Konsep Garap Karawitan Pakeliran Wayang Kulit Purwa

E-mail Print PDF

 

oleh B. Subono, S.Kar.

 

Segala jenis seni suara atau musik yang mengutamakan kekuatan bunyi, pada umumnya hasil yang dicapai adalah perpaduan berbagai suasana dalam karakter tertentu. Karena sifatnya yang abstrak, bagi yang tidak terlatih akan kesulitan menangkap, apa yang diekspresikan oleh seorang komposer lewat sajiannya. Namun bagi yang terlatih, walau tidak persis seperti ungkapan penciptanya, paling tidak dapat menafsir ungkapan seperti apa yang tersaji lewat karyanya. Ungkapan-ungkapan tersebut, dapat ditangkap tidak sekedar rangkaian berbagai suasana, tetapi dapat menangkap makna bahkan apa yang dihayati bisa dijelaskan secara verbal. Penulis sangat terkesan mendengar ungkapan seorang tunanetra di Inggris padasaat mendengarkan pergelaran tari bedaya dari ASKI Surakarta. Dengan latar belakang budaya yang berbeda, serta hanya lewat pendengarannya, orang tersebut dapat mengungkapkan betapa agung dan megahnya tarian tersebut, serta iringannya melukiskan suatu pertempuran yang sangat dasyat.

 

Karawitan dalam pertunjukan wayang tidak sekedar mendukung suasana adegan atau tokoh, tetapi dapat mengantarkan bahkan dapat mewujudkan karakter kedalam suasana adegan tertentu. Kadang-kadang unsur lain seperti sabet tidak akan jelas maknanya tanpa dukungan iringan. Misalnya pada gerak wayang mengelus dada, maknanya akan ditentukan oleh iringan. Seperti pathetan Nem Jugag untuk makna lega, dan sedhon Tlutur untuk makna susah, walaupun dengan menggunakan pola gerakan yang sama. Sajian karawitan dalam wayang kulit berlangsung secara terus-menerus mulai awal pertunjukan hingga selesai. Sajiannya bisa berfungsi sebagian iringan adegan, dialog, narasi maupun karawitan mandiri. Dari kenyataan tersebut dapat dijelaskan peran pengrawit dan dalang dalam pertunjukan wayang kulit.

 

Pengrawit Penyaji.

Karawitan yang fungsinya sebagai iringan wayang, haemat penulis merupakan sajian yang paling komplek dan lengkap dibandingkan dengan iringan yang lain. Sebab dalam karawitan pakeliran, repertoar gending yang digunakan hampir semua bentuk dan jenis gending yang ada pada karawitan. Dengan demikian pengrawit penyaji yang biasa mengiringi tari atau konsert karawitan, akan kesulitan mengiringi sajian wayang kulit. Tetapi bagi pengrawit yang biasa mengiringi wayang kulit tidak akan begitu kesulitan mengiringi tari maupun konsert karawitan. Misalnya akan terlihat pada ricikan khusus seperti gender dan kendhang. (Sebenarnya ricikan yang lain juga menentukan namun tidak begitu menonjol). Selain itu seorang pengrawit wayangan walaupun repertoar gendingnya sudah dibakukan, namun terdapat tafsir dari repertoar tersebut, sehingga memunculkan kreativitas dari masing-masing pengrawit. Kreativitas tersebut muncul tidak hanya pada penafsiran cengkok atau sekaran pada ricikan gender, rebab dan kendang, namun pada ricikan lain juga terdapat tafsir berdasar karakter ricikan masing-masing, baik tafsir spontan maupun tafsir yang sudah mapan pada pengrawit tersebut.

Pengrawit penata.

Pesatnya perkembangan karawitan pakeliran, tidak semua dalang mampu menata sendiri gending-gending yang dipergunakan dalam sajiannya. Sehingga penataan gending diserahkan kepada seorang pengrawit yang dipercayainya. hasil penataan biasanya tidak lepas dari kemampuan pengrawit. Adapun bentuk-bentuk penataan sebagai berikut:

1. Menggunakan repertoar gending-gending tradisi dengan berbagai waton yang ada.

2. Menggunakan repertoar gending dari berbagai gaya yang diminati. Seperti gaya yogyakarta, Surakarta, Banyumasan dan gaya yang lain. (termasuk gending untuk tari dan atau jenis pertunjukan lain).

3. Menggunakan repertoar gending didasarkan pada konsep iringan pakeliran padat.

Pengrawit pencipta.

Bagi seorang pengrawit yang kreativitasnya tinggi, akan mampu menciptakan gending baru untuk sajian karawitan pakeliran. Adapun jenis-jenis ciptaannya, sebagai berikut:

1. Memberi gerongan, yakni dari gending yang sudah ada diberi atau dirubah gerongannya. Misalnya pada ladrang Diradameta dan ketawang Subakastawa.

2. Merubah bentuk gending, yakni gending bentuk tertentu dirubah menjadi bentuk yang lain. Misalnya dari bentuk inggah kethuk 4, menjadi lancaran yang terdapat pada gending Majemuk.

3. Membuat gending baru.

 

Untuk membuat gending baru, pencipta dapat membuat dengan pola bentuk gending yang sudah ada, seperti bentuk gending kethuk loro kerep, ketawang gending, ladrang, ketawang, lancaran, sampak dan Srepeg. Dan membuat bentuk baru, seperti Gantungan, tandingan, palaran Jenggleng dan lain sebagainya.

Peran Dalang

Dalang dalam pertunjukan wayang selain sebagai Dalang, juga bertindak sebagai penyusun gendhing. Bentuk susunan tidak begitu berbeda dengan susunan pengrawit. Namun karya yang dihasilkan, bila dibandingkan dengan karya Pengrawit, akan lebih praktis dan mantab karya Dalang. hal itu terjadi sebab Dalang lebih tahu secara detail, kebutuhan suasana, maupun kebutuhan praktis dalam penggunaannya..

Sekelumit Pengalaman.

Perjalanan kesenian penulis sejak kecil rasanya mengalir, artinya tidak memaksakan diri namun selalu mendapat kesempatan untuk lebih mendalami hal-hal yang berhubungan dengan kesenian. Apalagi setelah penulis merantau dipusat budaya Jawa Surakarta (belajar di KOKAR dan ASKI Surakarta),kesempatan tersebut selalu ada khususnya di bidang karawitan, baik gaya Surakarta maupun gaya-gaya yang lain, seperti Yogyakarta, banyumasan, Sunda, Jawa Timuran, Semarangan dan gaya Bali. Pada waktu penulis mendapat kesempatan bergaul kepada dalang-dalang senior, seperti Pak Ganda Darman, Pak Manteb Sudharsono dan Pak Anom Suroto, selain mendapat kesempatan memasarkan karya-karya karawitan, penulis juga mendapat kesempatan belajar lebih mendalam hal-hal yang berkaitan dengan pedalangan. Namun pada saat karya-karya penulis akan mendapatkan pengakuan, hinaan, cercaan dan kritikan pedas bertubi-tubi datang baik dari luar maupun dalam kampus sendiri.

 

Pada awalnya penulis mendapat kesempatan untuk menyusun iringan tari, baik tari lepas, frahmen maupun sendratari. Kemudian menyusun komposisi karawitan, iringan Sandosa, iringan pakeliran padat dan iringan pakeliran semalam. Berikut akan penulis sampaikan contoh-contoh kecil tentang proses penyusunan iringan pakeliran semalam.

 

Membuat gending.

 

Proses membuat suatu gending, biasanya didasarkan atas kegunaannya dan akan sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi pada saat itu.

a. Gending jejer

 

Pada awalnya penyususn sengaja ingin membuat gending jejer yang berbeda tetapi masih mempola gending yang sudah ada, serta juga telah dikembangkan oleh Ki Nartasabda. Yaitu pola ayak-ayakan, gending ketuk loro kerep, inggah ladrang dengan garap kosek alus ditambah dengan gerongan yang terdapat pada gending Ayak-ayakan Slendro Manyura dilanjutkan gending karawitan. Dari situ penulis membuat ayak-ayakan Hong, dilanjutkan gending Srenggeng, Ladrang Soran kemudian Inggah kethuk papat, dengan diselingi semacam jengglengan pada inggah menjelang seseg mau suwuk. Jengglengan disini melukiskan suasana Mriyam bertubi-tubi sebagai isyaratbahwa raja akan memulai pembicaraan. Setelah membuat gending jejer yang lain baik laras Slendro maupun Pelog dengan tambahan garap yang khusus.

b. Gending bedhol jejer

 

Pada proses penyusunan gending ini, penulis juga masih mempola gending yang ada serta yang dikembangkan Ki Nartasabda. Misalnya pada gending kemuda digarap ayak-ayakan diberi gerongan. Pada pola ini kebetulan penulis sudah membuat, yakni ayak-ayak Nawung yang terdapat pada sendratari Adaninggar-Kelaswara. penulis ganti cakepan gerongannya kemudian ditambah gending bentuk srepeg. Setelah itu penulis membuat pola gending yang berbeda, tetapi masih mempola gending Undur-undur kajongan yang biasanya dipakai untuk menghormati kepulangan raja Surakarta dari pasewakan ke kraton. Penulis namakan gending Unduran dengan menggunakan gerongan dilanjutkan ibentuk srepeg.

c. Gending jaranan

 

Untuk gending jaranan, penulis juga masih mengembangkan pola gending yang ada juga telah dikembangkan Ki Nartasabda. Misalnya ada-ada Astakuswala diganti dengan ada-ada Pangkur dilanjutkan lancaran Singanebah buka celuk dengan menggunakan gerongan. Pada awalnya penulis mengambil ada-ada semacam Astakuwala yang terdapat pada Dramatari Harya Penangsang Gugur, dilanjutkan semacam jengglengan kemudian intro terus lancaran dengan menggunakan gerongan dilanjutkan ladrang untuk kapalan. Gending ini penyususn namakan Lancaran Gilar-gilar laras slendro pathet manyura. Selain itu penyususn juga mencoba membuat gending dengan pola yang berbeda berlaraskan slendro dan pelog. Gending ini didahului buka celuk oleh dalang, dilanjutkan garap palaran diselingi jengglengan, kemudian intro diselingi dialog lumaksana magita-gita, tandya.... Kemudian dilanjutkan lancaran yang berbeda-beda baik slendro maupun pelog menyesuaikan tokoh yang tampil. (termasuk kiprah dan tokoh gecul). Dilanjutkan ladrang untuk jaranan, kemudian kembali ke Lancaran. Gendhing ini penulis namakan gending Tandang.

Seorang penyusun gending selain dituntut peka, terlatih, kulina serta luasnya wawasan budaya, juga tentang keberanian untuk selalu mencoba serta memanfaatkan segala kesempatan yang ada tanpa mempertimbangkan segi vinansialnya. Langkanya seorang penyususn gending yang berhasil di STSI Surakarta, karena kurangnya perhatian, dukungan serta kesempatan seluas-luasnya bagi calon seniman yang potensial. Semoga dengan seminar ini, pintu nurani segera terbuka, sehingga membawa angin segar bagi Dosen-dosen STSI Surakarta yang berbakat akhirnya mendapatkan jalan yang tidak sesat, Amin.

Makalah Seminar Pedalangan "Menggali Konsep-konsep Garap pakeliran" Program "DUE-Like" STSI Surakarta. Diselenggarakan oleh Program Studi Seni Pedalangan Sekolah tinggi Seni Indonesia Surakarta 20-21 September 2002.

 

 

 

You are here Kepustakaan Makalah Konsep Garap Karawitan Pakeliran Wayang Kulit Purwa