Kandungan Nilai filosofis Dalam Serat menak dan Wayang Golek Mena

E-mail Print PDF

 

Singgih Wibisono (UI, SENAWANGI)

Latar Belakang

Cerita Menak tersebar luas di Jawa bersama dengan penyebaran agama Islam. Menjelang akhir kekuasaan kerajaan Majapahit daerah pantai utara Jawa berada di bawah kekuasaan pembesar daerah yang sudah menjadi Muslim dan didukung oleh para pedagang Islam baik dari luar maupun dari dalam negeri. Agama Islam dengan cepet menyebar dikalangan masyarakat Jawa berkat ajarannya yang menyatakan bahwa tiap manusia adalah sama martabatnya di hadapan Allah. Agama Hindu Budha yang sebelumnya menguasai kepercayaan masyarakat lalu ditinggalkan, namun unsur-unsur kebudayaannya sejauh masih sesuai dengan nilai-nilai kepercayaan yang baru tetap dilestarikan dan dikembangkan.

Kitab kesusastraan Islam yang asalnya dari Arab kemudian menyebar ke kepulauan Nusantara melalui Persia ikut terbawa oleh para pedagang Muslim dan disebarluaskan di daerah-daerah yang dikunjunginya. Di antara kesusastraan Islam yang tersebar itu ada yang berupa cerita kepahlawanan dan tergolong jenis sastra wiracarita.

Dalam khasanah sastra Melayu wiracarita dikenal dengan istilah 'hikayat',. memuat kisah perjuangan tokoh penyebar agama Islam dilengkapi dengan kisah-kisah percintaan yang menarik. Wiracarita melayu yang digubah bersamaan dengan masa penyebaran agama Islam antara lain adalah Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Iskandar dan Hikayat Yusuf. Bahasa Melayu pada masa itu berperan sebagai linguafranca yaitu bahasa perantara untuk berkomunikasi di kalangan kaum pedagang dari berbagai bangsa yang berniaga di Asia Tenggara. Dengan perantaraan para pedagang yang mengenal bahasa Melayu itulah khasanah sastra Melayu menyebar ke berbagai daerah Nusantara, di antaranya sampai ke Jawa.

Hikayat Amir Hamzah digubah dalam bahasa Jawa menjadi Serat Menak, Hikayat Iskandar Zulkarnain menjadi Serat Iskandar, Hikayat Yusuf menjadi Serat Yusuf. Pada mulanya Serat Yusuf digubah oleh sastrawan dari Giri dan Surabaya dan menyebar luas di daerah Jawa Timur. Sedangkan Serat Menak lebih berkembang di kalangan keraton Jawa Tengah, mulai dari keraton Kartasura kemudian berlanjut di lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta setelah terjadi peristiwa 'palihan negari' yang dikokohkan dengan perjanjian Giyanti tahun 175:.

Karya sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah bersumber dari khasanah sastra Persia bernama "Oissa. i Emir Hamza", digubah dengan berbagai tambahan, khususnya kisah peperangan. Menurut tradisi Melayu membaca hikayat bertujuan untuk membangkitkan keberanian dan semangat juang orang Muslim untuk memerangi lawan-lawannya yang masih kafir.

Persebaran cerita Menak yang berasal dari Hikayat Melayu itu selain ke Jawa juga meluas sampai ke Bali, Lombok, Makasar Bugis dll.

Dikalangan masyarakat di Jawa Tengah khususnya, cerita Menak yang dikenal sejak penyebaran agama Islam di daerah itu menjadi semakin populer berkat adanya Serat Menak hasil karya Ki Yasadipura, seorang pujangga keraton Surakarta pada sekitar tahun 1787. Cerita tersebut semakin meresap di kalangan masyarakat setelah dipentaskan dalam bentuk pergelaran wayang golek Menak jenis wayang ini juga tumbuh dan berkembang di beberapa daerah di luar Surakarta dan memiliki pakem pedalangan sendiri menurut tradisi setempat yang berlaku sampai turun temurun.

Baik karya sastra maupun seni pertunjukan yang dikenal luas oleh masyarakat pendukungnya memiliki fungsi ganda yaitu selain sebagai sarana hiburan berkat nilai-nilai estetis yang terkandung di dalamnya juga sarat dengan pesan-pesan moral yang dapat dijadikan acuan sikap dan tingkah laku dalam tata pergaulan masyarakat.

Serat Menak dan Wayang Golek Menak menggunakan bahasa Jawa sebagai media ungkap sehingga pesan-pesan yang terkandung didalamnya bisa tersampaikan kepada pembaca maupun penontonnya.

Meskipun cerita Menak berasal dari budaya Arab namun setelah digarap baru dalam bahasa Jawa dan disesuaikan dengan sistem budaya Jawa maka cerita tersebut terasa akrap bagi orang Jawa dan dirasakan sebagai produk budayanya sendiri. Tokoh-tokoh cerita menak yang ditampilkan serasa berada dalam alam pikiran, pandangan hidup dan norma-norma kehidupan orang Jawa. Setiap bagian cerita yang dipaparkan menjadi bahan renungan bagi pembaca dan penontonnya untuk bisa menyerap kandungan nilai-nilai kehidupan yang bermanfaat sebagai upaya pembentukan dan pengembangan pribadi dirinya masing-masing.

Bagi sastrawan atau dalang dalam berkarya pastilah mengacu pada sistem budayanya sendiri. Dalam hal cerita Menak yang bersumber dari budaya Arab atau Persia bila dalam proses penggarapannya dijumpai hal-hal yang bertentangan dengan sistem budayanya sendiri maka akan timbul upaya untuk merombak dan mengolah cerita itu sampai bisa terwujud karya baru yang sesuai dengan pola dan kepribadian budayanya.

Dalam makalah ini akan dicoba untuk memberikan gambaran sekilas tentang nilai-nilai budaya Jawa yang mewarnai terciptanya serat menak dan Wayang Golek Menak. Kedua karya seni itu akan ditelaah untuk mengetahui bahwa karya-karya tersebut bukan sekedar hasil terjemahan atau penyerapan mentah-mentah dari sumber aslinya, tetapi memiliki dasar filosofis Jawa yang cukup kuat sehingga mampu mengungkapkan kepribadian dan jatidiri budaya Jawa.

Sebagai bahan perbandingan dapat dikemukakan cerita wayang purwa yang meskipun sumbernya dari kesusastraan India yaitu Mahabarata dan Ramayana, namun setelah menjadi cerita wayang banyak sekali perbedaannya serta penyimpangannya dari sumber aslinya. Bahkan sedemikian akrapnya hubungan batin masyarakat dengan wayang sampai penampilan tokoh-tokoh wayangnya dan tempat peristiwanya semua dianggap terjadi di Jawa.

Serat Menak hanyalah salah satu di antara ribuan karya sastra lainnya. Dalam kajian ini pendekatan intertekstual sangat diperlukan, karena sebagai produk budaya Jawa pastilah antar karya sastra itu terjadi pengaruh timbal balik. Kaidah-kaidah yang berlaku dalam karya yang terdahulu sering diberlakukan pada karya-karya sastra yang kemudian.

Demikian pula Wayang Golek Menak juga merupakan salah satu di antara bentuk seni pertunjukan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Jawa. Untuk memahami pola-pola penggubahan cerita Menak dalam pergelaran wayang juga diperlukan studi banding dengan seni pertunjukan wayang purwa misalnya.

Studi banding antara bergabai jenis pertunjukan wayang dapat membantu pemahaman tentang seluk beluk pergelaran sesuai dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dalam lingkungan budaya Jawa.

Telaah Nilai Budaya dalam Serat Menak

Serat Menak karya ki Yasadipura terbagi dalam beberapa puluh episode dan jauh lebih bervareasi isinya dibandingkan dengan Hikayat amir Hamzah sebagai sumber penciptaannya. Kiranya sang pujangga tidak puas dengan keterbatasan bahan sumbernya sehingga berupaya untuk menggubah karyanya secara maksimal.

Bagi seorang pujangga berkarya tak ubahnya sebagai ulah yoga samadi. Dalam tata lahirnya menciptakan karya sastra, namun secara batiniah berkarya seni merupakan sikap dan tindakan untuk mendekatkan jiwanya dengan Sang Maha Pencipta. Dengan Penuh kesadaran sang pujangga ingin mencapai tujuan berkarya agar pesan-pesan yang tertuang dalam karyanya bisa diserap oleh para pembaca dan dapat mengembangkan kepribadiannya serta meningkatkan harkat dan martabatnya sebagai umat Yang Maha Kuasa.

Ki Yasadipura banyak menggubah cerita wayang dengan kisah peperangan, antara lain perang antara Pandawa dan Kurawa yang terkenal dengan sebutan perang Baratayuda. Juga banyak kisah perjuangan para satria yang berhasil menaklukkan kerajaan lain dan kemudian dijadikan jajahannya. Sedangkan dalam cerita Menak terkandung nilai ajaran bahwa peperangan antara Amir Hamzah dengan raja-raja lain bukan bertujuan untuk menjajah tetapi untuk meng-Islamkan lawan-lawannya dengan sikap penuh rasa persaudaraan.

Tebalnya Serat Menak yang digubah juga karena sang sastrawan ingin menciptakan karya sastranya yang berasal dari cerita Arap itu dalam situasi kejawaan dengan cara menyesuaikan alur ceritanya dengan cerita Panji. Cerita Panji adalah asli hasil budaya Jawa yang sangat diakrabi oleh masyarakat pemiliknya. Meresapnya cerita wayang purwa di hati masyarakat ialah juga cerita wayang digarap seperti kisah dalam cerita Panji.

Berkat kepekaan rasa serta tingginya daya kreativitas sang pujangga cerita Menak yang aslinya dari budaya Islam-Arab setelah menjadi Serat Menak lalu berubah menjadi karya Islam-Jawa. Namun tokoh Amir Hamzah di-Jawakan menjadi Amir Ambyah. Hubungan antar tokoh dalam Serat Menak tampak jelas dari tingkat tutur bahasa Jawa yang digunakan. Pemakaian bentuk bahasa krama dan ngoko dalam Serat Menak pada bagian dialog tokoh-tokohnya disesuaikan dengan kesopanan dan tatakrama yang berlaku dalam lingkungan masyarakat Jawa.

Sebutan "menak" yang berarti bangsawan banyak dijumpai di daerah Jawa Timur, antara lain di Blambangan dan Lumajang. Dalam bahasa Sunda kata "menak" juga berarti bangsawan. Dalam cerita Damarwulan dikenal nama-nama Menak Jingga, Menak Koncar dll. Pemilihan golongan bangsawan dan rakyat jelata itu sesuai dengan stratifikasi sosial masyarakat yang mengenal pandangan hidup kosmis klasifikatoris. Namun demikian kedua pihak terjalin hubungan yang saling membutuhkan dan keduanya menjadi bagian dari alam semesta untuk menjamin keseimbangan kosmos.

Dalam pewayangan dikenal panakawan, yaitu tokoh abdi yang selain pengiring setia tuannya juga sekaligus menjadi penghibur dan penasehat agar tuannya senantiasa menempuh jalan hidup yang benar. Pada wayang purwa dikenal tokoh Semar, Gareng, Petruk, Bagong. Pada wayang gedog ada tokoh panakawan Sabdapalon dan adalah Umarmaya dan Umarmadi. Kedua tokoh itu senantiasa mendampingi Amir Ambyah dalam segala langkah perjuangan.

Dalam konsep budaya Jawa panakawan selalu diwujudkan serba cacat tubuhnya namun memiliki jiwa yang mulia, sesuai dengan fungsinya sebagai penasehat tuannya. Panakawan menjadi penghibur di kala tuannya sedang menanggung kesedian yang mendalam. Pembagian antara komedi dan tragedi dalam cerita atau lakon tidak dikenal dalam budaya Jawa. Peranan panakawan adalah menghibur tuannya yang sedang terbenam dalam kepedihan hati yang mendalam dan pada saat itu juga diimbangi dengan lawakan atau banyolan. Ada pesan yang tersirat dalam cerita yaitu bahwa manusia harus selalu dapat menjaga keseimbangan jiwanya, jangan sampai hancur karena beratnya penderitaan batin dan harus diimbangi dengan rasa senang, sesuai dengan ungkapan Jawa "bungah sajroning susah, susah sajroning bungah" yang maknanya' suka di dalam duka dan duka didalam suka. Dengan ungkapan tersebut manusia disadarkan bahwa hidup ini, baik suka ataupun duka hendaknya senantiasa bersikap pasrah kepada Yang Maha Kuasa. Jadi konsep panakawan dalam budaya Jawa itulah memberikan tempat bagi tampilnya kedua tokoh pengiring setia Wong Agung Menak Jayengrana sesuai dengan pola budaya Jawa.

Telaah Nilai Budaya dalam Wayang Golek Menak

Menurut tradisi Jawa yang tersebut dalam Serat Sastramiruda karya K.G. Kusumadilaga Surakarta, wayang golek diciptakan oleh Sunan Kudus pada tahun 1506. Pada masa itu memang di Jawa agama Islam sedang berkembang dengan pesatnya, dan wayang golek dimanfaatkan sebagai sarana untuk penyiaran agama Islam pada jaman akhir kekuasaan kerajaan Majapahit.

Wayang golek semakin terpacu perkembangannya setelah mulai menampilkan lakon berdasarkan cerita Menak, terutama yang bersumber dari Serat Menak karya Ki Yasadipura. Di Lombok cerita Menak dipergelarkan dengan menggunakan boneka wayang kulit dan dikenal dengan sebutan wayang Sasak.

Dari pesisir utara Jawa Tengah wayang golek Menak menyebar ke daerah Banyumas melalui Tegal sampai ke Kebumen sedangkan yang melalui Losari menyebar sampai ke Cirebon dan berkembang menjadi jenis wayang yang disebut wayang Cepak.

Di Kebumen wayang golek Menak bisa berkembang baik, berdampingan dengan wayang kulit purwa dan mencapai masa kejayaannya berkat ketangguhan seorang dalang yaitu Ki Sindu Harjataryana. (ayah Ki Sunarto Sindu). Ketenaran namanya sampai keluar daerah Kebumen, bahkan beberapa dalang dari Yogya berguru kepadanya.

Dalam pergelaran wayang golek Menak tokoh Amir Ambyah digambarkan sebagai seorang satria yang tampak dan berpenampilan halus, seperti Arjuna dalam wayang purwa., tokoh Panji Inu Kertapati dalam wayang gedog dan seperti tokoh Damarwulan dalam wayang klitik. Kesamaan ujud lahiriah dan karakter tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bahwa dalam budaya Jawa ada prototipe satria yang merupakan 'culture hero'atau pahlawan budaya bangsa. Peranan tokoh itu sebagai pembawa pengembangan kebudayaan bagi masyarakatnya. Ia memiliki kesaktian yang luar biasa dan mengungguli lawan-lawannya. Ia menjadi lambang kesuburan dengan penampilannya sebagai penakluk cinta terhadap para wanita yang dijumpainya.

Lakon wayang Golek penuh dengan kisah perang dan cinta tokoh Amir Ambyah seperti tokoh Arjuna, Panji, Damarwulan dll.

Budaya Jawa mengenal pandangan kosmis-dualistis. Dalam kehidupan kosmos selalu ada dua hal yang saling berlawanan, misalnya antara baik-buruk, gelap-terang, pria-wanita, kasar-halus, dsb. Keduanya dibutuhkan keberadaannya dalam keseimbangan dan saling melengkapi. Bila hilang salah satu maka alam semesta akan kehilangan keseimbangan dan mengakibatkan kekacauan. Apabila sampai terjadi ketidak-seimbangan maka upaya yang harus ditempuh adalah mengembalikan keseimbangan yang hilang tadi.

Dalam kitab Korawasrama Jawa Kuna bagian akhir dituturkan bahwa setelah Kaurawa habis binasa dan tinggal Pandawa yang masih hidup, sang pujangga mempertanyakan apakah hakekat kebaikan jika tidak ada keburukan. Apakah artinya terang jika tidak ada gelap. Oleh karena itu sang pujangga yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan alam semesta dalam menggubah kisahnya lalu menampilkan para Kaurawa hidup kembali. Keseimbangan alam semesta dapat dikembalikan seperti semula.

Di kalangan masyarakat Jawa terdapat tradisi bahwa jarang ada kuluarga yang berani menanggap wayang dengan lakon Baratayuda, karena takut berakibat malapetaka yang bisa menimpa keluarganya. Setiap perubahan yang mengganggu keseimbangan kosmos harus diseimbangkan kembali. Dalam adat istiadat Jawa setiap pergantian daur hidup seseorang perlu diperingati dengan upacara dan selamatan untuk menangkal pengaruh buruk pada saat terjadi perubahan dalam hidupnya.

Dalam tradisi Jawa yang mengenal seni pertunjukan wayang golek Menak juga dikenal beberapa lakon yang dianggap sakral dan gawat, sehingga lakon-lakon tersebut jarang dipilih oleh pihak keluarga yang menanggap wayang. Lakon-lakon gawat tersebut antara lain lakon Perang Lahad yang mengisahkan gugurnya Wong Agung Menak Jayengrara; lakon Umarmaya Ngemis; lakon Jobin Balik yang mengisahkan gugurnya puteri Muninggar istri Amir Ambyah; lakon bedhahe Jaminnambar yang mengandung kisah lahirnya Nabi Muhammad. Lakon-lakon tersebut biasanya hanya dipentaskan dalam rangka ulang tahun lembaga atau instansi yang menanggapnya.

Upaya Pengembangan Wayang Golek Menak

Cerita Menak masih cukup dikenal oleh masyarakat di beberapa daerah tertentu. Serat Menak karya Ki Yasadipura sudah dialihaksarakan dan diterbitkan oleh Balai Pustaka sehingga bagi yang berminat masih bisa membacanya. Cerita Menak juga sering dimuat di majalah-majalah atau media cetak lainnya yang menandakan bahwa minat masyarakat terhadap cerita tersebut masih cukup besar. Namun jika dibandingkan dengan cerita wayang purwa jelas masih jauh tertinggal.

Demikian pula pergelaran wayang golek Menak semakin terasa langka dan tersisih oleh kegemaran masyarakat terhadap pergelaran wayang kulit purwa.

Untuk mengangkat wayang golek Menak agar bisa menjadi tontonan yang mempesona perlu ada kajian khusus, terutama mengenai daya pesona apa saja yang dimiliki oleh wayang golek Menak.

Banyak celah-celah yang bisa diupayakan agar wayang golek Menak bisa mempesona penontonnya yaitu dengan membandingkan dengan jenis pertunjukan wayang lainnya. Upaya yang paling menonjol dan menjadi ciri khas wayang golek Menak adalah unsur ke-Islamannya. Hal ini merupakan peluang bagi para dalang wayang golek Menak untuk mengakrabkan pergelaran wayang dengan khalayak penontonnya. Amir Ambyah sebagai tokoh pejuang penyebaran agama Islam setelah berhasil menaklukkan kerajaan yang masih kafir tidak dijadikan tanah jajahannya melainkan tetap dilepaskan sebagai kerajaan yang merdeka setelah bersedia menajadi penganut agama Islam. Amir Ambyah lalu dikenal sebagai tokoh yang arif bijaksana, dan bukan sebagai penakluk untuk tujuan penjajahan.

Nilai-nilai ke-Islaman yang sarat dengan kearifan itu merupakan bahan yang sangat bagus untuk digarap lebih lanjut dalam pergelaran wayang Menak secara kreatif. Dialog antar tokoh bisa disisipi dengan ayat-ayat dari kitab suci al-Qur'an sehingga fungsi pergelaran wayang Menak itu benar-benar menjadi sarana da'wah ke-Islaman. Jika pada dewasa ini masyarakat sering terpesona dengan ceramah-ceramah keagamaan para da'i, para ulama dan ustadz yang mengutamakan pendidikan ahlak dalam kehidupan bermasyarakat, fungsi da'wah tersebut bisa diemban oleh para dalang wayang golek Menak. Tentunya dengan seni pedalangan sebagai unsur seni yang memikat, da'wah yang dikemas dalam pergelaran wayang golek Menak diharapkan akan jauh lebih efektif dan bisa mengasyikkan para penontonnya. Tehnik berda'wah seperti yang dikuasai oleh para da'i kondang perlu dipelajari oleh dalang wayang golek Menak dengan seksama dan dikembangkan dalam garapan pakelirannya.

Nilai-nilai filosofis Islam bisa dikemas dalam garapan cerita wayang Menak yang komnukatif dengan penontonnya. Dalam hal ini para dalang perlu mempersiapkan diri agar kemampuan berda'wah itu benar-benar memadai dan disesuaikan dengan kaidah-kaidah seni pedalangan wayang golek Menak. Da'wah yang disampaikan dengan demikian tidak dirasakan oleh para penonton sebagai tempelan lepas, tetapi menyatu padu dalam pergelarannya.

Para dalang terutama dari generasi muda diharapkan rajin mempelajari nilai-nilai ke-Islaman yang terkandung dalam berbagai sumber. Kepustakaan Islam dewasa ini melimpah ruah jumlahnya di toko-toko buku dan di perpustakaan yang bisa dijadikan sumber pengetahuan ke-Islaman bagi para dalang.

Pembenahan terhadap penampilan wayang golek Menak terlalu sederhana jika dibandingkan dengan pergelaran wayang kulit purwa.Semua perlengkapan dan peralatan pakeliran, termasuk wayangnya, gamelannya dan sarana pendukung lainnya perlu mendapat perhatian dan selalu dicari upaya untuk meningkatkannya

Lokakarya seni pedalangan wayang golek Menak perlu sering diselenggarakan agar bisa memacu para dalang muda untuk meningkatkan kemahirannya mendalang. Dengan cara demikian pergelaran wayang golek Menak akan selalu mengalami pembaharuan dan tidak terkesan setatis dan beku. Tanpa kreatifitas seni wayang golek Menak akan mengalami kemunduran dan akhirnya bisa terancam bahaya kepunahan.

You are here Kepustakaan Makalah Kandungan Nilai filosofis Dalam Serat menak dan Wayang Golek Mena