Konsep Garap Sabet Dalam Tradisi Pedalangan

E-mail Print PDF

 

Oleh: Purbo Asmoro

 

I. PENGANTAR

Proses transformasi dalam kesenian tradisi khususnya pedalangan lebih merupakan tradisi lisan, bahkan sering terjadi hanya melalui bentuk-bentuk visual tanpa keterangan dari narasumber. Sabet yang para dalang tampilkan dalam pakeliran biasanya lebih merupakan tiruan dari hasil pengamatannya kepada guru atau dalang lain yang dianggap seniornya. Oleh karena itu sangat dimungkinkan apabila sabet yang dilakukan oleh para 'epigon' menjadi berubah maknanya. Perubahan makna sabet dapat terjadi karena ktidaktahuannya pada konsep, atau memang karena ditafsir berbeda oleh dalang epigon.

 

Sabet merupakan salah satu unsur pakeliran yang berkaitan dengan aspek visual. Melalui sabet, ungkapan-ungkapan pakeliran yang tidak dapat dijelaskan dengan wacana (catur) maupun karawitan pakeliran, dapat dilihat oleh penonton. Meskipun demikian, ungkapan visual tersebut belum tentu dapat dipahami apalagi dimengerti oleh penonton, karena sabet sebagai medium gerak dalam pakeliran lebih bersifat simbolis daripada sekedar tanda-tanda ikonik. Gerak seperti menyembah memang merupakan tanda ikonik, yakni sebagai bentuk ungkapan penghargaan salah satu tokoh wayang kepada tokoh wayang lain yang secara hierarkis mempunyai derajat lebih tinggi atau lebih tua. Namun ketika tokoh wayang menyembah tokoh lain yang berkedudukan lebih tinggi, misalnya raja, pada saat tokoh yang disembah itu sudah tidak berada di tempat, ini sudah bukan sabet ikonik melainkan lebih bersifat simbolis.

 

Pada setiap awal pertunjukan wayang kulit, dalang dalam mencabut kayon dari tengah gawang selalu menariknya ke bawah dengan berhenti tiga kali. Setting penggung dalam setiap adegan selalu banyak figur wayang yang tertancap di sebelah kiri daripada sebelah kanan. Dalam setiap adegan wayang mati atau tanceban mati, selalu ditutup dengan figur kayon. Dalam setiap adegan perang, tokoh wayang yang akhirnya kalah selalu mendahului menghantam dan lebih banyak gerak (solah) daripada lawannya.

 

sabet selain mempunyai banyak ragam dan perbendaharaan gerak, juga mempunyai pola gerak yang bermacam-macam. Jejeran, bedholan, kedhatonan, paseban jawi, budhalan wadya manungsa, budhalan wadya raseksa, sabrangan gagah, sabrangan buta, sabrangan bagus, perang gagal, perang kembang, perang tandhing, dan sebagainya itu mempunyai pola gerak masing-masing. Perbedaan pola gerak tersebut sangat dimungkinkan karena masing-masing adegan atau perang mempunyai konsep tersendiri. Namun konsepnya bagaimana, ini merupakan fenomena yang sampai saat ini belum terpecahkan.

 

Sepanjang pengetahuan penulis, belum pernah ada tulisan secara khusus yang membicarakan tentang konsep sabet dalam pakeliran. Beberapa tulisan yang dijumpai baru merupakan petunjuk teknis tentang sabet, yang lebih bersifat deskriptif daripada konseptual. Oleh karena itu dalam rangka menggali konsep-konsep garap sabet ini, penulis melakukan wawancara dengan para empu pedalangan, baik yang pakelirannya bergaya Surakarta maupun Yogyakarta, yakni: Ki Naryocarito (Surakarta), Ki Tristuti Rahmadi Suryasaputra (Surakarta), dan Ki Timbul Hadiprayitno (Yogyakarta).

 

Mengingat terbatasnya waktu untuk menggali informasi dari para narasumber serta keterbatasan pikiran penulis, maka konsep-konsep garap sabet yang akan diuraikan dalam makalah ini baru merupakan pembuka wacana serta masih dalam rangka sebuah tawaran pemikiran. Dengan demikian, selain perlu disilangpendapatkan dengan pikiran para peserta diskusi, juga perlu ditindaklanjuti dalam sebuah penelitian khusus yang lebih mendalam.

 

II. KONSEP-KONSEP GARAP SABET DALAM PAKELIRAN

Konsep Hidup

 

Bedhol kayon dalam pertunjukan wayang kulit purwa pada umumnya adalah, figur kayon dicabut perlahan-lahan, diangkat sedikit dan diturunkan dengan tiga kali berhenti, kemudian pucuk kayon dipegang dengan tangan kiri dalang. Dalang memegang pucuk kayon dapat dilakukan di daepannya atau di bibir kothak wayang. Setelah itu kayon baru ditancapkan di batas panggungan kanan pada gedebog bawah. Pencabutan kayon dengan diturunkan tiga kali berhenti, menurut ketiga narasumber mengandung konsep filosofis Jawa yang disebut urip sauripan, yakni proses kehidupan manusia. Bahwa manusia hidup itu mengalami tiga tataran : lahir, dewasa dan mati atau purwa, madya, wasana.

Adapun dalang memegang pucuk kayon mengandung konsep Ketuhanan.

 

Beberapa sesepuh dan guru dalang kebanyakan mengartikan kayon sebagai lambang hidup (kayon=hayun=hidup). Bahwa kayon merupakan figur utama dalam pertunjukan wayang, baik kulit maupun golek, yang perannya dalam pakeliran tidak dapat digantikan denganfigur wayang lainnya, misalnya diganti dengan figur Dasamuka atau Buta raton. Disebabkan kayon merupakan lambang hidup, maka muncul pendapat bahwa selama pertunjukan wayang berlangsung, kayon tidak boleh diletakkan di tutup kothak maupun dalam kothak. Figur kayon baru dapat diletakkan di atas tutup kothak atau dalam kothak jika paertunjukan wayang telah selesai. Hal ini mengandung arti simbolis, bahwa dengan tercabutnya figur kayon dari panggungan berarti kehidupan itu telah berakhir.

 

Tanda-tanda Ikonik

kayon selain sebagai lambang hidup, juga merupakan tanda ikonik. dengan figur kayon itulah dalang berkehendak (kayon=kayun=karep=kehendak), pakeliran yang disajikan akan dibawa ke dalam suasana apa. Suasana sedih, gembira, marah, dan sebagainya dapat ditunjukkan dengan pola gerak dan tancapan kayon. Demikian juga air, api, angin, gunung, hutan, lautan dan sebagainya juga dapat digambarkan dengan figur kayon.

 

Dengan figur kayon yang ditutupkan pada tokoh wayang mati atau pada penampilan sebuah 'adegan mati' maka kayon tersebut berfungsi sebagai geber atau penutup kegiatan panggung.

 

Konsep Kiwa Tengen

Dalam adegan apa pun, panggungan kanan selalu tertancap tokoh-tokoh yang mempunyai hierarkis lebih tinggi atau lebih terhormat. Jika ada tokoh yang dapat ditancapkan di panggungan kanan berhimpitan dengan tokoh raja, maka mereka adalah tokoh-tokoh yang mempunyai kesejajaran status atau memiliki hubungan kekerabatan denan raja. Hal ini menurut keterangan narasumber, mengandung konsep filosofis Jawa. Bahwa'kanan' itu mempunyai kadar yang lebih berat, lebih terhormat, lebih, berwibawa daripada 'kiri'.

 

Konsep kanan kiri (kiwa tengen) juga berlaku bagi sebuah adegan dimana tokoh wayang tertentu menerima kedatangan tokoh wayang yang hierarkinya lebih tinggi. Misalnya: Ciptaning (Arjuna) menerima kedatangan Bathara Indra dalam lakon Mintaraga atau Arjuna Wiwaha. Dalam adegan tersebut Ciptaning yang semula tancap di panggungan kanan, berpindah ke panggungan kiri bertukar tempat dengan Bathara Indra (meskipun Bathara Indra ketika masih berupa Resi Padya tancap di panggungan kiri).

 

Konsep kanan lebih utama daripada kiri juga berlaku dalam adegan perang, bahwa tokoh wayang yang berada di panggungan kiri selalu mendahului menyerang kepada tokoh wayang yang berada di panggungan kanan. Juga pada akhir cerita, kemenangan selalu berada pada pihak wayang kanan; meskipun dalam perang-perang sebelumnya (biasanya pada saat perang gagal) kadang kemenangan pada pihak wayang kiri. Oleh karena itu, akan tampak janggal jika dalam perang kembang kesatria bertukar tempat dengan raksasa (biasanya Cakil) sehingga berada di kiri, sedangkan raksasa berada di kanan, yang semata-mata hanya karena alasan pamer keterampilan.

 

Konsep Keseimbangan

Tanceban wayang dalam adegan apa pun, baik keraton, paseban jawi, palagan, dan sebagainya, selalu tampak berat sebelah. Figur wayang selalu lebih banyak yang ditancapkan di panggungan kiri daripada panggungan kanan. Hali ini mengandung konsep keseimbangan. Disebabkan panggungan kanan mempunyai kadar lebih berat daripada panggungan kiri, maka untuk memberikan keseimbangan, panggungan kiri ditancapkan tokoh wayang dengan jumlah lebih banyak daripada panggungan kanan.

 

Konsep keseimbangan ini juga berlaku dalam adegan budhal jaranan. Untuk mengimbangi gerak-gerak kuda yang dipegang oleh tangan kanan dalang, maka rampogan dipegang oleh tangan kiri dalang dengan cara digetarkan. Hal ini selain mengandung konsep keseimbangan, juga sebagai ungkapan keterampilan sabet.

 

Konsep keseimbangan juga berlaku dalam adegan perang tandhing. Bahwa perbendaharaan gerak yang berupa cengkah hanya diberlakukan untuk tokoh yang memiliki kesaktian seimbang.

 

Konsep Etika

Konsep etika tampak dalam gerak sembahan. Sebagai contoh: Samba dan Setyaki menyembah setelah Kresna meninggalkan tempat persidangan. Hal ini merupakan konsep etika, bahwa Samba dan Setyaki menghormat kepada singgasana yang merupakan pengejawantahan kekuasaan raja. Namun demikian sikap seperti itu juga sering dilakukan oleh dalang pada saat adegan di luar istana. Untuk fenomena yang kedua ini, penulis belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari narasumber.

 

Konsep etika juga berlaku dalam sabet perang, yang salah satu tokohnya adalah wanita seperti Srikandhi atau Mustakaweni. Hantaman yang dilancarkan pihak lawan (terutama jika lawannya tokoh pria) selalu dihadapi dengan punggung wayang putri, bukan dengan dada. Demikian juga jika peperangan dilakukan oleh tokoh yang mempunyai perbedaan hierarkis, misalnya Gathutkaca melawan Karna, maka sabet samberan Gathutkaca selalu diarahkan pada dada Karna, bukan kepalanya. Bahkan sebelum berperang, Gathutkaca menyembah terlebih dahulu kepada Karna.

 

Konsep Estetika

Konsep estetika dalam sabet antara lain tampak pada gerak kiprahan. Kiprahan pada wayang kulit purwa ini menurut narasumber meniru gerak-gerak tarian wayang orang. Budhalan prajurit dengan gerak kiprahan menggambarkan perasaan girang, senang atau bersemangat. Konsep estetika juga tampak dalam perang kembang, yang menggunakan teknik gendiran. Perang dengan gendiran atau alusan, tetapi juga berlaku untuk tokoh gagahan seperti Wrekudara dalam lakon Abimanyu Lair. Gendiran ini mengandung arti bahwa tokoh kesatria tidak mau didekati oleh raksasa karena tidak tahan dengan baunya.

 

Tayungan Sebagai Tanda Kemenangan

Pada akhir perang brubuh, biasanya ditampilkan tokoh Bathara Bayu, Anoman, Bima atau Petruk menaari. Tarian ini disebut tayungan (= menari sambil berjalan).Tayungan merupakan tanda luapan kegembiraan tokoh karena kemenangan berperang, purna tugas atau tercapainya suatu cita-cita, karena setelah tayungan biasanya dilanjutkan adegan penutup. Menurut keterangan narasumber, tayungan pada wayang kulit adalah meniru joged wayang orang.

 

Untuk lakon-lakon Ramayana, tayungan selalu dilakukan oleh Anoman; untuk lakon-lakon zaman Pandawa-Kurawa, tayungan selalu dilakukan oleh Bima; sedangkan dalam siklus lainnya kadang-kadang dilakukan oleh Bathara Bayu. Hal ini mengandung konsep filosofis, bahwa ketiga tokoh tersebut merupakan simbol 'angin' atau pernapasan. Dengan demikian, tayungan dapat berarti hembusan napas terakhir menuju sakaratul maut.

 

III. PENUTUP

Sangat disadari bahwa makalah ini belum dapat mencakup seluruh konsep sabet dalam pakeliran. Masih banyak konsep-konsep sabet yang perlu digali dengan sebuah penelitian khusus secara mendalam. Akhirnya, selamat berdiskusi.

 

Makalah Seminar Pedalangan "Menggali Konsep-konsep Garap pakeliran" Program "DUE-Like" STSI Surakarta. Diselenggarakan oleh Program Studi Seni Pedalangan Sekolah tinggi Seni Indonesia Surakarta 20-21 September 2002.

 

 

 

 

 

 

 

You are here Kepustakaan Makalah Konsep Garap Sabet Dalam Tradisi Pedalangan