang lain dalam berkomunikansi adalah bahasa. Namun sebelum manusia dapat menguasai bermacam-macam bahasa, tentunya lebih dahulu mengenal dan memperoleh bahasa dari faktor lingkungan keluarga yang disebut bahasa ibu. Semenjak kecil bahasa ibu sangat dominan serta berpengaruh bagi perkembangan sikap dan pola pikir sang anak, jika tidak ditanamkan cara berbahasa yang baik, maka tidak mengerti bagaimana tata krama berbicara terhadap orang tua, saudara dan teman dalam lingkungannya. Sebab hilangnya budaya bahasa yang baik dengan sendirinya akan berdampak negatif terhadap si anak, kemudian akhirnya tidak dapat membedakan antara arang tua dan teman bahkan bisa jadi orang tuanya dianggap seperti pada teman sebaya. Apalagi pengaruh budaya dan bahasa asing yang tidak memakai etika dalam berbahasa dengan orang tua, sehingga sangat bertentangan dengan adab sopan santun kita orang timuran yang dikenal dengan kehalusan tutur kata dan berbudi bawalaksana.

Dengan hilangnya etika bahasa, terjadilah kesenjangan jiwa manusia dalam kesadaran hidupnya seperti seorang anak berani pada orang tua, murid berani pada guru, bawahan berani pada pimpinan dan sebagainya. Kenyataan sudah banyak membuktikan, bahwa begitu drastisnya penurunan grafik norma-norma susila dan peradapan atau akhlak manusia semakin merosot. Hal ini terjadi salah satu akar penyebabnya kita lalai dengan keluhuran budaya awal yang telah diwariskan orang tua melalui tingkatan bahasa jawa dalam media pewayangan di pakeliran, seperti:

1. Bahasa ngoko yaitu bahasa yang digunakan untuk berbicara dengan orang sebaya yang sudah akrap atau kepada orang yang lebih muda yang tidak sederajat.

2. Bahasa madya yaitu bahasa ngoko yang kecampur dengan bahasa krama, digunakan untuk pergaulan denga orang yang belum akrab.

3. Bahasa krama yaitu bahasa yang digunakan pada orang yang sebih dihargai, baik orang tua, pimpinan atau orang muda yang berderajat.

4. Bahasa krama inggil yaitu bahasa halus untuk orang yang sangat dihargai, misalnya menghadap raja, pengagung dan sebagainya.

5. Bahasa kedaton yaitu bahasa para sentana atau abdi keraton yang digunakan untuk dialog dengan sesama dihadapan seorang raja dalam keraton.

6. Bahasa Kawi (sansekerta) yaitu bahasa yang sangat halus dan digunakan untuk tetembangan dan tembang (suluk) dalam adegan wayang

Tingkatan bahasa yang digunakan dalam percakapan wayang kulit, semua itu menunjukan perbedaan derajat antara seorang anak terhadap orang tua atau sifat kaula terhadap gusti (pengagung) dan sebagainya. Perlu diadakan percontohan demikian karena kita manusia antara satu dengan yang lainnya mempunyai derajat berbeda. Walaupun benar hakekat manusia itu adalah sama, baik Nabi, Wali ataupun manusia jaman sekarang, tapi yang membedakan itu kesyare'atan atau lahiriyahnya yang disebut derajat. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penempatan bahasa sesuai dengan derajat masing-masing, supaya dapat menghormati dan menimbulkan rasa kasih sayang sesama manusia.

Tatrapan Dan Makna Gamelan Di Panggung

Sebelum menata wayang kulit di kedebog atau janturan, tetrapan gamelan terlebih dahulu kita pasang di atas panggung sesuai dengan posisi masing-masing. Adapun penempatan gamelan menurut pagelaran wayang kulit Cirebon, adalah sebagai berikut:

1. Kotak (peti) wayang di sebelah kiri dhalang (pemain wayang).

Kotak wayang sebagai tempat penyimpanan wayang setelah pagelaran selesai. Hal ini mengisyaratkan bahwa kita kelak apabila meninggal dunia, maka dimasukkan ke dalam liyang lahat (kubur). Jadi makna kotak wayang kulit adalah sebagai alam kubur (liyang lahat).

2. Gender di belakang tempat duduk dhalang dan dimainkan oleh istri dhalang atau seorang perempuan.

Gender akronim dari kata Mugen ing dederan artinya patuh pada nasehat/peraturan. Gender berfungsi sebagai pengiring nada ketika dhalang sedang bercakap-cakap atau mendialogkan wayang, tetapi kalau dhalang tidak mendialogkan wayang, maka gender tidak dibunyikan (berhenti). Demikian pula mengandung arti bahwa kita harus patuh dan ta'at pada nasehat (peraturan) Allah SWT, karena yang dimaksud perkataan dhalang itu diibaratkan seperti firman Allah SWT. Jadi manusia (wayang) harus mengikuti nada agama Allah yang telah difirmankan-Nya. Dan apabila Allah tidak menfirnamkan sesuatu dalam kitab-Nya, maka manusiapun tidak melaksanakannya. Oleh karena itu genderpun tidak akan dibunyikan jika dhalang tidak sedang berbicara dalam pagelaran.

Kemudian gender selalu dimainkan oleh istri dhalang atau seorang perempuan, itu artinya bahwa dalam bahtera rumah tangga seorang istri harus mematuhi nasehat/peraturan sang suami.

3. Saron (kening) dua pangkon di belakang gender.

Saron asal kata saru-an artinya menyimpang, sedangkan kening sinonim dari kata bening atai jernih

Jadi saron (kening) dua pangkon mengandung arti bahasa manusia jangan sampai menyimpang atau melakukan kesalahan tentang pengertian dan penerapan amar ma'ruf dan nahi munkar, tetapi kita harus jernih atau waspada, apakah yang dimaksud amar ma'ruf dan nahi munkar menurut Allah SWT. Sebab apabila menurut pengertian secara harfiah manusia, amar ma'ruf ialah menjalankan perintah Allah dan nahi munkar ialah amar ma'ruf dan nahi munkar? Karena dari segala perintah dan larangan Allah itu mengandung kemaslahatan bagi manusia dengan sesama yang disebut hubungan horizontal (Hablu minallah).

4. Gong disebelah saron (kening) di belakang kotak wayang serta penabuh harus menghadap ke belakang.

Gong dapat diartikan meng-iya-kan atau membenarkan. Juga gong kalau menurut bahasa Jawa kuna artinya besar. Sehingga makna gong pada wayang kulit Cirebon ialah membenarkan kebesaran Sang Pencipta. Dimana kebesaran itu dilambangkan pada 3 (tiga) macam gong di dalam pagelaran, yaitu:

1. Gong kecil berbunyi "guk", asal dari kata "angguk-angguk" menandakan gerak atau laku lampah. Artinya gerak atau laku lampak adalah Af'alullah.

2. Gong sedang berbinyi"gung", asal kata "Yang Agung". Artinya Yang Maha Agung adalah Sifatullah.

3. Gong besar berbunyi "ger", asal dari kata "angger" atau langgeng. Artinya Yang Maha Langgeng adalah Datullah.

Kemudian penabuh gong harus menghadap ke belakang, itu mengandung arti bahwa manusia harus melihat ke belakang akan asal-mulanya diri serta harus tahu kembalinya diri. Yaitu dari tiga macam yang meliputi, Datullah, Sifatullah dan Af'alullah. Agar jangan sangsi dengan Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Selain itu pula gong dapat diartikan menurut secara umum bahwa bunyi guk, gung, ger yaitu jangan cuma angguk-angguk saja, kalau menyembah Yang Maha Agung itu harus angger (tetap).

Adapun aturan atau cara memainkan gong, yaitu memukul gong kecil 5 kali, yang tiga 3 lambat (lama) dan yang 2 cepat. Demikian melambangkan Shalat 5 waktu, yaitu 3 waktu lambat (lama) dan 2 waktu cepat. Adapun 3 waktu lambat (lama) adalah Isya menuju waktu Subuh, dari Subuh menuju waktu Dzuhur dan Dzuhur menuju waktu Ashar. Sedangkan 2 waktu cepat adalah Ashar menuju waktu Magrib dan dari Magrib menuju waktu Isya.

Setelah gong kecil dibunyikan 5 kali lalu memukul gong sedang atau gong besar satu kali, artinya setelah kita melaksanakan shalat 5 waktu itu menghadap Yang Maha Agung, maka itu baru benar. Sebabnya gong sedang dan gong besar dipukul hanya satu kali, artinya Yang Maha Agung dan Yang Maha Besar itu hanya Allah Yang Maha Tunggal.

Ada pendapat orang yang mengatakan bahwa tidak boleh menggantung gong. Pendapat itu tidak salah, tetapi harus dibuktikan kebenarannya sebab pengertian menggantung di atas adalah menggantungnya manusia menyembah Alllah Yang Maha Agung alias tidak anger (tetap), maka menurut hukum syare'at agamapun tidak dibenarkan. Sedangkan bagi orang yang mau berfikir secara jernih bahwa pendapat tadi tidak tertuju pada visualisasi gong yang digantung tetapi bahasa itu merupakan simbolis. Sehingga di dalam bahasa itu mengandung arti kiasan yang halus kita ketahui maksud dan tujuannya, supaya jangan hanya percaya tetapi harus yakin tanpa percaya. Sebab orang yang hanya percaya, maka mempunyai sifat ragu-ragu dalam sesuatu hal, karena tidak tahu pada bukti yang dirasakannya. Tetapi bagi orang yang tidak konsekuen (jujur), maka percaya itu dianggap sama dengan yakin, kemudian asal yakin saja, padahal yakin demikian itu namanya atas dasar percaya. Adapun misalnya terjadi sesuatu yang kata orang lain disebut musibah atau bahaya, maka faktornya adalah karena anda mempunyai sifat ragu-ragu terhadap apa yang dilakukan dan dipahami. Oleh karena itu jika seseorang masih memperbedakan tentang paham dan menganggap bahwa paham sendirinya saja yang benar itu berarti orang tersebut belum yakin atau belum tahu pada hakekat agamanya. Akhirnya kita kembali kebenaran itu kepada Allah SWT, yang menganjurkan kita agar menjadi manusia yang berfikir dan menjadi manusia yang bimbang dalam beragama, sebab bimbang agamanya sama halnya bimbang kepada Allah SWT.

5. Klenang di sebelah kiri kotak wayang.

Klenang singkatan dari kata Klaten nang atau lupa kepada. Lalu dilambangkan dengan 2 buah klenang yang kanan dan kiri. Artinya bahwa kita tidak boleh lupa kepada Allah SWT apabila disaat enak atau tidak enak, disaat sehat atau sakit, disaat kaya atau miskin, dan sebagainya.

6. Kemanak di sebelah kiri kotak wayang di depan Klenang dan berfungsi sebagai pembantu dhalang untuk mengambilkan wayang pada janturan pada sisi kiri.

Kemanak padan kata dari kemenak yaitu berlimpah kenikmatan (enak). Dimana kemanak ada 2 buah yang dimainkan secara naik-turun atau ke atas-ke bawah. Jadi simbolis kemanak tersebut, bahwa manusia tidak boleh terlena kepada limpahan nikmat yang dirasakan, sebab sebentar akan naik dan tak lama akan turun. Begitu pula dengan kedudukan (jabatan) sementara di atas kelakpun akan ke bawah.

7. Kenong-Jengglong di belakang saron (kening)

Kenong mengambil kata dari kata Nongsongi atau memayungi, sedangkan Jengglong asal dari kata Jeglong yanitu rendah (di bawah). Jadi artinya bahwa kita harus bisa memayungi pada orang-orang yang berderajat rendah atau berkemampuan di bawah kita.

8. Penerus (Kedemung) di sebelah kiri saron sebelah kanan gong.

Penerus (kedemung) artinya melanjutkan atau meneruskan. Jadi maksudnya bahwa kita harus bisa melanjudkan ajaran-ajaran Allah yang telah diwariskan oleh orang tua kita, agar kelak anak-cucu kita jangan tersesat dalam kemunkaran.

9. Kendhang dan Bedhug di sebelah kanan agak ke depan dari kenong-jeglong.

Kendhang singkatan dari ngangken kandhang atau mengaku saudara. Macam kendhang ada 2, yang besar berbunyi ting-deng artinya penting gegandengan, yang kecil berbunyi pung-pung artinya mampang-mumpung atau sombong. Kemudian bedhug asal dari kata adhag-udhug atau takabur serta bedug adalah deng artinya sedeng (sederhana). Jadi maksudnya bahwa kita harus mengaku saudara kepada sesama manusia dengan cara mementingkan gegandengan, yang kecil berbunyi pung-pung artinya mampang-mumpung atau sombong. Kemudian bedhug asal dari kata adhag-udhug atau takabur serta bunyi bedug adalah deng artinya sedeng (sederhana). Jadi maksudnya bahwa kita harus mengaku saudara kepada sesama manusia dengan cara mementingkan gegandengan dan jangan mempunyai sifat sombong dan takabur, tetapi secara sederhana.

10. Bonang di sebelah kanan depan kendhang dan bedhug, serta menghadap ke arah dhalang.

Bonang singkatan dari kata babon dan lanang atau perempuan dan laki-laki. Artinya Allah menciptakan manusia dari jenis perempuan dan laki-laki.

11. Gambang di sebelah kanan bonang menghadap ke depan dekat janturan wayang sebelah kanan

Gambang asal dari kata gamblang atau jelas dan nyata. Lalu gambang berjumlah 20 wilah (bilah), artinya bahwa kita harus jelas dan nyata dengan sifat wajib Allah yang 20. Dari jumlah 20 yang selalu dipakai setiap hari adalah 17 dan 3 untuk sesorog. Hal ini mengandung arti bahwa 17 raka'at shalat 5 waktu setiap hari, sedangkan yang 3 sebagai sesorog adalah : 1. Cipta, 2. Rasa, 3. Karsa

Jadi maksudnya bahwa cipta, rasa dan karsa itu meliputi shalat kita setiap hari.

12. Suling di sebelah kanan saron (kening)

Suling singkatan dari suka eling. Lalu jumlah lubang suling ada 7 yang dihembuskan pada lubang yang 1. Jadi maknanya bahwa kita harus selalu ingat kepada tujuan hidup ini untuk kembali kepada Dzat Yang Maha Tunggal. Kemudian sulingpun berbunyi tulat-tulit dapat diartikan tulat itu telat (terlambat) dan tulit artinya sulit. Jadi artinya jangan terlambat selagi masih hidup di dunia untuk tahu pada tujuan kembali kepada Dzat Yang Maha Tunggal, sebab kalau terlambat maka akan sulit menemukan-Nya. Mengapa demikian? Karena Allah tidak akan menerima taubat seseorang apabila sudah menunggal dunia.

13. Kebluk (Cengkug) di sebelah kiri kenong jengglong

Kebluk artinya malas, sedangkan cengkug asal dari cengkeg artinya menduga-duga. Jadi maknanya bahwa apabila kita malas tidak mau membuktikan sendiri maka tidak tahu dan akan menduga-duga. Bunyi kebluk (cengkug) ialah ting-dung asal dari kata tempating atau dunungng. Artinya bahwa kita jangan hanya menduga-duga pada tempat-Nya atau adanya Allah Yang Maha Tunggal.

14. Beri (kecrek) di sebelah kanan tutup kotak wayang sebelah kiri gambang serta membantu dhalang untuk mengambilkan wayang pada janturan sebelah kanan.

Beri asal dari kata mbeberi atau menjelaskan, sedangkan kecrek artinya heran. Jadi artinya apabila kita menjelaskan ketauhidan Tuhan janganlah merasa heran, sebab orang yang bisa menjelaskan ketauhidan Tuhan Janganlah merasa Heran, sebab orang yang bisa menjelaskan itu mestinya sudah tidak heran (tahu). Karena kosekuensinya orang yang menerangkan pengetahuan itu dasarnya harus tahu dahulu, juga orang yang mengajarkan pangaweruh itu asalnya weruh dulu.

15. Tutup kotak wayang di sebelah kanan dhalang.

Tutup kotak wayang artinya tutup usianya manusia hanya Allah Yang Maha Tahu.

Selain tatrapan gamelan juga kedebog pisang sebagai panggungnya wayang dipasang paling depan, dua batang kedebog pisang berjajar, yang paling depan pangkal pisang di sebelah kanan dan agak ditinggikan, lalu kedebog satunya di pasang lebih rendah dari yang di depan serta pangkal pisang di sebelah kiri. Kedua kedebog pisang di pasang memakai alat penyanggah yang disebut tapak dara. Selesai memasang kedebog pisang lalu memasang kelir (layar) dengan cara memasukkan tiang kayu runcing yang disebut gligen ke dalam lobang jahitan kelir dari sisi kanan dan sisi kiri, terus ditancapkan ke kedebog pisang sambil ditarik kedua sisinya. Bagian atas kayu gligen diikatkan pada palang bambu yang disebut gotongan di atas kelir. Setelah kencang lalu bagian bawah kelir yang diberi lobangan ditancapkan ke gedebog dengan menggunakan pasak kayu yag disebut placek sampai merata lalu lobangan bagian atas kelir di kaitkan dengan tambang yang disebut pluntur ke palang bambu, disetiap lobang ditarik agar kelir menjadi kencang.

Kelir wayang kulit terbuat dari kain berwarna putih dan hitam. Yang putih berukuran panjang kurang lebih 4 samapi dengan 5 meter dan lebar kurang lebih 2 meter. Disekeliling kain putih dilapisi kain berwarna hitam dengan ukuran lebar kurang lebih 20 sampai dengan 30 cm. Adapun warna hitam bagian atas digunakan sebagai lelangit atau langit-langit, sedangkan warna hitam bagian bawah kelir digunakan sebagai lelemah atau sebagai tempat berpijaknya wayang yang dinamakan bumi.

Masud dari pada kelir berwarna putih itu menandakan adanya alam terang yaitu alam dunia, dengan kelir dilapisi warna hitam itu melambangkan adanya alam akherat. Maka adanya kelir berwarna putih dan hitam itu melambangkan bahwa Allah telah menciptakan dua alam yaitu alam dunia dan alam akherat.

Paripurna pemasangan kelir di atas kedebog pisang, kemudian memasang gantungan dhalung di bagian atas dari sisi kanan ke sisi kiri. Dhalung digunakan memakai rantai serta jarak dhalung dari kelir kurang lebih 1 jengkal lima jari orang dewasa dan ujung dhalung yang disebut pelen kira-kira searah dengan wale-wale yang dibuat dari anyaman pelepah pisang yang di pasang di atas dhalung, agar dapat melingungi atap tarub dari nyala api.

Dhalung memakai sumbu kain lawe berukuran kurang lebih 20 meter di tekuk-tekuk seukuran lobang pelen dhalung, agar dapat dimasukkan ke dalam dhalung. Lalu diisi minyak kacang atau minyak goreng secukupnya, kira-kira batas pengisian minyak di periuk dhalung setinggi lobang pelen, agar jangan kelur (netes) ke ujung dhalung.

Untuk menarik sumbu dhalung memakai capit yang terbuat dari beri atau plat besi yang agak tebal. Kemudian di bagian bawah kedebog pisang diberi potongan pelepah pisang untuk menadahi abu dhalung atau jatuhnya api sumbu ditarik oleh dhalung.

Dhalung digantungkan persis di atas duduk seorang dhalung, dan jaraknya kurang lebih 1 jengkal di atas kepala dhalang saat duduk di bawah dhalung.

Makna Janturan Wayang Kulit

Pemasangan wayang kulit di kedebok sisi kanan dan sisi kiri yang ditancapkan secara berurutan disebut janturan. Sebelum itu kita buka dahulu tutup kotak wayang untuk dipasangkan pada posisi sebelah kanan tempat duduk dhalang, baru kemudian terlihat isi muatan wayang kulit di dalam kotak (peti) yang telah tersusun secara berurutan dan dilanjutkan memulai janturan dari bagian yang paling atas ialah sebagai berikut:

1. Kemangmang

Ialah wayang bergambar api yang membara (menyala). Gambaran ini menujukkan bahwa adanya makhluk yang diciptakan oleh Allah dari unsur api yang bernama sang Idajil (Iblis). Seperti yang tercantum di dalam Al-Qur'an: (15:27)

Waljanna Kholoqnaahu MinQoblu Minnaris Samuumi

Artinya: "Dan kami telah menciptakan Iblis sebelum Adam dari api yang sangat panas". Namun proses terciptanya berawal dari Nurullah, Nurulah yang meliputi Nur Muhammad, dan Nur Muhamad yang meliputi pada api yang sangat panas kemudian menjadi Idajil (Iblis). Jadi adanya kemangmang dalam janturan pertama karena Iblis?Jin adalah makhluk yang pertama diciptakan oleh Allah.

2. Manuk Beri

Ialah wayang kulit yang bergambar manuk (burung) yang dinamakan Beri. Kata Manuk berasal dari manukma atau menjelma, sedangkan beri akronim dari bersih ing diri atau suci. Jadi gambaran ini menunjukkan bahwa, adanya ciptaan Allah yang menjelma sebagai makluk yang suci, tidak memiliki nafsu dan senantiasa patuh pada segala perintah Allah ialah Malaikat. Sampai diperintahkan Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam juga mematuhinya. Dikarenakan mendapat perintah oleh Allah untuk bersujud dan aptuh kepada Nabi Adam, sehingga Malaikat selalu mendampingi Adam atau manusia untuk mengatur segala urusannya dan menjadi saudara manusia yang paling dekat, semenjak manusia berada dalam kandungan, hingga dilahirkan ke dunia sampai datang ke yaumil akhir (meninggal). Jadi Malaikat diberi kewenangan oleh Allah untuk mengatur serta mengurus dari segala kebutuhan hidup manusia dengan setia mendampinginya. Oleh karenanya, kita manusia sedapat mungkin jangan melalaikan apalagi tidak mengetahuinya, karena sebenarnya Malaikatlah yang telah ditugaskan oleh Allah untuk membantu manusia dari segala urusannya. Tetapi apabila manusia tidak mengetahuinya, maka nanti Jin atau syetan yang akan menggantikan sebagi penolong manusia untuk menyesatkannya. Hal ini dapat kita hayati dalam Al-Qur'an: (97:1-5), yang artinya:

1. Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan.

2. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

3. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

4. Pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

5. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

Terjemahan di atas perlu kita tafsirkan atau kita hayati secara seksama, agar jangan menyimpang dan berpandangan sebelah mata nanti tidak ketemu dengan apa yang dimaksud. Yang dimaksud seksama ialah bersama-sama antara lahir dan batin, secara syare'at dan hakekat atau majaji dan hakikinya, supaya lebih teliti dan diyakini atas kebenarannya. Apabila dilihat dari dua sumber dalil agama yaitu dalil nakli dan dalil akli, maka ayat yang pertama disebutkan bahwa, Allah telah menurunkan Al-Qur'an pada malam kemuliaan, itu khabar nyata atau khabar yang benar dari Al-Qur'an yang disebut dalin nakli. Sedangkan kabar yang tersusun tadi, perlu kita lanjudkan dengan suatu pembuktian secara konsekuen (jujur), dengan menggunakan ketajaman logika atau akal nyata yang disebut dalil akli. Jadi dalil keduanya tidak boleh dipisahkan harus disatukan keselarasannya agar relevan. Maksudnya ada khabar tentang turunnya Al-Qur'an pada malam kemuliaan, yang dinamakan Al-Qur'an secara majiji atau syare'at ialah kitab suci yang tersurat yaitu kalamullah yang ditulis didalamkitab. Dan buktinya adalah Al-Qur'an yang berisikan surat-surat dalam 30 Juz. Kemudian secara hakiki atau hakekatnya adalah kitab suci yang tersirat yaitu kalamullah yang meliputi badan jasmani manusia, dan buktinya adalah semua organ tubuh manusia. Maka kesempurnaannya adalah tahu kepada kitab yang tersirat dan kitab yang tersurat, juga harus tahu alam sagir dan alam kabir.

Menurut kitab yang tersirat bahwa, Al-Qur,an ialah tubuh manusia. Dimana Allah telah menurunkan Al-Qur'an artinya Allah telah menciptakan dhohir manusia pada malam kemuliaan. Sedangkan malam kemuliaan itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan, menurut public human bahwa malam kemuliaan itu ialah lailatul qadr dimana malam itu apabila orang mendapatkannya sedang ibadah, maka akan berpahala seribu bulan atau selama kurang lebih 83 tahun 4 bulan. Walaupun artinya secara umum demikian, namun itu wallahu alam, tepi kalau kita logikakan secara positive thinking yang namanya pahala adalah ganjaran kebahagiaan atau kenikmatan yang diberikan Allah kepada manusia. Sedangkan kenikmatannya itu sampai begitu luar biasa hingga bernilai lebih banyak dan disuratkan lebih baik dari seribu bulan, padahal pahala atau kenikmatan yang tersirat menurut Alam sagir adalah tetesan air yang keluar dari tulang sulbi manusia yang dapat diukur kenikmatannya walaupun dengan kenikmatan seribu bulan dari yang lainnya.

Kemudian pada ayat keempat ialah pada malam itu turun Malaikat-Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Jadi menurut pengertian umum atau yang ada di alam kabir bahwa semua Malaikat diturunkan oleh Allah ke bumi atau dunia untuk memberikan keberkahan kepada manusia pada malam itu (lailatul qadr) dengan mengatur dari segala urusan di muka bumi atau dunia. Selain pengertian secara umum menurut kapasitas manusia yang benarnya itu variasi, juga ada pengertian khusus menurut kajian secara hakiki yang berorientasi pada alam sagir bahwa pada saat sperma diturunkan ke rahim seorang istri, kemudian Allah menjadikan segumpal darah dan segumpal darah dijadikan segumpal daging, tulang belulangyang dibungkus daging, dan sesudah itu Allah jadikan ia makhluk yang berbentuk sempurna ialah manusia atau janin di dalam kandungan. Turunnya para Malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Allah untuk mengatur segala urusan manusia sejak dikandungan hingga manusia dilahirkan. Jadi hakekat Malaikat adalah saudara kita yang disebut "sedulur papat kelima pancer" atau saudara empat limanya adalah kita. Setelah semuanya teturus denga baik, maka ayat kelima "Salamun Hiya Hatta Mathla'ilfajri", artinya malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. Maksudnya ketika itu jabang dilahirkan dengan seijin Allah secara selamat dan sejahtera hingga ke alam terang atau terbit fajar di dunia.

Jadi Manuk Beri dalam janturan itu melambangkan adanya Malaikat, makanya Manuk Beri dijantur setelah kemangmang sebab para Malaikat diciptakan oleh Allah setelah Iblis?jin.

3. Buta Sewu (Sasrabau)

Ialah wayang bergambar raksasa yang paling tinggi besar dibandingkan dengan wayang kulit yang lainnya serta bermuka dan berkepala banyak. Visualisasi wayang ini melambangkan tentang adanya adanya seorang ciptaan Allah yang berbadan tinggi besar dan mempunyai banyak anggota keluarga atau keturunannya sampai berjumlah sewu atau beribu-ribu umatnya yaitu Nabi Adam. Sedangkan petunjuk menurut Al-Qur'an diciptakan Nabi Adam tercantum di dalam surat: (15:26) yang berbunyi: "Walaqod Kholaqnaal Insaana Min Sholsholim Min Hama Immasnuun"

Artinya:"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang di beri bentuk".

Tersurat di dalam ayat di atas, bahwa Nabi Adam diciptakan oleh Allah dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam, itu jangan dulu diartikan secara sempit dan ditafsirkan seperti tanah yang umum kita injak di bumi sekarang. Mengapa demikian? Karena perlu kita kaji dari kalimat demi kalimat di dalam bahasa keagungan Al-Qur'an yang tidak sama seperti bahasa Arab biasa apalagi terjemahan bahasa Indonesia atau yang lainnya. Tetapi susunan kalimat yang termaktub di dalam kitab Al-Qur'an itu mengandung keluhuran bahasa dan sastra yang sangat halus dan sangat tinggi, sehingga untuk penafsirannya pun sangat membutuhkan kehalusan dan ketinggian budi pekerti dalam ilmu keislaman yang luhur atau Ma'rifatul Islam. Jadi kita jangan menafsirkan bahasa di Al-Qur'an secara sembarangan, apalagi kita baru belajar baru bisa membaca dan mendengar dari kabar, kemudian dihafal untuk mencari tenar padahal dirinya samar dan akhirnya nyasar karena tidak ada dasar dan ajar yang benar sehingga mengaku dirinya besar dan pintar lalu terjerat ke dalam dunia pasar.

Adapun proses terciptanya Adam dari tanah yaitu tanah yang mengandung empat unsur di dalamnya. Sebab semua itu asalnya dari Allah yang meliputi Nurullah, Nurulah meliputi Nur Muhammad, dan NUr Muhammad meliputi semua yang tercipta, sedangkan Nur Muhammad itu membiasakan cahaya empat warna yaitu:

1. Warna merah menjadi acinya api

2. Warna pituh menjadi acinya air

3. Warna kuning menjadi acinya angin

4. Warna hitam menjadi acinya bumi.

Allah memerintahkan kepada Malaikat untuk mengumpulkan dari keempat unsur tadi hendak dibangun Nabi Adam sebagai khalifah di dalam buana, adapun para Malaikat itu adalah:

1. Malaikat Jibril membawa acinya api

2. Malaikat Mika'il membawa acinya air

3. Malaikat Isrofil membawa acinya angin

4. Malaikat Ijro'il membawa acinya bumi.

Dari unsur-unsur tersebut, kemudian Allah menciptakan Nabi Adam sebagai penduduk surga. Setelah Nabi Adam berada di taman surga, maka pada saat itulah Allah memerintahkan kepada semua penduduk surga seperti Malaikat dan Iblis bersujud kepada Nabi Adam, bersujud dalam arti tunduk dan patuh kepada Nabi Adam bukan bersujud menyembahnya. Semua Malaikat mematuhi perintah Allah untuk bersujud, tetapi lain halnya dengan Iblis tetap tidak mau taat pada perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Adapun yang menjadi alasannya adalah karena Iblis merasa lebih mulia dan lebih terhormat dibandingkan dengan Nabi Adam tatkala diciptakan oleh Allah. Sebagaimana Iblis diciptakan dari api yang membara sedangakan Nabi Adam diciptakan dari tanah yang kotor. Sejak itu kemuliaan Iblis (Idajil) dilaknat oleh Allah menjadi Iblis laknatullah, yang semula tidak membangkang dengan perintah Allah maka Iblis atau Idajil disebut sebagai Idajil janatullah yang artinya Iblis atau Idajil masih di perkenankan berada dan berdiam di surga Allah. Setelah, membangkang atas perintahj Allah kemudian Iblis akhirnya tidak diperkenankan lagi berada di surga dan namun sebelum dia turun dari surga sang Idajil minta diperkenankan lagi berada di surga dan diusirnya, akhirnya dia menerima ketentuan dari Allah untuk meninggalkan surga, namun sebelum dia turun dari surga sang Idajil minta diperkenankan permohonannya kepada Allah, yaitu dia meminta supaya dikabulkan untuk diberi kepanjangan umur hingga hari suatu pembalasan (Qiyamat) dan diperbolehkan untuk menggoda, menghasud dan memfitnah Nabi Adam seturun-turunannya, singkatnya ingin merusak dan membelokkan akidah manusia untuk dijerumuskan ke lembah dosa dan nista supaya menjadi temannya sebagai penghuni neraka, Na'udzu billah min dzalik. Allah Yang Rohman dan Rohim akhirnya permohonan Iblis tadi diperkenankan dan dipersilahkannya, tapi kecuali bagi orang-orang yag muklis yaitu ikhlas dan beriman kepada Allah yang tidak dapat digodanya. Hal demikian tersurat di dalam Al-Qur'an: (15:29-40).

Dengan acuan sumber dari segala suber hukum yang disebut kitab suci Al-Qur'an guna memberikan petunjuk kepada semua umat manusia, jadi sudah sepetutnya kita saling waspada dengan bujuk rayu dan tipu muslihat Iblis beserta akan cucunya. Sebab telah diperkenankannya Iblis untuk merusak umat manusia sampai datangnya suatu hari pembalasan bagi manusia yaitu Qiyamat, maka dia lebih leluasa dan merasa berkuasa atas segala kehidupan manusia di dunia. Bahkan pengakuan dia merasa berkuasa atas segala kehidupan manusia di dunia. Bahkan pengakuan dia tehadap manusia yang tidak beriman dan tidak beramal kebajikan, sanggupnya adalah menjadi Pangeran kang murbeng jagat, artinya mengaku sebagai Tuhan yang menguasai dunia. Demikian itu merupakan tipu muslihatnya terhadap manusia di dalam dunia, sehingga dunia ini seolah-olah menjadi miliknya. Dalam suatu istilah kata bahwa dunia ini adalah surga bagi Iblis, syetan dan keturunannya. Padahal yang sesungguhnya Allah menciptakan dunia seisinya tal lain hanya untuk kemuliaan hidup manusia dan untuk kenikmatan manusia sehingga menjadi sebagai surga dunia, jadi dunia beserta isinya diciptakan oleh Allah tak lain hanya untuk kemaslahatan manusia sebagai makluk yang paling sempurna dari makluk lainnya. Sebagaimana firman Allah di dalam Al-Qur'an: (2:29).

Walaupun Allah menjadi segala yang ada dipermukaan bumi ini adalah untuk manusia, tetapi tidak sebebas apa yang dilakukan seperti hewan dan manusia yang dzolim, dengan serakah dan sewenang-wenang sampai menghalalkan semua perbuatannya. Biar korupsi yang penting berposisi dalam instansi untuk hidup bergengsi, ini budaya yang merusak citra negara dan agama. Padahal Allah memerintahkan kepada manusia lewat Al-Qur'an: (2:168) yang artinya:

"Hai sekalian manusia makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan, karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu". Di dunia inilah manusia akan dihadapkan dengan bisikan-bisikan syetan yang memikat dan menggiurkan matanya, baik di luar mapun di dalam jasmani manusiapun dapat dijadikan obyek penyesatannya. Di luar jasmani manusia syetan akan menggoda secara tampak kasat mata, seperti menyurupai manusia bahkan menjelma sebagai orang yang berjubah dan mengaku auliyah dan sebaginya, agar dapat memperdaya manusia yang tidak beriman. Selain itu pulaada orang yang menyekini pertemuan dengan wujud sersis seperti dirinya, bahwa itu adalah hakekat dirinya walaupun ditempuh dengan cara bertapa atau bersemedi pada sutu tempat seperti puncak gunung Ceremai misalnya, oleh karena lakunya tidak berdasarkan ilmu agama yang hak, tetapi hanya percaya pada kitab , tutur kata atau mualaf pada orang bercerita, akhirnya diyakini itu memang jati dirinya yang disebut orang adalah Pangeran yang berada di dalam dirinya, lalu meminta petunjuk ilmu-ilmunya sampai bisa berdialog dengan dirinya, pertemuannya persis seperti orang ilmu-ilmunya sampai bisa berdialog dengan dirinya, pertemuannya persis seperti orang yang sedang bercermin, namun tanpa cermin. Setelah mendapat petunjuk darinya, kemudian orang itu menjadi orang pintar dan punya kelebihan yang diluar logika manusia dan sebaginya. Hal yang demikiantanpa disadarinya bahwa, yang menjelma persis dirinya itu adalah jin. Apakah jintidak bisa melakukannya? Kemudian coba kita sadari bersama, kalau menganggap langkah atau perilaku orang tersebut di atas itu benar, berikutnya kita memunculkan pertanyaan: apakah ada Tuhan seperti wujud dirinya?, juga apakah dapat berdialog tatkala bertemu dengan wujud dirinya? Kalau persis seperti orang bercermin, coba apakah anda bisa berdialog dengan rupamu sendiri di depan cermin?. Selanjudnya jika benar bisa tanya jawab ketika berhadapan, antara si penanya dan yang menjawab berarti sama-sama memiliki nyawa dan bisa berbicara, apakah ada dua nyawa di dalam diri manusia sehungga sama-sama dapat berbicara? Sedangkan nyatanya, semua manusia hanya memiliki satu nyawa, juga apakah yang namanya hidup pada dirimanusia itu ada dua? Jadi kalau manusia punya hidup dan nyawa hanya satu, maka yang berhadapan dengan orang itu hidup dan nyawa siapa? Disinilah kita harus masuk logika yang nyata, bukan percaya-percayaan atau bukan asal yakin-yakinan dengan agama atau ilmu. Sebab agama Islam itu hendak nyata bukan angan-angan bukan dongeng apalagi bohong tidak konsekuen kepada Allah SWT. Oleh karena itu, manusia kalau belum ketemu dengan agama Islam, maka tidak akan bisa beriman, orang yang tidak beriman jadi sarangnya syetan dan akan diperdaya dengan cara apa saja yang di luar kemampuan manusia, agar tetap mempercayainya.

Jin atau syetan di dalam jasmani manusia juga dapat bersemayam di seluruh peredaran darah dan hati sanubari. Begitu sangat halusnya syetan hingga dapat memperngaruhi semua organ manusia hingga ke dalam sekalipun, seperti organ yang paling vital dan sangat rahasia yaitu hati manusia. Demikian itu karena hati adalah sama dengan organ-organ tubuh lainnya yang disebut jasmani. Jadi yang disebut jasmani. Jadi yang disebut jasmani itu semua organ tubuh atau obyek lahiriyah. Sedangkan jasmani manusia itu menjadi ladang kekotoran dan lembah kenistaan, sehingga tetap akan dijadikan sarang bagi Iblis atau syetan. Terutama bagian sensitif ialah hati manusia yang senantiasa dijadikan media sasarannya, sebab di dalam hati manusia diliputi oleh empat lapisan nafsu. Tetapi dari keempatnya itu hanya satu nafsu manusia diliputi oleh empat lapisan nafsu, yaitu nafsu mutma'inah atau nafsu ketenangan jiwa manusia, supaya bisa disalurkan dan bermaslahat sesuai ridho Allah. Namun apabila mutma'inah kurang dominan untuk mengendalikan nafsu yang tiga, maka manusia akan menjadi hamba Iblis serta diperbudak untuk melampiaskan nafsu-nafsu syetannya.

Adapun empat lapisan nafsu yangg berada pada hati manusia ialah:

1. Lapisan pertama nafsu loama.

2. Lapisan kedua nafsu amarah.

3. Lapisan ketiga nafsu sawiyah.

4 Lapisan keempat nafsu mutma'inah.

Pada lapisan itulah Iblis atau syetan mendominasi hati manusia. Begitu sangat dekatnya hingga Iblis berbaur pada manusia, maka dari itu dengan mudahnya manusia digelincirkan ke lembah dosa. Jadi Iblispun merupakan bagian atau substansi individu manusia yang disebut nafsu. Oleh karena itu, Iblis diberi kepanjangan umur untuk menggoda manusia hingga qiyamat, maksudnya nafsu itu selalu menggoda manusia selama hayat masih dikandung badan sampai datangnya ajal manusia tiba (qiyamat).

Buta juga dapat diartikan sebagai orang yang tidak dapat melihat. Isyaratnya jangankan melihat orang lain sedangkan keberadaan dirinya saja sampai tidak diketahuinya, maka hal ini benar-benar menunjukan sifat lahiriyah atau dhohirnya tidak tampak seakan-akan tiada. Keadaan ini kembali dalam kefitrahan manusia yaitu seperti bayi yang memang tidak mengetahui apa-apa sehingga keberadaan dirinya juga tidak diketahuinya. Jadi wayang buta itu melambangkan seorang bayi yang masih buta tentang hakekat hidupnya sendiri.

4. Buta Sangkala (Bethara Kala)

Kalau Buta menandakan kekosongan atau kebodohan manusia (Adam), Sangkala ialah waktu (masa). Jadi Buta Sangkala itu artinya masa kekosongan atau kebodohan manusia (Adam). Sehingga menurut riwayat yang dimaksud masa kebodohan adalah ketika Nabi Adam dan Hawa tidak mengerti akan bujukan Iblis untuk memakan buah kuldi (syajaroh) di surga. Sebagaimana firman Allah di dalam surat Al-Baqarah ayat:35: Wa Qolnaa Yaa Adamu Askun Anta Wazaujukal Jammata Wa Kula Minha Rogodaa Hai Syusyi'tumaa Wala Taqroba Hadzihis Syjarota Fa Takuunaa Minadzdzolimiin

Artinya: "Dan kami berfirman, Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makan-makannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzolim".

Selain di dalam surat Al-Baqarah ayat"35, juga diterangkan dalam surat Al-A'raaf ayat: 19 tentang pohon atau buah yang dilarang oleh Allah yaitu buah kuldi atau syajaroh, sedangkan buah atau (pohon) syajaroh artinya buah (pohon) pertumbuhan. Adanya larangan Allah untuk memakan buah syajaroh, tentu timbul suatu pertanyaan dalam diri kita. Mengapa Nabi Adam dan Hawa dilarang oleh Allah untuk memakan buah itu di surga? Karena Allah menciptakan Adam dan Hawa untuk dijadikan khalifah di muka bumi bukan di surga, sehingga dilarang menikmati buah syajaroh (pertumbuhan). Hal ini tercantum di dalam Al-Qur'an (2:30). Jadi yang dimaksud Adam dan Hawa dijadikan khalifah (pemimpin) di muka bumi yaitu agar melahirkan keturunan untuk perkembangan atau pertumbuhan di dunia. Oleh karena itu Adam dan Hawa dilarang memakan buah kuldi (syajaroh) di surga, artinya Adam dan Hawa dilarang mengatakan hubungan seksual di surga yang bakal menumbuhkan keturunan. Setelah Nabi Adam dan Hawa melanggar ketentuan dari Allah, kemudian hendak diturunkannya ke dunia. Diketahuinya Adam dan Hawa memakan buah terlarang itu artinya diperin Adam dan Hawa telah menunjukkan kematangan dan kesiapan seksualnya, lalu segera dipertahankannya untuk turun ke dunia agar menumbuh kembangkan keturunannya.

Riwayat Nabi Adam dan Hawa itu berlaku untuk sepenjang jaman sampai sekarangpun masih berlaku bagi konsekuensi kehidupan manusia di dunia. Adapun konsekuensinya ialah telah diciptakan manusia oleh Allah hingga sekarang, semenjak di dalam kandungan hingga dilahirkan ke alam dunia untuk melangsungkan keturunan sepanjang jaman. Jadi di dalam janturan wayangpun melambangkan riwayat Nabi Adam dan Hawa diturunkan ke alam dunia atau menggambarkan manusia dilahirkan dari alam kandungan ke alam dunia menemukan proses penyempurnaan di dalam hidupnya.

Buta Sangkala dalam janturan itu selain masa kebodohan awal dalam suatu riwayat Adam dan Hawa, juga dapat diartikan bahwa Sangkala adalah suatu kemunkaran atau kedzoliman. Karena perlu kita sadari bersama bahwa, yang namanya manusia dilahirkan ke dunia ini akan dihadapkan dengan kemunkaran atau kedzoliman. Oleh karena itu Allah SWT memeritahkan kepada manusia untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar, yaitu menjalankan perbuatan yang diridhoi Allah dan meninggalkan atau menjauhi perbuatan yang dilarang (tidak diridhoi) Allah SWT. Dan barang siapa tidak mematuhi (buta) untuk menjalankan perintah dan tidak meninggalkan yang dilarang oleh Allah SWT, maka akan mendapatkan kemunkaran atau kedholiman yang disebut sangkala. Kalau kita tidak ingin menjadi manusia yang munkar atau dzolim, maka harus bisa meruat sangkala agar jangan menjadi manusia sukerta (manusia yang terbelenggu/terganggu) oleh jin atau syetan yang ada didalam dirinya. Jadi kalau kita sadari dengan hati dan pikiran yang dalam bukan dengan pandangan hati dan pikiran yang dalam bukan dengan pandangan hati dan pikiran yang dangkal, sebenarnya salah satu tindak kewaspadaan orang-orang dahulu terhadap anak keturunannya kelak supaya tidak terbelenggu/terganggu oleh sangkala, selalu disyare'atkan dengan melaksanakan upacara sakral dan ritual yang disebut upacara ruwatan (murwakala). Mengapa upacara ruwatan itu perlu dilaksanakan? Untuk memahami adanya tradisi yang diwariskan oleh para leluhur sangat membutuhkan ke'arifan dalam berwawasan artinya mempunyai pandangan yang luas dan dalam, untuk mengetahui makna filosofis yang terkandung di dalam upacara ruwatan, agar jangan keluar dari akidah agama Islam, sehingga yang melangsungkan kemanfaatan itu adalah tokoh-tokoh Islam sendiri. Seperti yang telah kita ketahui sebagai figur atau peleku upacara itu adalah tokoh Islam di Jawa yang menjadi dhalang ruwatnya yaitu, Gusti Sunan Panggung (Sunan Kalijaga). Jadi logikanya tidak masuk akal atau suatu hal yang mustahil kalau upacara ruwatan itu tidak sesuai dengan akidah Islam, bahkan dikatakan bid'ah. Sedangkan tradisi itu dibawakan oleh seorang ulama besar yang tidak diragukan kesempurnaan agama atau ilmu Islamnya. Jadi sebaiknya bertanya kepada orang yang tahu tentang fisi dan misi ruwatan sehingga tidak salah definisi, jangan sampai bertanya kepada orang baru kenal bakal tidak tahu. Sebab orang yang kenal itu belum tentu tahu tapi orang yang tahu itu pasti kenal.

Apabila orang yang bijak dan adil dalam beragama, mestinya mempunyai penilaian dan sikap yang positif terhadap segala kesyare'atan yang bermaslahat bagi manusia, selama kesyare'atan itu tidak menimbulkan kemudhorotan (kerusakan). Karena agama tidak mengajarkan tentang kemudhorotan, tetapi kemaslahatan yang senantiasa kita wujudkan sebagi manifestasi hablu minanas atau hubungan baik dengan sesama manusia.

Tentunya dengan suatu alasan yang bijaksana bahwa mengapa upacara ruwatan itu perlu kita laksanakan? Karena memberikan suatu pertolongan dan menyelamatkan manusia dari kebatilan atau kedzoliman yang mempengaruhi dirinya itu merupakan perwujudan ibadah yang nyata. Sebab maksudnya meruwat manusia sukerta ialah membebaskan belenggu dari godaan syetan atau kebatilan sangkala yang menipu diri manusia. Sedangkan tujuannya supaya menjadi manusia yang soleh, berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakatnya, pemerintahnya dan agamanya. Jadi menurut pengertian umum yang disebut manusia soleh yaitu yang melakukan amar ma'ruf nahi munkar atau menjalankan yang hak (benar) dan meninggalkan yang batil (salah). Semua pengertian di atas itu baru dilihat dari satu sudut pandang yaitu menurut kacamata syare'at (umum) yang tujuannya supaya bermanfaat bagi manusia dengan manusia (hablu minanas), dengan dibuktikan melalui perwujutan sarana yang bermaslahat. Sedangkan bagaimana menurut kacamata hakekat (khusus) tentang amar ma'ruf nahi munkar atau meruwat sangkala itu? Perlu kita ketahui bahwa yang namanya pengertian khusus (hakekat) itu orietasi pembahasannya sudah tidak melibatkan obyek lain, selain individu manusia itu sendiri dengan Sang Pencipta (Tuhan) yang disebut hablu minallah. Adapun obyek bahasan itu meliputi badan sendiri bukan orang lain atau makluk sosial lainnya. Mengapa kita harus mengetahui dari dua sudut pandang yaitu syare'at dan hakekat? Karena kesempurnaan agama itu harus menjalankan keduanya, seperti ada hadist yang berbunyi:

Syare'atun Bila Hakikatun Bila Syah, Hakikatun Bila Syare'atun Batilah.

Artinya: "Syare'at tanpa hakekat itu tidak syah, hakekat tanpa syare'at itu batil (batal)"

Bagi orang yang berpikir dengan logika sehat, tentunya kesempurnaan agama itu dijalankannya dengan sungguh-sungguh bukan sekedar pengayaan teori dan upacara belaka, yaitu menjalankan wujudnya ibadah (laku) dan tahu tujuan ibadahnya (ilmu), supaya tidak tergolong orang-orang yang munafik, seperti: Man Abadal Asma Wamakna Wahuwa Munafiquun.

Artinya: "Barang siapa melalukan ibadah hanya mengerti nama dan makna, maka orang itu munafik".

Oleh karena itu dalam melaksanaman ibadah apa saja, kita harus tahu pada tujuan yang diibadahinya, jangan seperti kulit yang tidak ada isi (bijinya). Sebab jika memperoleh kulitnya saja tanpa isi, apa yang hendak dirasakan. Sebaliknya isi tanpa kulit bakal terkena kotor dan tidak terlindungi kebersihannya. Jadi untuk kesempatannya adalah kulit dan isi baru dinamakan kacang sebenarnya.

Untuk mengetahui gambaran khusus tentang amar ma'ruf nahi munkar di dalam pewayangan yang meng-isbat-kan (mengadakan) sifat uluhiyanya dhalang yang disebut amar ma'ruf, dan menafikan (menyirnakan) sifat uluhiyanya wayang itu nahi munkar. Jadi arti khusus yang ma'ruf (hal) itu dhalang dan yang munkar (batil) adalah wayang. Mengapa yang hak (benar) itu dhalang dan yang batil (salah) itu wayang? Karena semua yang ada di panggung pentas (dunia) ini tidak bisa apa-apa, jangankan punya kuasa, sedangkan gerak dan bicaranya wayang saja itu nyatanya gerak-geraknya dhalang, bicara yang berbicara dhalang dan sebaginya. Dalam hal ini berarti wayang itu jelas batil atau salah kalau mengaku bisa gerak, bisa bicara, bisa sukses dan lain-lain, makanya di dalam ruwatan kebatilan itu perlu disirnakan dari manusia, maksudnya lahiriyah manusia itu kotor, jadi harus bisa ngadam kembali karena nyatanya manusia yang disebut makluknya Gusti Allah itu asalnya dari tiada, kemudian ada, lalu kembali tiada lagi seperti semula. Jadi ruwatan dalam lakon murwakala itu menggambarkan bahwa manusia itu harus bisa menyirna-sampurnakan dirinya.

Setelah mengetahui hakekat ruwatan, sepetutnya kita juga harus bisa memberikan percontohan syare'at kepada umat manusia, supaya bisa mewujudkan hakekat yaitu dengan syare'at. Sebab buktinya itu tiada lain adalah syare'at (wujud). Bukan berarti orang yang tahu pengertian khusus (hakekat) kemudian tidak mau menjalankan pengertian umum (syare'at), maka yang demikian itu tidak memperoleh kemaslahatan untuk mensyi'arkan syare'at Islam. Sebaliknya orang tahu syare'at ruwatan dengan melaksanakan segala tata kramanya, jangan sampai terobsesi atau terlena hanya percaya pada perwujudan yang sakral dan ritual saja, sehingga condong hatinya untuk mengkultuskan upacara skral tersebut. Padahal acara ruwatan itu merupakan adat orang dahulu yang timbul dari etikad seseorang, lalu adat itu disyare'atkan untuk kepentingan atau kemanfaatan orang banyak baru menjadi tradisi. Jadi pengertian adat dan tradisi itu seperti layaknya antara tubuh dan pakaian, yaitu adat ibarat tubuhnya dan tradisi sebagai pakaiannya. Oleh karena itu, adat adalah aktualisasi tradisi, sedangkan tradisi eksistensi adat. Dimana keduanya itu adat bukan tradisi, tradisi bukan adat, tapi tradisi itu adat jatinya (sesungguhnya).

Untuk mengetahui simbolis Bethara Wisnu menjadi dhalang ruwatan dalam lakon murwakala, itu bukan semata-mata gambaran yang menceritakan galurnya Bethara Wisnu adalah salah satu putra Bethara Guru yang bisa mencegah (menghalangi) perbuatan Bethara Kala (Sangkala) untuk memakan manusia sukerta, dengan mempunyai suatu aji kidung (do'a) Ajal Kelahiran Bethara Kala yang artinya tahu asal lahir dan matinya Bethara Kala, juga kidung Raja Kala Cakra, dan sebagainya. Padahal kalau kita nyatakan dalam konsekuensi Bethara Wisnu sebagai dhalang ruwat, itu mengandung falsafah yang disebut Wisnu adalah wis nunggal atau sudah kembali pada muara satu yaitu Dzat Yang Maha Tunggal, maka dari itu Wisnu sebagai dhalang sebab nyatanya dhalang itu ya Tuhannya wayang. Jadi kalau si pelaku ruwat belum tahu sifat tunggalnya dhalangbukan fisnu, berarti akan menyesatkan umat, lalu yang menyesatkan manusia itu bisa merusak agama dan drigama (pemerintahan), jangankan akan membebaskan belenggu-belenggu sangkala pada diri orang lain untuk dirinya pun masihterpedaya. Dicontohkan dalam lakon carangan, kalau sudah pagi atau selesai lakon itu walaupun wujudnya seperti Wisnu tapi tetap akan kembali pada aslinya, misalnya Sangkala maka akan hilang Wisnunya kembali menjadi Sangkala yang sesungguhnya. Begitupun bangsa siluman dan sileman atau jin dan syetan maka tetap akan kembali jadi siluman dan sileman atau jin dan syetan tatkala akhir hayatnya dan lain-lain. Terus lahiriyahnya hancur di dalam kubur (lakon Ruwatan akan diuraikan lebih rinci pada terbitan buku bagian kedua).

Oleh karena itu, janganlah terlena dan terlalu asyik dengan keramaian jagat raya yang semakin memanas yang dijadikan pangung pentasnya Raja Buta atau Wadiyabala jin-syetan dalam jejeran atau periode lakon didalam masres (sandiwara). Jadi kalau yang sedang pentas panggung itu bangsa wadiyabala buta atau syetan-syetanan, maka tokoh-tokoh kesatriya atau pemain yang lainnya itu tidak naik pentas, tetapi di balik layar pentas, dalam arti tidak memunculkan diri karena belum saatnya untuk bertemu. Namun kelak pada akhir pada sebuah lakon akan dipertemukan antara wadiyabala buta dan para sinantriya untuk merebutkan tahta sebagai penegak misi masing-masing. Walaupun demikian tetap yang benar (sinatriya) akan menang dan yang batil (wadiyabala buta) dengan sendirinya akan sirna dan musnah dari atas pentas, lalu kembali bersembunyi, takut dan tidak mau muncul sembari menunggu giliran berikutnya. Jadi bagi yang berada di atas pentas itulah yang berkuasa untuk sementara waktu, umpamanya yang menduduki kursi kerajaan itu Raja Buta, maka yang bersanding di depan, di samping, di belakang, bukan dipelosok-pelosok tempat, semua yang muncul kepermukaan pentas adalah wadiyabala buta atau syetan-syetanan. Dengan kemungkinan adanya lakon demikian, maka jangan merasa heran dan bingung apabila di muka bumi ini terjadi kerusakan atau pertumpahan darak antara manusia. Sebab itu merupakan gejolak cerita yang dimainkan oleh sutradara atau dhalang memainkan wayang dipakeliran. Misalnya ada wayang perang, itu yang diperangkanoleh dhalang wayang-wayangnya sudah tertentu menurut lakon bagi sang dhalang. Karena semuanya ada dalam kekuasaan dhalang, jadi tidak bisa muncul sendiri jika tidak sedang dijadikan lakon oleh dhalang.

Dari penghayatan lakon yang ada di atas pentas, bahwa kita harus memaklumi dengan keberadaan jaman dan jangan terpengaruh untuk ikut-ikutan berontak dan sebagainya. Untuk keselamatan hidup, lebih baik kita senantiasa ingat kepada Allah agar dihindarkan dari kerusakan dan kekejaman orang-orang dzolim, sehingga tidak menimpa pada diri kita yang benar-benar taqwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha agung. Oleh karena itu beruntunglah orang-orang yang selalu mendekatkan diri dalam arti bukan sekesar melaksanakan perwujutan ibadah saja, tetapi harus disertai dengan ketuhidan yang benar, supaya tidak termasuk tauhidunsirkun yaitu ketauhidan yang sirik kepada Allah. Dimana pengertian sirik atau musrik menurut umum adalah menyekutukan atau menduakan Tuhan, demikina itu tidak salah namun belum benar, Mengapa belum benar? Karena menduakan Tuhan disini bukan sekedar bersekutu dengan makhluk lain saja, tetapi mendua dalam pandangan Islam yaitu belum larut ke dalam samudera Illahi Robbi, sehingga masih ada kaula dengan Gusti. Sebab kaula (hamba) dan gusti Allah itukan ada dua, maka yang demikianpun termasuk mendua mungguh (menurut) Allah Yang Maha Tunggal. Oleh karenanya tidak salah menurut kapasitas manusia, namun belum benar menurut Allah SWT. Jadi kalau landasan pemikiran itu hanya pendapat manusia yang masih belum murni, sedangkan kemurniannya itu berada pada Yang Maha Tunggal. Maksudnya ketahuilah olehmu tunggal-Nya atau ketauhidan-Nya agar tahu hakekat tunggal-Nya, supaya jangan musrik kepada Allah. Untuk itu syahadat juga kita harus konsekuen, bukan sekedar berikrar lafadz dan makna lalu ditanggung Islamnya, demikian itu masih belum bertemu dengan tujuan bersyahadat di dalam agama Islam. Sebab orang Islam kalau tidak konsekuen dengan syahadatnya, maka persaksiannya itu ngambang dan bohong menurut Allah SWT. Sekarang coba kita pahami bersama, apabila syahadat sebagai kunci pertama itu tidak jujur, lalu bagaimana dengan rukun-rukun Islam lainnya? Ini yang menyebabkan kekacauan dan kerusakan dibumi raya, sebab masih banyak orang-orang yang tidak jujur dengan persaksian syahadatnya sehingga dengan mudah digelincirkan akidah Islamnya oleh sangkala. Karena sudah bagian tugas Sangkala untuk mendekati orang-orang yang tidak jujur syahadatnya dan memakannya, dan tidak melihat golongan orang ningrat apa bukan, golongan kaya atau miskin, golongan ulama atau ustadz, golongan pejabat atau konglomerat semuanya akan dimakan dijadikan santapannya selama mendustai agama. Yang dimaksud mendustai agama itu bukan sekedar akidahnya, tetapi kejujuran syahadatnya kepada Allah SWT. Ya barangkali dengan sesama manusia tidak dikatakan bohong, karena sama-sama tidak tahu apa yang dimaksudkan bersaksi dalam dua kalimah syahadat, tapi menurut Allah Yang Kagungan Syahadat jika tidak bukti menyaksikan sendiri bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah, tetapi berbohong. Sedangkan berbohong itu temannya Sangkala, makanya banyak orang yang merusak agama Islam karena berbohong.

Setelah saling mengetahui keberadaannya, maka kita harus memaklumi dan saling waspada, agar tetap tegar dalam menghadapi gejolak kehidupan dunia yang menyesatkan dan menggiurkan iman manusia. Kalau dilihat dari kacamata pewayangan, maka yang menyesatkan dan membuat gaduh keramaian dunia itu tiada lain tokoh-tokon wayang caranagn artinya bukan tokoh wayang galur (turun manon). Sehingga dalam eksistensinya terkesan asal ramai dan tidak memakai anggah-ungguh bahasa (etika berbahasa yang benar), jadi seolah-olah tidak ada tokoh wayang yang mandi (ampuh) ucapannya. Karena semuanya dibuat bodoran dan tidak menghadap lakon galur itu perlu karena kurang diminati dan sebagainya. Padahal itu menandakan orang yang terpedaya dengan Sangkala dirinya. Bisanya ada sebuah cerita (lakon) carang dalam pewayangan itu maksudnya untuk mewaspadai penyimpangan-penyimpangan jalur manusia yang tidak tahu jati dirinya, sehingga jiwanya dapat dijadikan tempat bersemayam sukma ngambara (roh yang tidak kembali ke jalan Allah). Demikian itu digambarkan dalam tubuh wayang, dan senantiasa membuat keramaian, suka menghasud dan memusuhi tokoh yang benar menjadi lemah dan tunduk pada kekuasaannya, seolah-olah dirinya yang lebih berkuasa dan sewenang-wenang tingkahnya, itu prilaku tokoh carangan. Kemudian ditandai pada akhir lakonnya (hayatnya) tokoh wayang itu kembali jadi sukma ngambara yang melayang di angkasa.

Dari semua adegan lakon carangan menunjukkan kerusakan-kerusakan, kemaksiatan, ketakaburan dan menghalalkan segala cara, yang benar dianggap salah serta yang salah dijadikan benar dan sebagainya. Padahal yang dapat dijadikan media carangan adalah manusia yang tidak beriman serta orang yang buta kepada Allah Yang Maha Kuasa. Di dalam kitab suci Al-Qur'an telah tersurat pada 2;18 yang berbunyi: Summun Bukmun Umyun Fahum Layarjiuun

Artinya: "Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali kejalan yang benar (kepada Allah)".

Maka bunyi ayat di atas merupakan perwujutan lakon caranagn galur yang menceritakan sejarah insan kamil (manusia yang sempurna). Sebab di dalam lakon galur itu tidak ada tokoh wayang kanan yang akhirnya berubah sifat menjadi Sangkala atau wayang jahat (munkar). Jadi dari kedua lakon dalam pewayangan itu sangat berbeda, kalau orang tahu kepada galur maka ahkirnya pewayangan itu sangat berbeda, kalau orang tahu kepada galur maka akhirnya menemukan happy end (khusnul khotimah) yang memakai ilmu carang, maka akhirnya ketemu dengan bad end (su'ul khotimah). Dari percontohan itu bukan berarti tidak boleh menseritakan lakon carang dalam pegelaran wayang kulit, sama sekalu bukan. Justru untuk suatu perbandingan agar orang jangan salah pengertian bahwa mengetahui sesuatu yang salah itu bukan untuk dimusuhi, namun dimaklumi untuk diberi kesempatan introspeksi kembali ke jalan yang benar. Intropeksi dalam arti dima'afkan agar bisa bertobat kepada Allah Yang Maha Pemurah.

Janturan wayang dari Buta sangkala melambangkan riwayat turunnya Nabi Adam dan Hawa ke muka bumi, juga mengisyaratkan seorang bayi yang telah dilahirkan ke alam dunia. Kemudian selanjutnya urutan janturan wayang di kedebog sebelah kanan:

- Buta Naga - Buta Plasta (Prahasta)

- Buta Ratu - Buta Banteng

- Bata Dewa (Yamadipati) - Buta Kamasala (Buta Wewe)

- Buta Konjaya Karna

Semua janturan wayang dari buta sangkala sampai wayang Buta Kamasala (wewe) menggambarkan adanya Nabi Adam dan Hawa setelah berketurunan di dunia, dan manusia saat itu bertubuh tinggi besar yang disebut dengan manusia purba atau manusia saat itu bertubuh tinggi besar yang disebut dengan manusia purba atau manusia raksasa. Bertabi'at saling berebut kekuasaan dan saling membuat antara satu dengan yang lainnya, sebab belum mempunyai nilai-nilai peradapan antar sesamanya sehingga pada jaman itu yang berlaku adalah hukum rimba yaitu yang menang yang berkuasa,serta perilakunya seperti hewan di hutan. Walaupun yang berjalan dalam kehidupan mereka mayoritas cenderung untuk berbuat kebatilan di muka bumi, namun semenjak itu pula Allah telah menciptakan khalifah sebagai utusan-Nya. Sebagaimana tercantum di dalam Al-Qur'an: (10:47):

"Walikulli Ummatir Rosuulun Faidzajaa Arosuuluhum Qudhiya Bainahum Bilqisthi Wahun Layudhlamuun"

Artinya: "Tiap-tiap umat, mempunyai rasul, maka apabila telah datang rasul mereka, diberikanlah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka (sedikitpun) tidak dianiaya".

Sebagai rasul dari tiap-tiap umat, hal ini digambarkan adanya wayang Buta Dewa (Yamadipati) dari sekian tahapan dalam janturan wayang buta di kedebog itu menunjukkan adanya manusia purba (manusia raksasa) yang menjadi khalifah sebagai manusia yang senantiasa ingat akan kebesaran dan kekuatan Sang Pencipta. Tentunya karena manusia itu mendapat didayah dan inayah dari Allah SWT. Kebatilan pada jaman itu masih dinyatakan dengan perwujudan manusia aslinya (raksasa), sehingga yang berwatak jelek itu raksasa, artinya menandakan adanya konsekuensi antara sifat dan wujud yang masih serupa. Akan tetapi lain halnya dengan manusia, setelah disempurnakan perwujudannya oleh Allah, yang tampak batil atau jahat itu adalah sifat dan perbuatannya, walaupun rupanya sudah bukan seperti wayang buta lagi. Maka yang demikian tentunya lebih sulit dan berbahaya bagi sesamanya, sebab akan lebih banyak orang yang tertipu oleh penampilan yang bagus-bagus, padahal di dalamnya akan merusak dan berbuat kedzoliman. Sebenarnya kesempurnaan itu patut kita syukuri dengan cara membagusi perilaku yang sesuai dengan perwujutan

 

You are here Kepustakaan Makalah Kronologi Wayang Kulit