Ketika Kotak Wayang Menjadi Kotak .

E-mail Print PDF

 

suatu pertanda jaman

RAHAYU SUPANGGAH

 

Banyak orang menyebut dekade ini sebagai jaman renaissance, kebangkitan, boom atau sebutan lain yang bernuansa positif bagi pewayangan Indonesia, khususnya wayang ( kulit purwa ) Jawa. Akhir-akhir ini di Jawa, ( atau Indonesia pada umumnya ) memang menunjukkan peningkatan kwantitas kegiatan pewayangan yang luar biasa: pagelaran fistival, diskusi, tayangan televisi, garap, kreasi; yang melibatkan banyak individu maupun kelompok. Beberapa peristiwa spektakuler baru saja terjadi: greget dalang di Solo menampilkan 50 dalang terpilih dalam pagelaran maraton selama 50 malam, disusul pagelan rekaman 30 dalang untuk televisi di Sukaharjo, festival dalang cilik di Solo menampilkan 20 dalang terpilih dari Jawa Tengah dan DIY, festival wayang pepak di Nganjuk, festival wayang pinggiran di Malang, festival wayang/boneka internasional di Jakarta dan Surabaya, di Solo juga digelar pesona dalang wanita yang menampilkan 20 dalang pilihan dari seluruh Indonesia, dan sebagainya. Belum lagi beberapa pagelaran lainnya yang diponsori oleh para dalang terkenal, pejabat, perorangan atau lembaga yang disajikan dalam rangka tingalan ( hari jadi ) atau event lainnya.

 

Menarik untuk dicatat bahwa saat ini bukan saja para ( keturunan dan atau mereka yang memiliki profesi ) dalang, tetapi ada juga guru, pengusaha, wartawan, anggota ABRI, walikota, sekwilda, wakil gubernur, anggota DPR, duta besar, menteri, pejabat lain, pelawak, dsb, banyak juga yang mendalang. Yang ngurus dunia pewayangan juga tidak terbatas pada seniman dan atau lembaga lembaga pemerintah ( Depdikbud, Deppen, dsb ) tetapi juga lembaga non pemerintah, seperti Ganasidi, Pepadi, Senawangi, Panakawan, Sesaji Dalang, Pantap, dll, yang sebagian besar tokohnya bahkan bukan dalang. Suatu indikasi betapa besar perhatian, minat, cinta, apresiasi masyarakat luas terhadap jagat wayang. Tingginya apresiasi masyarakat dapat pula dilihat dari besarnya imbalan yang diterima kepada dalang yang sekarang ini sudah menggapai delapan digit. Namun di sisi lain, banyaknya fihak yang terlibat juga sering menambah majemuk, hiruk-pikuknya interest dan kepentingan sertasemakin menjadikan ruwetnya jagad wayang.

 

Jagad wayang memang meluas bukan saja menjadi milik dalang, bahkan bukan saja meliputi jagad kesenimanan, tetapi memiliki demensi yang lebih luas; sosial, bidaya, ekonomi, politik, dan hankam.

 

Dalam perjalanannya, wayang memang telah teruji kemampuan dan keluwesannya beradaptasi dengan jaman serta peranannya dalam mengemban berbagai fungsi. Sejak masih peran sebagai kelengkapan upacara ritual religius pada masa pra Hindu, kemudian menjadi media menyampaikan nilai-nilai Hindu lewat epos Mahabharata dan Ramayana, lalu mengabdi kepada kepentingan Islam. Di masa merdeka ini, wayang memperluas perannya untuk berbagai fungsi dan kepentingan: dari kelengkapan upacara religi, keluarga kemasyarakatan, kenegaraan hingga sebagai sarana promosi produksi, alat propaganda, penyebaran pesan pembangunan, hiburan, komoditas ekonomi, profesi maupun ekspresi kesenian murni, dan kesemuanya masih dapat diwadai serta menggunakan personifikasi dan bingkai cerita yang "sama", - Mahabharata dan Ramayana. ( Walau sekarang muncul juga cerita-cerita carangan yang bersumber dari cerita lain )

 

Karena multi fungsi, multi fihak yang terlibat dengan multi latar belakang dan kepentingannya, maka wayang ( kulit purwa ) tampil dan berkembang dalam multi sosok dan multi bentuk ekspresinya. Pembengkakan sosok ( fisik ) nampak pada contoh penggunaan 12 meter ( dari 4-6 meter ) kelir atau layar, sekitar 300 ( dari 100 - 150 ) biji wayang dalam satu kotak, gamelan ageng slendro pelog super lengkap ( bahkan alat musik non gamelan ) yang melibatkan 30 - 50 musisi, termasuk 5 atau puluhan lebih pesinden ( dari perangkat gamelan kecil wayangan slendro dengan 10 - 15 musisi termasuk satu pesinden atau bahkan tidak menggunakannya sama sekali ), dsb. Merupakan pemandangan biasa sekarang ini melihat penyanyi-penyanyi kroncong, ndangdut, penari-penari lengger, ngremo, dagelan, reyog, warna-warni tata lampu, sound effect, proyeksi slide dsb, dalam sebuah pertunjukan wayang. Demikian pula figur-figur wayang baru ( dengan bentuk "realis" ) seperti pendeta gadungan, raksasa, setanan, dagelan, barusan prajurit, pemain drum band, senjata mutakhir, sarana transfortasi, helikopter, - makin banyak dibuat. Perkembangan yang cukup berarti juga berarti pada aspek garap penyajian; wayang dengan tiga dalang ( dengan tiga kelir ), dua dalang dari kedua sisi layar, dalang menari, pesinden penari, wayang berbahasa Indonesia ( bahkan Inggris atau Arab ) pakeliran semalam suntuk, pakeliran ringkas, pakeliran padat, garap berbagai unsur ( pengembangan sabet, narasi, dialog, musik, dramaturgi dsb ), semuanya makin meng-iya-kan pesatnya perkembangan wayang yang cenderung mengarah ke arah paket "hiburan" spektakuler. Predikat baru yang berbau sensasional seperti dalang edan, dalang setan, dalang sabet, dalang mbeling, dalang rock, dsb, diperlakukan pula bagi dalang-dalang tertentu. Hal tersebut sebagai pertanda bahwa dunia pedalangan menjadi lebih terbuka luas bagi kreatifitas seniman, pada saat yang sama juga sejalan dengan lebih terbukanya apresiasi masyarakat terhadap pewayangan.

 

Pewayangan makin berkembang menjadi bagian dari dunia show-biz yang perlu menejemen yang profesioanal. wayang mulai butuh menejer, pemasar, penyusun naskah, penata musik, tehnisi suara, latihan serius, perangkat komunikasi dan tranportasi yang memadai, cara pemanggungan dan penyajian yang baik, dsb.Maraknya pewayangan, di satu sisi mengkonfirmasikan besarnya potensi seni serta akomodatif dan mampunya jagad wayang dalam memenuhi kebutuhan dan tantangan jaman yang selalu berubah.

 

Sebagai konsekwensinya problem pewayangan menjadi semakin rumit dan kompleks. Contoh yang paling gampang adalah untuk menjadi dalang yang baik, tidak cukup hanya baik secara estetis dalam mendalangnya ( trampil, nges, sem, semu, cucut, lulut, gandang, gending, gendeng, gendung, dsb ) tetapi juga perlu kepekaan sosial, politik, kultural, hankam dan juga manajemen (pembagian tugas dan pekerjaan, termasuk yang paling penting adalah "seni" pemasaran,- lobbying dan penguasaan media massa). Lain kata, kita dapat mengatakan juga bahwa kehidupan pewayangan sekarang ini tidak hanya di tentukan oleh dalang atau seniman saja, tetapi oleh berbagai fihak yang paling mengkait.

 

Namun bila semuanya dilakukan tanpa didasari oleh kesadaran, kontrol, alasan dan tanggung jawab, - moral, estetik dan kultural -, makin marak, luwes dan akomodatifnya wayang justru akan dapat menjadikan bumerang bagi kehidupan pewayangan itu sendiri. Kotak wayang, - kurang-kurang begjane, sisip katuranggane -, akan menjadi kotak sampah. Petunjuk ke arah itu sudah semakin tampak. Dalam pertunjukan wayang sekarang ini, dalang sudah mulai berebut peran dan pamor dengan dagelan, penyanyi kroncong/dang-dut, juru kampanye, juru penerang atau bahkan bersembunyi dibalik sponsor, gemerlapnya lampu, dar-der-nya musik gamelan masa kini, atau hingar bingarnya unsur lain yang terlibat dalam perhelatan tersebut.

 

Berbagai dalih seperti hasrat menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap ( seni tradisi ) wayang, menegakkan kendil ( rice cooker ), menuruti selera masyarakat, mengikuti jaman dsb, memang dapat menjadi alasan yang sah, kuat, mulia dan dapat dimengerti. Namun lebih dari itu, apakah tidak perlu perenungan dan atau pertanyaan kembali pada diri kita masing-masing tentang hal itu. Terutama tentang tanggung jawab estetik, moral, kultural dan tanggung jawab profesi kita sendiri. (Tontonan dan tuntunan ). Jangan-jangan nantinya dalang akan hanya sekedar menjadi agen pengatur lalu lintas kepentingan ( kesenian maupun non-kesenian ) atau bahkan sekedar menjadi MC, dari sebuah perhelatan wayangan. Kalau sudah demikian, - pada suatu saat, dan bilaman itu diinginkan-, jagad wayang harus siap membayar mahal untuk mengembalikan wayang pada "fitrah' nya, pada kedudukan dan fungsinya yang wajar. Namun semuanya akan berpulang pada kita, terutama kepada niat dan keinginan para dalang, "pembina" pedalangan dan fihak lain yang mencintai dan terlibat dalam jagad wayang ini.

 

Pengalaman serupa pernah terjadi. Melihat perkembangan wayang yang begitu hebat akhir-akhir ini, mengingatkan kita pada situasi pewayangan pada tahun 60-an, yang secara kebetulan memiliki beberapa fenomena yang mirip. Waktu itu juga pernah muncul fenomena pertunjukan wayang 3 ( tiga ) dalang dengan satu kelir panjang, -disebut wayang kolektif-, untuk keperluan dapat menggambarkan dua atau lebih peristiwa yang berlangsung bersama atau berurutan di tempat yang berbeda. Bentuk ini mengilhami munculnya wayang Sandosa, pakeliran wayang lebar berbahasa Indonesia yang melibatkan sampai 8 dalang ( pemain wayang ) atau lebih. Narasi dan dialog dilakukan oleh narator khusus. Sekarang ini pertunjukan wayang 2 atau 3 dalang ( dengan 1 set kelir atau lebih ) kembali marak dilakukan. Fenomena lain adalah membuat figur wayang yang lebih realis juga muncul di tahun 60-an. Contoh Udawa sebagai figur petani, berikat kepala batik dan menyelip sabit sebagai pengganti keris. Gejala semacam muncul juga sekarang, contoh Durna berjubah korpri, selain beberapa figur lain yang disebut pada bagian awal tulisan ini. Penonjolan unsur musik pernah juga muncul, sehingga saat itu, untuk pertunjukan wayang perlu dibuat paggung khusus untuk pesinden ( terutama pada wayang golek Sunda ). Bandingkan dengan simpingan sindhen yang banyak dilakukan saat ini. Bila perlu pertunjukan wayang dapat dihentikan sementara untuk acara pilihan pendengar. Bahkan penonton diberi kesempatan menjadi " bintang tamu", sekarang ini populer lagi.

 

Fenomena yang paling signifikan adalah kecenderungan makin "keluarnya" wayang dari bingkai cerita pokok maupun kaidah pertunjukan wayang. Kalau di tahun 60-an muncul fenomena dalang a la pak Sardjono Letre ( Wonogiri ) dan atau pak Yoso Baksono ( Bayalali ) dengan muatan politiknya, kini muncul muatan-muatan baru yang lebih kompleks, sehingga porsi permasalahan yang terkait langsung dengan pewayangan dan diskusi nilai-nilai hidup (rohani) tinggal sekitar 20 persen.Selebihnya adalah lawakan, sabetan ( perang ), sindiran, nggarapi kancane dewe, pesan sponsor, misi pembangunan, musik, garap klise, dsb.

 

Bagi masyarakat Jawa, fenomena pertunjukan wayang tersebut tidak saja ditangkap sebagai sekedar perubahan nilai atau parameter kreatifitas estetik dari suatu bentuk ekpresi cabang kesenian yang bermedia ganda dan yang dianggap sebagai "puncaknya" cabang kesenian ( tradisi ) yang ada di Jawa. Lebih dari itu, wayang sering dianggap sebagai refleksi, lambang, ngalamat (pertanda, omen) jaman bagi mereka. Kalau di tahun 60-an, dunia wayang lebih memberi pertanda akan terjadinya musibah dalam jagat pewayangan ( kesenian pada umumnya) kita, bahkan sebagai pratanda akan terjadinya trakedi nasional G.30.S, muda-mudahan ramainya jagat pewayangan saat ini tidak menjadi pertanda jaman akan terjadinya kesemrawutan,-bumi gonjang ganjing-, tetapi justru membawa berkah bagi kita semuanya. insya allah.

 

Keterbukaan telah terjadi pada jagad pewayang dan masyarakat pecinta wayang. Namun saya kira, satu keterbukaan yang lain masih sangat diperlukan pada jagat pewayangan, yaitu keterbukaan kritik. Di jagad sementara pada jagad pewayangan, yaitu keterbukaan kritik. Di jagad sementara para dalang, kritik masih dianggap tabu. Kritik identik dengan hinaan, cacian, kutukan, nyacat, mada. Maka kritik sering dihadapi dengan sering adu urat, dilabuhi pecahing dhadha wutahing ludira, dengan tanpa disertai argumentasi yang sehat. Memang dunia kritik pedalangan (juga pada cabang seni yang lain) di Indonesia sekarang ini belum tumbuh. Belum ada ( banyak ) kritikus pedalangan ( bahwa kesenian pada umumnya ) yang baik, yang mampu melihat fenomena wayang dari berbagai sisi, positif dan negatifnya, kekurangan dan kelebihannya, serta melihat, menghubungkan dan mendudukkannya pada konteks, posisi, proporsi dan porsinya yang wajar. Sebenarnyalah peranan kritik sangat penting untuk menjembatani jagad pewayangan, jagad dalang dengan masyarakatnya untuk dapat memberi informasi dalam rangka mendudukkan posisinya secara wajar dan proporsional. Dalam kehidupan jagad wayang semakin multi dimensional ini, kehadiran kritik yang baik, -disertai dengan tanggung jawab estetik, moral dan kultural, seperti juga tuntutan ini juga diberlakukan pada para dalang, seniman dan perangkat pendukungnya-, menjadi sangat penting dan mendesak. Dengan demikian, jagad wayang kita akan menjadi lebih bersinar, Semoga

 

R. Supanggah.

Penggemar wayang tinggal di Solo.

You are here Kepustakaan Makalah Ketika Kotak Wayang Menjadi Kotak .