Kekerasan Dalam Pewayangan

E-mail Print PDF

seminar IAIN Walisongo, Kamis 23 Oktober 2003)

Wayang

Wayang adalah salah satu seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol. Budaya wayang meliputi seni peran/musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan juga seni perlambang dari zaman ke zaman juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, pemahaman filsafat, serta hiburan.

Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di pulau Jawa, walaupun cerita wayang yang populer di masyarakat diadopsi dari karya sastra India, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikan dengan filsafat asli Indonesia.

Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pandangan filsafat masyarakat Jawa terhadap para dewa dalam pewayangan. Dewa dalam pewayangan tidak lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan juga sebagai makluk Tuhan yang kadang-kadang bertindak keliru. Hadirnya tokoh Panakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik dan benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu menyandang unsur kebaikan dan kejahatan.

Haseau (1987) menunjukkan keyakinannya bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Wayang adalah boneka tiruan orang yang dibuat dari pahatan kulit yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh di pertunjukan drama tradisional. Wayang adalah "walulang inukir" dan dilihat bayangannya pada kelir. Sedangkan kelir adalah secarik kain sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang dengan penonton di balik kelir itu. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Kata wayang diduga dari kata "wewayangan" yang artinya bayangan.

Kata bayangan mengandung arti dua macam, yaitu:

1. Bayangan roh nenek moyang.

orang Jawa menganggap bahwa roh nenek moyang dapat memberi pertolongan dan perlindungan kepada setiap kehidupan. Anak cucu yang masih hidup dalam usaha memajukan kehidupan keluarga di lingkungannya mereka menyembah kepada roh nenek moyang. Dengan segala macam cara orang berusaha memohon agar roh nenek moyang untuk sementara dalam bayangan yang telah mereka buat tadi. Agar roh nenek moyang mau datang dan bertempat tinggal sementara pada wayang maka dibuatlah sesaji dengan disertai mantra-mantra. Akibatnya wayang menjadi barang keramat (gaib).

2. Bayangan watak.

Tiap-tiap indifidu tentu memiliki watak yang berbeda-beda. Watak adalah sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku. Watak diartikan pula budi pekerti, tabiat, atau pribadi. Watak tiap-tiap individu ditandai dengan "antawacana" atau "antawecana". Antawecana kadang-kadang disebut "ginem" atau "pocapan". Antawecana meliputi kemampuan membawakan karakter tokoh wayang melalui warna suara, teknik vokal, tekanan dan nada bicara agar suara itu dapat mewakili sifat dan tabiat tokoh wayang yang dibawakannya.

Lambang atau simbol.

Boneka pada zaman Majapahit diartikan sebagai bayangan atau lambang roh nenek moyang yang diwujudkan dalam kriya tatah sungging dengan tokohnya yang menyerupai bentuk manusia. Setelah zaman Demak, boneka wayang tidak lagi sebagai bayangan roh nenek moyang, sebab menurut agama Islam hal tersebut adalah larangan. Pada zaman itu boneka wayang sebagai lambang watak manusia. Tatah sungging pada zaman kerajaan Demak disempurnakan, tatahannya adalah tatahan kerawangan (tembusan). Sifat tatahannya adalah tatahan "gempuran" yaitu tatahan kerawangan yang menyuruh sampai ke bagian rambut, pakaian dan perhiasan lainnya.

Salah satu contoh adalah tokoh buta Cakil. Buta Cakil adalah lambang watak dengki, iri, jahil. Mukanya berwarna merah sebagai lambang watak suka marah. Matanya sipit seperti bentuk bulan tanggal muda yang disebut mata "penanggalan", melambangkan watak dengki dan kurang terbuka. Mulut terbuka lebar, rahang bawah menjorok ke depan, gigi taring bagian bawah memanjang dan mencuat hampir sampai hidung. Mulut Cakil perlambang orang berwatak sombong, banyak membicarakan hal-hal yang kurang baik. Warna suara Cakil nyaring dan kecil, jika berbicara gegap. Perut buncit dan punggung bongkok, semuanya memperkuat kesan watak tidak baik. Tambahan pula dengan tingkat laku yang usil dan melenting-lenting sebagai lambang watak orang yang suka mengganggu pihak lain.

Hal lain yang mendukung sifat lembut dan tertutup adalah penggunaan bahasa "sanepa". Sanepa adalah ibarat atau bahasa isyarat yang menunjukkan bahwa orang yang berbicara tidak mau berterus terang. Secara tidak langsung orang yang berbicara dengan sanepa berarti ia hormat dengan orang yang diajak berbicara sehingga sifat damai dan kerukunan dapat dijaga. Penggunaan bahasa sanepa akan meredam perasaan seseorang sehingga ia tidak mudah terpancing oleh watak keras.

Wayang adalah seni pertunjukan. Seni merupakan ungkapan jiwa seseorang yang dinyatakan dalam bentuk simbol. Adapun simbol selamanya samar-samar, tidak ada simbol yang jelas nyata.

Tingkah laku wayang yang sebenarnya adalah bentuk seni tari. Gambaran pembunuhan dinyatakan dalam bentuk seni tari. Kata-kata atau kalimat percakapan dinyatakan dalam bentuk bahasa sastra, dan masih jugadipadu dengan seni musik sehingga dalam pertunjukan wayang semuanya tampil dalam bentuk seni yang indah.

Lakon

Lakon cerita wayang berinduk dari karya sastra Ramayana karangan Walmiki pujangga India yang diterjemahkan pujangga Jawa pada pemerintahan raja Dyah Balitung tahun 898-910. Menurut J. Ras (1976) setidaknya pada pemerintahan raja Airlangga dariKahuripan tahun 976-1012. Selanjudnya pujangga Jawa tidak hanya menerjemahkan kitab Ramayana dan Mahabarata dari India ke dalam bahasa Jawa Kuno, melainkan menggubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan filsafat Jawa ke dalamnya. Contohnya adalah karya Empu Kanwa kekawin Arjunawiwaha yang merupakan gubahan yang berinduk pada kitab Mahabarata. Contoh lain adalah kekawin Baratayuda karya Empu Sedah dan Panuluh pada pemerintahan Prabu Jayabaya raja Kediri (1130-1160).

Untuk lebih menjawakan wayang, sejak awal penmerintah Majapahit diperkenalkan wayangyang tidak berinduk pada Ramayana dan Mabarata. Sejak saat itu tersebar wayang dengan cerita Panji dengan isi cerita tentang leluhur raja-raja Majapahit. Pada awal berdirinya kerajaan Majapahit itulah carita wayang disebut "lakon" wayang.

Lakon berasal dari kata "laku" artinya berjalan. Lakon wayang diartikan sebagai suatu peristiwa kehidupan yang sedang berjalan atau gambaran kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karena itu lakon yang dipergelarkan dalam wayang merupakan salah satu pokok acara yang terpenting. Pada zaman dahulu, pertama-tama lakon wayang menjelaskan kehidupan para leluhur, kemudian kehidupan para raja-raja. Sudah barang tentu yang digambarkan meliputi peristiwa kehidupan yang bagus-bagus dengan maksud meneladani sanak keluarga yang masih hidup.

Bagi orang Jawa kata lakon mempunyai tiga pengertian yaitu:

1. Lakon dapat mengacu pada tokoh utama dalam cerita yang disajikan. Pengertian lakon ini tersimpul pada pernyataan "lakone apa", yakni siapakah yang menjadi pemeran utama.

contoh: Bismo gugur.

2. Lakon dapat berarti alur cerita. Pengertian kedua ini dapat disimpulkan pada pertanyaan "lakone kepiye", yakni bagaimana jalan ceritanya.

contoh: lakon Bale Sigala-gala.

3. Lakon yang mengacu pada judul seperti cerita yang disajikan. Pengertian ketiga ini dapat tersimpul dari pernyataan "lakone apa"

contoh : lakon Baratayuda.

Masuknya agama Islam ke Indonesia sejak abad ke 13 memberi pengaruh besar terhadap budaya wayang terutama pada konsep religi dari falsafah wayang itu. Pada awal abad ke 15 yakni zaman kerajaan Demak mulai digunakan blencong dan wayang sebagai alat untuk dakwah. Sejak zaman Mataram di Kartasura gubahan wayang yang berinduk pada Ramayana dan Mahabarata makin jauh dari aslinya. Sejak zaman itulah masyarakat penggemar wayang mengenai istilah tokoh wayang, termasuk para dewa yang berawal dari nabi Adam.

Kekerasan

Kekerasan adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, setidak-tidaknya menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Kata kekerasan mempunyai arti yang sangat luas, sampai-sampai kekerasan berakibat kerusakan fisik atau barang orang lain. Terjadi kekerasan berarti terjadi pemaksaan sehingga menimbulkan kerugian pihak lain. Terjadinya pemaksaan berarti terjadi pelanggaran hukum dan kejadihannya tidak dikehendaki oleh orang yang dipaksa.

Kehidupan seseorang atau kelompok masyarakat selamanya dipengaruhi oleh kebudayaannya. Sifat kebudayaan selalu berubah-rubah dan tambah maju atau mundur, hal itu sangat tergantung pada kondisi dan situasi zamannya.

Wayang yang populer sekarang diciptakan pada zaman Demak (abad 15). Gambaran kehidupan pada waktu itu terbayang pada wayang kulit, secara umum merupakan cerminan kebudayaan pada saat itu.

Wayang adalah seni drama, maka didalamnya tentu terjadi wacana dengan konflok-konflik. Konflik adalah pertentangan antara dua kelompok. Apabila disinyalir kekuatan dari tiap-tiap kelompok terdapat kelompok yang menang dan kelompok yang kalah, maka bagi kelompok yang kalah menganggap bahwa tindakan yang menang sebagai tindakan kekerasan.

Contoh peristiwa kekerasan dalam pewayangan antara lain:

1. Ramawijaya diusir oleh ayahnya dari kerajaan dan melepaskan predikat raja. Ramawijaya menjadi manusia gelandangan di hutan dengan diiringkan oleh Dewi Sinta istrinya dan Lesmana adiknya.

2. Sinta diculik oleh Rahwana.

3. Jathayu dibunuh oleh

4. Perang Sugriwa-Subali (kakak beradik), Sugriwa terjepit pada pohon besar.

5. Wibisana diusir dari Alengka, kemudian bersekutu dengan Ramawijaya.

6. Ramawijaya terjerat panah Nagapasa.

7. Dewi Sinta membakar diri.

8. Buta Cakil yang hidup pada zaman Ramayana dan mahabarata menjadi buta jahat, kejam, jahil, methakil, dengki, srehi. Buta Cakil dibantu oleh buta Rambutgeni (merah), buta Pragalba (nafsu jahat) dan buta Galiuk (pengecut).

9. Durna yang semula berparas bagus bernama Kumbayana menjadi rusak dan cacat seumur hidup arena disiksa oleh Gandamana.

Kumbayana bertindak gagabah terhadap raja Jawa bernama Sucitra yang bergelar Prabu Drupada.

10.Narasoma tega membunuh mertuanya karena percintaannya dengan Setyowati.

11.Samba mati dicincang oleh Bomanarakasura sebab jatuh cinta kepada Dewi Agnynawati istri Bomanarakasura sedangkan Bomanarakasura adalah kakak Samba.

12.Abimanyu mati berdiri karena dipanah seribu oleh kurawa dalam perang Baratayuda. (abimanyu ranjap).

13.Kalabendana terbunuh oleh Gatutkaca sebab Kalabendana mengetahui percintaan antara Abimanyu dengan Dewi Siti Sendari.

14.Drupadi istri Pandawa.

Isi Wayang:

1. Wayang adalah cerita raja-raja.

2. Wayang adalah gambaran watak.

3. Wayang menceritakan perjalanan hidup orang atau sekelompok orang yang terbabar dalam lakon semalam suntuk.

4. Lakon wayang merupakan perjuangan antara yang benar dengan yang salah.

5. Tiap-tiap tokoh wayang tentu menyendang sifat baik dan jahat, termasuk para Dewa.

6. Tokoh wayang yang menyandang tindak kejahatan akan dikalahkan oleh tindak kebaikan.

7. Aderson: salah satu ciri khas wayang, bahwa lakon-lakon itu penuh dengan masalah yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan moral.

Etika Jawa

Suseno (1984), Bakker (1984) menulis tentang filsafat kebudayaan. Tulisan Suseno berupa laporan penelitian tentang Etika Jawa yang sifatnya ideal teoritis.

Menurut Suseno, mengembangkan norma-norma kelakuan yang diharapkan dapat mencegah terjadinya emosi-emosi yang bisa menimbulkan konflik atau sekurang-kurangnya dapat mencegah jangan sampai emosi-emosi itu pecah secara terbuka.

Pandangan orang Jawa bahwa realitas tidak dibagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah dan tanpa hubungan antara satu dengan yang lain, melainkan bahwa realitas dilihat sebagai suatu kesataun menyeluruh. Bagi orang Jawa memandang dunia bukan suatu pengertian yang abstrak, melainkan berfungsi sebagai sarana dalam usahanya untuk berhasil dalam menghadapi masalah kehidupan.

Kaidah dasar kehidupan orang Jawa adalah:

1. Prinsip Kerukunan.

Kerukunan tergambar pada praktek memukul "gamelan" dalam satu lagu atau "gendhing". Tiap-tiap instrumen dipukul dengan cara yang berbeda-beda dan ada istilah kendangan "salahan", kenong "salahan", pukulan "nibani", pukulan "ngandul", pukulan "mendahului", bonangan "mlampah", bonangan "minjal/imbal", "pipilan", vokal "sindenan" dan lain sebagainya. Namun apabila diperhatikan sungguh-sungguh rasanya hanya terjadi satu suara yang harmonis yang merupakan satu kesatuan, kerukunan dan ketentraman dalam suasana aman dan damai.

Prinsip rukun didukung dengan:

1) "Unggah-ungguh" dengan "tataran Basa", mulai dari "ngoko" sampai dengan "krama Inggil".

2) "Mulat sarira, nyawang ulat among rasa".

3) Ewuh pakewuh" (dalam arti benar dan sesungguhnya).

4) "Asuh, asah, asih".

5) Musyawarah.

6) "Sumbang surung, gugur-gunung, gotong royong".

2. Prinsip hormat.

Yang memainkan peranan besar dalam mengatur pola interaksi dalam masyarakat Jawa ialah prinsip hormat. Prinsip ini berdasarkan pendapat bahwa semua hubungan dalam masyarakat teratur secara hirarkis, bahwa keteraturan hirarkis itu bernilai pada diri sendiri, oleh karena itu orang wajib mempertahankannya dan membawakan diri sesuai dengannya.

Prinsip hormat didukung dengan:

1) Tata krama.

2) "Ajen-ingajenan".

3) Perasaan "wedi", isin", dan "sungkan".

dan lain-lain

Kekerasan zaman sekarang mungkin disebabkan oleh:

1) Jumlah penduduk berlipat ganda.

2) Tidak ada "narima" dan "tepa sarira".

3) Semua orang menghendaki bebas. Bebas itu enak, sehingga memunculkan nafsu animalia.

4) Semua orang menghendaki "blak-blakan", tanpa "tedheng aling-aling", tanpa "sanepa", terjadilah kekerasan

5) Semua peristiwa diberitakan di TV secara terbuka (kemajuan teknologi informasi).

6) Demokrasi penuh.

dan lain-lain

Semarang, 15-10-2003

Penulis

Suwaji Bastomi

 

You are here Kepustakaan Makalah Kekerasan Dalam Pewayangan