"Adiluhung"

E-mail Print PDF

 

Oleh: Ir Haryono Haryoguritno

Hasil Sarasehan Dalang Indonesia Dan Temu Wartawan

Tanggal, 1 Februari 1997

 

Ancang-ancang

Seni wayang sebagai salah satu hasil budaya Indonesia telah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan hingga kini telah sangat dikenal dan digemari oleh dunia internasional. Seni wayang yang tidak hanya memikat karena wujud seni cerita dan pertokohannya, seni permainan boneka dan pentasnya, seni sastra, filsafat dan pesan-pesannya juga seni suara dalang maupun karawitannya. Pendek kata: berbagai disiplin ilmu seni semua terpadu disitu, menghasilkan sebuah pergelaran yang demikian indah, nikmat dan kadang-kadang menghayutkan; sehingga sering kali disebut sebagai seni yang adiluhung.

Pada awalnya pentas wayang diadakan sebagai upacara ritual dalam pemujaan terhadap roh para nenek moyang dengan membawakan cerita kisah-kisah heroik nenek moyang tersebut (bukan serial Ramayana maupun Mahabarata). Kini sesudah sekian ratusan tahun pula dunia pewayangan ini identik dengan dunia Ramayana dan Mahabarata dalam perjalanannya memasuki abad ke 21 ini seni pertunjukan wayang telah banyak sekali mengalami perubahan. Wayang menjadi media hiburan (tontonan), informasi dan pendidikan. Disini yang lain wayang terbukti telah mengalami berbagai fase penyempurnaan yang menyeluruh dalam semua aspek seninya (wujud seni rupa, ungkapan sastra, filosofi, seni musik, teknik permainan, tata panggung, dan lain sebagainya).

 

Untuk keperluan-keperluan tertentu, durasi waktu pementasanya kadang-kadang dipersingkat (pakeliran padat), struktur ceritanyapun dirobah dan disesuaikan dengan kebutuhan. Selain itu, sejak puluhan tahun terakhir ini muncullah berbagai kreasi kontemporer baik yang konstruktif maupun yang lebih bersifat penyimpangan. Sebuah contoh penyimpangan yang terjadi misalnya dengan adanya pertunjukan wayang kulit yang "diperkosa" dengan selingan tampilnya seorang penyanyi dang-dut. Ironis lagi , hal ini justru mulai menjamur di daerah Jawa Tengah bagian timur, daerah yang banyak dipercayai orang sebagai pusat kebudayaan Jawa.

 

Demikianlah kenyataan. Dari sebuah "embrio" pentas yang sederhana dan sakral, pegelaran wayang terus-menerus disempurnakan selama berabad-abad hingga menyandang predikat adiluhung. Sesudah sampai tataran ini, seni wayang masih terus dicoba untuk digarap. Dan hasilnya sekarang ini, dalam fungsinya yang dominan sebagai hiburan, dari pentas wayang dapat diberikan beberapa macam penilaian, antara lain sebagai hiburan berdimensi ganda yang bermanfaat dan mendidik, atau malah sebagai hiburan yang murahan, keliru dan menyesatkan, Karena itu, belum tentu bahwa setiap pertunjukan wayang (secara klasik tradisional sekalipun) dapat menjadi sebuah pagelaran seni yang adiluhung.

Selain harus berbobot sebagai tontonan yang indah, nikmat dan mengasikkan, pentas wayang seyogyanya juga harus mampu menjadi tuntunan masyarakat penontonnya dalam hal etika, moral dan semangat-semangat luhur lainnya. Ia diharapkan menjadi penuntun mengenai; lampah utami, yaitu:

Kesadaran hakiki mengenai hidup seseorang secara individual;

Kesadaran cara berfikir dan tingkah lakunya sebagai anggota keluarga, masyarakat, negara dan dunia internasional.

Kesadaran cara berfikir dan tingkah lakunya sebagai makhluk hidup dalam hubungannya dengan Sang Pencipta.

Jika kedua bobot (tontonan dan tuntunan) tersebut dapat ditampilkan, pertunjukan wayang tersebut semakin banyak memberikan harapan untuk menjadi sebuah pagelaran seni yang secara relatif bisa dianggap adiluhung. Sedangkan adiluhung yang sebenarnya dalam hal ini masih memerlukan penelusuran dan perenungan lebih lanjut.

Konsep Keadiluhungan

Seorang pakar kebudayaan Jawa yang mengajar di salah satu Universitas terkenal di A.S. dalam ceramahnya di Lembaga Java nologi Jakarta beberapa tahun yang lalu mengisyaratkan, bahwa keadiluhungan itu dapat disamakan dengan pengertian klassik. Jadi, menurut beliau, kriteria ke 'adiluhungan' ternyata tidak terlalu berat. Hal ini tidak salah, namun banyak diantara kita yang mungkin merasa kurang puas, karena ternyata tidak semua karya-karya klassik dapat melahirkan nilai-nilai yang adiluhung.

Secara umum dapat dikatakan, bahwa di dalam keadiluhungan tercipta sesuatu yang berpengaruh pada perasaan batin manusia hingga terasalah kekecilan/keterbatasan dirinya. Kesadarannya bagai merasuk ke dalam dunia keadiluhungan yang menerpa dan menyerapi rohaninya.

Hal seperti ini antara lain muncul dalam sebuah karya sastra Jawa berupa tembang Dhandhanggula sebagai berikut:

Dhedhep tidhem prabawaning ratri

Sasadara wus manjer kawuryan

tan kuciwa memanise

Menggep Sri Nateng Dalu

Siniwaka sanggyaning dasih

aglar neng cakrawala

winulat ngelangut

prandene paksa kebekan

saking kehing teranggana kang sumiwi

warata tanpa sela

(Sekar Salisir Mareng Tengareng Ki Iramenggala)

Sesuatu yang dapat menciptakan perasaan batin manusia menjadi kecil/terbatas tentunya hal-hal yang berindikasi besar, luas, tinggi, dalam, unik, agung, halus, tenang, damai, simbolis, filosofis, dan lain-lainnya. Sifat-sifat tersebut baru dapat dipenuhi (setidak-tidaknya sampai saat ini) oleh karya-karya klasik. Contoh-contoh yang barangkali hampir mendekati tataran adiluhung adalah seni pentas orkes simponi, opera dan ballet dari Eropa (Inggris, Perancis, Rusia, Italia), dimana sikap, pakaian dan tingkat budaya para penontonnya pun dituntut untuk memenuhi norma-norma yang bernilai dan berselera tinggi (etis, estetis). Karena itu dapat dikatakan bahwa seni yang adiluhung harus memenuhi syarat klasik walaupun belum tentu semua seni klasik bernilai adiluhung. Hal ini analog dengan contoh, bahwa minyak/olie adalah pasti zat cair, tetapi tidak semua zat cair dapat disebut minyak/olie. Dari karya-karya klasik masih diperlukan tambahan bobot lagi untuk mendapat nilai keadiluhungan. Pendek kata, keadiluhungan adalah klasik plus.

Tambahan bobot yang diperlukan adalah, bahwa selain berada pada tingkat tertinggi/terendah (superlative), sebuah karya klasik juga harus menyandang sifat berwibawa (dignified) dan menimbulkan greget (penasaran) dalam arti yang positif. Di Bali greget ini disebut taksu, yang kira-kira sama dengan pengertian ndudut ati (Surakarta) ngayang batin (Yogyakarta) atau sesuatu yang menciptakan perasaan merinding (bukan karena rasa takut, tetapi emosi yang positif). Greget dapat dicapai dengan memenuhi syarat estetika, etika, dimensi (matra/ukuran/volume) dan konsep rohanian/spiritual (sakral).

Pada benda-benda fisik/visual, keadiluhungan tidak hanya terpancar karena obyek tersebut bersifat edi-peni dapat diumpamakan sebagai 2 dimensi, maka adiluhung kira-kira merupakan bentuk 3 demensinya. Edi peni merupakan sifat dari sebagian besar karya seni rupa yang tergolong mahakarya (master piece) atau maha adi-karya (super master piece). Contoh sebuah mahakarya adalah lukisan Alas Kobar (Raden Saleh), maka adi-karyanya adalah lukisan Monalisa (Leonardo da Vinci).

Sebuah karya seni dapat mencapai prestasi ke-maha karyaan karena:

a. manusia pelaku (seniman) nya dalam hal: bakat, motivasi dan kondisi mentalnya yang menguntungkan.

b. suasana yang mendukung

- suasana lingkungan sekitar, keluarga, negara, dll

- suasana/iklim yang diciptakan oleh dunia kesenimanannya (apresiasi, kritik, masukan-masukan dari sponsor/dinamisatornya, dll).

c. bahan-bahan pembuatannya: baik kualitas maupun kuantitasnya

d. unsur keberuntungan.

Sudah terpenuhinya syarat tersebut diatas, sebuah mahakarya atau maha adi-karya sekalipun, masih harus diukur: apakah dia memiliki kedalaman/dimensi, apakah ada muatan-muatan religi, spiritualisme, moralitas/tata-nilai, edukasi, dan lain sebagainya, atau tidak? jadi, hanya karya-karya yang meng'angkut' muatan seperti itulah yang berpeluang menyandang predikat adiluhung.

Al-Quran Mushaf Istiqlal yang diluncurkan secara perdana pada tanggal 23 September 1995 yang lalu oleh Presiden Soeharto di Mesjid Istiqlal Jakarta, merupakan tolak ukur nyata tentang sebuah seni yang adiluhung yang lahir di akhir abad 20 ini. Kecuali memang karena Al-quran sendiri merupakan Kalam Illahi yang suci, religius, spiritual, edukatif, universal, eternal, dan lain sebagainya, pengerjaannyapun dibarengi dengan motifasi yang luhur, dedikasi yang tinggi, akurasi yang prima, bahan-bahan yang pilihan, biaya yang mahal serta waktu yang relatif lama.

Adiluhung, dalam bahasa Inggris kurang lebih bermakna seperti kata regal, majestic, grand, atau royal; yang di dalam bahasa Jawa hampir sama dengan arti kata mrabu (dari kata prabu).

Maksudnya berkesan sperti Prabu ( 9 Raja ) atau nampak seperti adat kebiasaan/kebudayaan para Raja atau bangsawan yang agung, indah, besar, anggun, mahal, dan lain sebagainya. Adapun perbedaannya ialah bahwa kata mrabu hanya tepat dipakai untuk mensifatkan benda-benda fisik-visual, sedangkan kata adi-luhung dapat maupun karya-karya yang non fisik/visual seperti: musik/karawitan, sastra, dan lain sebagainya.

Adiluhung berasal dari kata adi dan luhung. Adi berarti: yang sangat (berharga, indah dll/Ngadi-adi berarti: terlalu menghargai diri sendiri. Luhung mencakup pengertian luhur dan agung. Adiluhung berarti sifat yang: berharga, indah, luhur, dan agung.

Sebuah karya seni dapat mencapai tataran adiluhung bila dikerjakan dengan sofistikasi mutlak dimana tidak lagi diperhitungkan masalah biaya, waktu tenaga maupun faktor-faktor penunjang lainnya. Sebaliknya sebuah karya yang economikal oriented sudah barang tentu akan sulit mencapai tataran adiluhung. Dengan kata lain, pada karya-karya yang adiluhung memang relatif terjadi pemborosan demi tercapainya tingkat tertinggi dalam estetika, etika dan aspek spiritualnya. Sebagai contoh misalnya: Masdjidil haram di Mekkah, statue of liberty di New Yogk, kathedral Notre Dame di Paris, candi Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah, dan lain-lainnya. Semua itu adalah keadiluhungan hasil karya manusia, sedangkan keadiluhungan alam cipta Tuhan dapat kita saksikan antara lain: Grand Canyon di Amerika Serikat, Lembah Guilin di China, Taman laut di Indonesia Timur dan lain-lainnya.

Berbeda dengan takdir pada alam semesta, untuk menuju ke tingkat keadiluhungan, karya manusia perlu memenuhi berbagai kriteria tertentu menurut jenis karya masing-masing.

Misalnya sebagai berikut:

a. Seni Bangunan/Arsitektur:

kriterianya : tinggi, besar, luas, kuat, megah, klasik, indah, unik, spektakuler, historis, mistis, wingid (Jawa), dan lain-lain.

b. Seni pentas/Panggung:

Kriterianya : cerita klassik/legendaris, panggung yang megah, kolosal, mewah, banyak aktornya, syarat-syarat tertentu bagi penontonnya, dan lain-lainnya.

c. Seni Maubelair/Perabot Rumah-tangga:

Kriterianya: klasik /antik, unik, rumit, mahal bahan-bahannya, harmonis dengan lingkungannya dan syukur memiliki sejarah.

d. Seni sastra; Filsafat dan lain-lainnya

Kriterianya: indah, klasik, hakiki, ndakik-ndakik (unik & panjang-lebar), sugestif, edukatif, mistis mengasikkan, dan lain-lainnya.

e. Seni Rupa

Kriterianya; indah, anggun, klasik, unik, sugestif, terkesan mahal, orang yang menatap merasa kecil, dll.

f. Seni Musik, Gamelan/Karawitan, dan lain sebagainya

Kriterianya: kolosal, indah, merdu/melodius, sugestif, klassik, dan lain-lainnya.

g. Seni Suara

Kriterianya: khas, merdu, sugestif, klassik, dll.

h. Seni Tari

Kriterianya: klassik, indah, kompak, sugestif, luwes, tampan, cantik, dan lain-lainnya.

Kecuali perlu dibentuk oleh kriteria-kriteria tersebut diatas, seni yang adiluhung juga mempunyai kandungan konsep-konsep kerohanian, simbolisme, spiritualisme, dan lain sebagainya.

Hal ini jarang ditemukan pada seni rakyat seperti lenong, jaipongan, kethoprak, jathilan, reyog, ludruk, dan lain-lainnya.

Karena itu seni-seni tersebut tidak dapat diharapkan untuk mencapai tataran adiluhung.

Sebaliknya, walaupun ada seni-seni rakyat yang secara langsung mengungkapkan aspek kerohanian (misalnya: shalawat, rodatan, qubra, dal lain sebagainya), namun karena kriteria seninya (musik, sastra, rupa dll) kurang dipenuhi maka seni kerohanian sebagai seni yang adiluhung.

Dan didalam pentas wayang kulit purwa yang pernah saya saksikan, keadiluhungan yang muncul barulah bersifat sepotong-sepotong, misalnya pada:

a. Ginem dalam patet 6 . . . (Ki Nartosabdo alm)

b. Janturan pertapaan + patet 9 Ngelik . . . (Ki Anom Soeroto)

c. Sabetan . . . (Ki Manteb Soedharsono)

d. Bobot klassik . . . (Ki Poedjosoemarto alm)

e. Mutu & Ukuran Gawang-Kelir . . . (milik DR. Soedjarwo)

f. Gamelan Kyai Kanyut Mesem . . . (istana mangkunegaran)

g. Waranggana . . . . (Ibu Tjondroloekito)

h. Tempat . . . . (pendhapa mangkunegaran - Surakarta)

i. Suasana / sikap penonton yang sopan, tertib, dan khidmat (di istana negara, th 1960-an)

j. dll.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, budaya seni pertunjukan wayang melibatkan berbagai unsur seni yang amat terkait (arsitektur, pentas, meubelair, senjata, sastra, filsafat, musik, adiluhung yang diharapkan muncull dari sebuah seni pertunjukan wayang ini menjadi sesuatu yang multi disipliner, sesuatu yang memerlukan usaha yang lebih besar tantangannya dari pada karya-karya seni lainnya.

Sebagai perbandingan dalam dunia seni perkerisan jawa dikenal beberapa tingkat mutu keris (dhuwung), mulai dari keris yang paling baik sampai keris mainan.

Gradasi itu kira-kira sebagai berikut:

a. Dhuwung mahanani : keris yang menciptakan suasana/sugestif, ini yang disebut keris yang adiluhung.

b. Dhuwung prayogi : keris yang sangat layak

c. Dhuwung sekeca : keris yang enak disandang

d. Dhuwung menggah/mungguh: keris yang pantas/ serasi

e. Dhuwung sae: keris yang indah

f. Dhuwung jangkep : keris yang utuh

g. Dhuwung saestu : keris yang sesungguhnya

h. Dhuwung-dhuwungan : keris bohongan, palsu, tiruan, mainan, dll

Dengan demikian berarti, bahwa untuk mendapatkan sebuah keris yang adiluhung (mahanani), keris tersebut haruslah meliputi dan melampaui semua tingkat mutu sebelumnya (dhuwung saestu, jangkep, sae, menggah, sekeca, dan prayogi).

Keunikan lain dari sifat keadiluhungan adalah, bahwa sifat tersebut juga akomodatif terhadap berbagai unsur legenda dan mitos. Kedua hal itu kadang-kadang justru memperkental nilai keadiluhungan itu sendiri. Candi Prambanan misalnya, dilegendakan sebagai karya ajaib semalam suntuk dari Raden Bandung Bandawasa sebagai penebus cinta untuk Dewi Rarajonggrang. Kali serayu sebagai fenomena alam, menurut legenda setempat adalah hasil karya Sang Bima (Werkudara). Demikian pula gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat, konon adalah 'bekas perahu' buatan Raden Sangkuryang, seorang tokoh utama dalam legenda rakyat priyangan. Ada pula mitos tentang sungai Gangga (India), mitos selat Gibraltar (Spanyol), legenda Rocky Mountain (Amerika Serikat), dll.

Walaupun demikian, adapula karya-karya manusia yang nilai keadiluhungannya tak diragukan lagi tanpa terkait dengan legenda dan mitos, misalnya The Gret Wall di China. Adapun karya yang bersifat moderat tetapi justru terangkat ketataran adiluhung karena legenda / mitos, misalnya masjid Demak. Dibagian tengah pintu masjid, terdapat sebuah gambar kepala raksasa. Menurut legenda, gambar itu dibuat oleh Ki Ageng Sela sebagai gambar kepala halilintar/petir (bledheg). Sebagaimana diketahui, Ki Ageng sela adalah seorang tokoh dalam legenda rakyat Jawa Tengah yang sangat terkenal kesaktiannya, antara lain karena mampu menangkap halilintar. Demikian pula, salah satu tiang mesjid tersebut kanon dibuat oleh Sunan Kalijaga (1 dari 9 wali) hanya dari serpihan-serpihan kayu (tatal).

Usaha Ke Arah Pencapaian Nilai Adiluhung Dalam Pertunjukan Wayang

Dengan lapang dada, perlu kita akui bahwa nilai adiluhung yang diharapkan dalam pertunjukan wayang sebenarnya belum tercapai. Adiluhung yang sesungguhnya hingga kini masih bersifat ideal atau gagasan semata (dichtung, das sollen). Hal ini dapat kita bandingkan dengan pelaksanaan falsafah Pancasila, walaupun sebagian besar rakyat Indonesia telah hafal di luar kepala, namun apakah hal itu dalam perilaku kehidupannya sehari-hari?

Terjadi kesenjangan antara adiluhung yang dicita-citakan (dichtung, das sollen) dengan anggapan adiluhung yang menjadi kenyataan (wahrheit, das Sein). Salah satu penyebabnya adalah masih minimnya tingkat keterlibatan rohaniah hingga manifestasinya atas gagasan yang berpredikat adiluhung itu (hanya digembar-gemborkan saja), misalnya seperti yang terkandung dalam seni sastra yang berupa semboyan-semboyan, antara lain sebagai berikut:

- Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri Handayani . . . . (Ki Hajar Dewantara)

- Wajib melu handarbeni, kudu wani hangrungkebi, mulat salira hangrasa wani (1.682 C) . . (P. Sambernyawa/Mangkunegara I)

- Sepi ing pamrih, rame ing gawe . . . (anonim-universal Jawa)

- Sugih tanpa bandha, nglurung tanpa bala, menang tanpa hangasorake . . . (R.M. Sosrokartono)

- Sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. (anonim Universal Jawa)

- dan lain sebagainya

Meskipun demikian, banyak pula karya-karya seni dari Indonesia yang telah mampu atau layak disebut adiluhung sepenuhnya, seperti seni arsitektur candi, seni rupa, batik, seni tosan-aji, seni gamelan/karawitan, serta sebagian dari seni pertunjukan wayang. Sebagian unsur seni pertunjukkan wayang yang telah dapat dianggap adiluhung ini adalah seni karawitannya, seni suaranya (sulukan, kombangan), seni sastranya (janturan, pocapan) serta seni rupa wayangnya sendiri.

Unsur seni lainnya yang masih dapat ditingkatkan lagi antara lain adalah seni tata tempat / pentas, seni sanggit/gubahan cerita, pesan-pesan moral/falsafi permainan gerak wayang, tata lampu & tata suara, sikap serta citra dari setiap pendukung pentas citra dari setiap pendukung pentas (dalang, pesinden, niyaga, para penyaji, hidangan/sinoman, maupun para penontonnya).

Didalam Anggaran Dasar dan Rumah Tangganya, Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia ( SENA WANGI ) mencantumkan Tri Karsa sebagai landasan idiil program kerjanya. Trikarsa itu adalah: mengagungkan, melestarikan dan mengem-bangkan budaya pewayangan. Karena itu usaha-usaha untuk mencapai nilai adiluhung yang sebenarnya dapat ditempuh melalui pola Tri Karsa SENA WANGI tersebut.

a. Pengagungan

Pengagungan di sini tidak semata-mata berani mengagungkan total tanpa reserve atas kenyataan rutin yang dilakukan atau terjadi dalam budaya pewayangan.

Pengagungan yang dimaksud adalah: meningkatkan nilai-nilai keagungan yang sudah muncul, menggali dan menumbuhkan nilai keagungan yang masih mungkin serta mengoreksi unsur-unsur negatifnya agar tidak mencemari suasana keagungan yang telah tercapai. Sebagai contoh adalah 2 kasus berikut ini:

1. Visual: secara umum. tata panggung pagelaran wayang kulit purwa. Alangkah idealnya bila keagungan ini dapat ditingkatkan, antara lain dengan menempatkan panggung pada lokasi yang ukuran dan kemegahannya cukup sebanding, misalnya di aula gedung-gedung atau pendhapa yang sesuai, tidak dipaksakan disembarang tempat.

Demikian pula agar ruang penonton diatur sedemikian rupa sehingga tidak muncul kesan yang semrawut selama pertunjukan berlangsung.

Untuk boneka-boneka wayang yang dimainkan, sudah seyogyanya para dalang memakai sosok wayang yang tepat, baik secara morfologis, fisionomis maupun ekspressif.

Marfologis: berarti bila dibandingkan dengan sosok tokoh wayang lainnya. maksudnya sosok wayang yang dikehendaki itu memang benar-benar identitas visual tokoh tersebut. Kebiasaan yang terjadi adalah bahwa para dalang hanya meminjam sosok wayang yang lain (yang memang pupoler) untuk memerankan adegan-adegan tokoh wayang yang dimaksudkan. Sebagai contoh, untuk menggambarkan:

a. tokoh Raja Muda yang Tampan dari negeri seberang: meminjam sosok Dewasrani

b. tokoh Raja Raksasa Muda dari Negeri Sebrang: meminjam sosok Suratrimantra

c. tokoh cucu-cucu Pandawa: meminjam sosok-sosok kesatria muda Pandawa

d. dan lain-lain

hal ini terjadi karena biasanya tokoh-tokoh tersebut muncul dari lakon-lakon gubahan, carangan binangun, sempalan, episode seri mapun paralel, dan lain sebagainya; sehingga persediaan boneka wayangnya tidak ada. Karena itu apabila memang prinsip-prinsip keadiluhungan ingin tetap ditegakkan, setiap tokoh wayang dalam lakon gubahan yang tidak lazimpun harus dibuatkan boneka wayangnya.

Fisionimis-ekspressif: adalah pengertian tentang berbagai gradasi/ nuansa wujud (bentuk dan warna) boneka si tokoh wayang dalam hubungan dengan watak dan kondisi mental yang sedang dialaminya (dalam lakon tersebut).

Disinilah kita mengenal konsep wanda, yaitu konposisi wujud (bentuk dan warna) yang sedemikian rupa, yang mengekspresikan watak maupun kondisi mental yang sedang dialami oleh tokoh wayang yang bersangkutan.

Misalnya: tokoh Arjuna yang dalam keadaan sedih seharusnya menggunakan wanda mangu tokoh Bima yang sedang marah dengan wanda mimis; tokoh Gatotkaca yang dalam keadaan terbang memakai wanda gelap; dan lain sebagainya. Dengan pemakaian tipe wanda yang tepat sebagai salah satu upaya pengagungan pentas wayang, niscaya akan dapat mendukung terciptanya suasana adiluhung yang diharapkan.

2. Semi visual, non visual, audial:

Seorang dalang wajib memelihara nilai keagungan pentasnya, antara lain dengan mengacu kepada acuan serta mengendalikan diri dari hal-hal yang berlebih-lebihan, misalnya:

- adegan perang dan dagelan yang bertele-tele/vulgar.

- goro-goro yang berkepanjangan.

- terlalu melayani pesanan gendhing-gendhing dari penonton yang sok tenar atau kepingin namanya didengar banyak orang.

- nasehan atau wejangan yang klise atau berlarut-larut.

- dan lain sebagainya.

Bila tidak benar-benar diperhatikan, hal-hal tersebut niscaya akan sangat memboroskan waktu, merusak skenario/struktur cerita, yang pada akhirnya akan membuyarkan citra dan proporsi keadiluhungan pentas.

Menurut buku acuan pedalangan "Sastramiruda" seorang dalang seharusnya memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. antawecana: dapat menyuarakan dengan tepat warna/tipe suara masing-masing tokoh.

2. renggep: dapat menyajikan tontonan yang mengasyikkan

3. nges: dapat membangkitkan rasa keterlibatan penonton/dramatisasi.

4. tutung: dapat menyajikan sebuah lakon dengan utuh-lengkap-tuntas.

5. banyol: dapat membuat lelucon

6. sabetan: dapat memainkan boneka wayang dengan baik dan memikat

7. kawiradya: dapat membeda-bedakan janturan masing-masing tempat yang diceritakan.

8. Paramengkawi: dapat menggunakan kata-kata Kawi dengan tepat dan indah

9. Paramasastra: dapat menguasai sastra Jawa

10. Mardibasa: dapat menguasai berbagai tingkat bahasa (ngoko, krama, krama-inggil, bagongan, dll)

11. hawicarita: pandai mendongeng

12. Mardawalagu: pandai menembang, suluk kombangan, gendhing-gendhing, dll.

Sedangkan hal yang perlu dipandang, antara lain adalah:

1. merusak hal yang perlu dipandang, antara lain adalah: semuanya sendiri

2. Subyektif dan pilih kasih terhadap boneka wayang

3. meninggalkan panggung tidak tertib, gelisah dll.

4. menyindir penonton atau orang-orang tertentu

5. melucu secara vulgar atau menyinggung hal-hal yang sensitif

6. mengumbar waktu sehingga kesiangan dan lain sebagainya

Selain hal-hal yang langsung berpengaruh terhadap warna pentas, perlu juga dipelihara suasana keseluruhan panggung maupun sikap dari para pelaku pentasnya. Misalnya dengan tetap mengendalikan ketertiban dan kebersihan ruang niyaga (yang biasanya) sarat dengan alat-alat dan limbah konsumsi seperti: gelas, piring, kulit lemper, puntung dan bungkus rokok, dll).

Begitu pula diharapkan agar niyaga selalu berpakaian seragam, termasuk jenis dan cara menyandang kerisnya (sebaiknya dengan warangka gayaman). Mereka juga harus pandai menjaga sikap dan suasana yang terkendali, tidak terkesan mengantuk atau letih, tidak membuat udara panggung menjadi suram karena kepulan rokok di berbagai sudut, dan lain-lainnya. Para pesinden agar duduk simpuh dengan mriyayeni/mrabu, tidak terkesan menor atau seronok, dan lain sebagainya.

Dalang seharusnya duduk menghadap ke kelir dengan mantap, yakin dan terkesan mandiri, tidak terlalu sering menoleh ke samping atau kebelakang ke arah asisten, niyaga ataupun penontonnya. Ia boleh tampil berbeda pakaian dengan niyaga ataupun penontonnya. Ia boleh tampil berbeda pakaian dengan niyaga-nya tetapi disarankan agar menyandang keris berwarangka ladrang dengan posisi ngogleng (di belakang punggung, miring ke arah lengan kanan atas) untuk versi Surakarta; atau warangka branggah dengan posisi lelesinundukan (di belakang punggung tegak luruh ke arah tengkuk) untuk versi Yogyakarta.

Di luar pentas, upaya pengagunganpun harus selalu di tempuh. Sebagai contoh adalah pemakaian sosok wayang dalam iklan atau logo-logo perusahaan, terdapat beberapa kasus gambar wayang yang keliru sehingga dapat menimbulkan pendapat-pendapat yang tidak diharapkan.

b. Pelestarian

Pelestarian pewayangan berarti melestarikan semua unsur unsur budaya pewayangan yang masih mungkin dan relevan. Khusus untuk seni pertunjukan wayang, hal ini mencangkup segala seluk beluk cara pementasan wayang itu sendiri, maupun jumlah frekuensi pertunjukan wayangnya dalam kalender budaya yang berkesinambungan, baik di dalam maupun di luar negeri. Selain itu, dari sisi kriyawan pengrajin wayangnya, pun harus di upayakan kelangsungan hidupnya maupun pembinaan terhadap karya-karya dan pengetahuannya.

c. Pengembangan

Pengembangan seni pewayangan tidak di maksud untuk merubah semua aspek dan nilai budaya pewayangan demi selera zaman. Yang diharapkan dalam seni pertunjukan wayang adalah pengembangan berbagai hal untuk semakin menuju ke sasaran adiluhung yang sebenarnya. Bukan seni pewayangan yang harus dikorbankan demi penontonnya, tetapi penontonlah yang harus belajar dalam menghayati seni pewayangan. Jika seni adalah sebuah perumusan penghayatannya pun memerlukan sikap disiplin.

Jadi, apabila ternyata sekarang muncul berbagai kreasi pertunjukan wayang purwa yang eksentrik, sensasional dan lain-lain, yang berakibat pada tergusurnya tata nilai keadiluhungan, maka bisa dikatakan bahwa apa yang telah dilakukan itu bukanlah langkah maju, namun sebuah langkah melebar ke samping, ke sisi keisengan yang tanggungjawabnya masih perlu di pertanyakan.

Beberapa Penjelasan Tambahan

Klasik

Devinisi yang ada untuk pengertian klasik bersifat luwes, lentur atau fleksibel; tergantung kepada jenis seninya, maupun asal geografisnya; namun tidak tergantung kepada zaman berlangsungnya budaya seni klasik tersebut. Sebagai contoh adalah sebagai berikut:

Klasik Barat:

- seni patung: zaman Zunani Romawi 2.000 SM - 200 AD

- seni lukis : . . . . abad XI - XIV M

- seni musik: . . . . abad XVI - XVIII M

- seni tari : . . . . . abad XVI -XVIII M

Klasik Timur (Indonesia)

- seni patung : zaman candi Borobudur : abad IX - X M

- seni lukis : wayang beber abad X-XIII M

- seni musik/gamelan: zaman Sultan Agung Haryokusumo abad XVII M

- seni tari: Bedaya Ketawang, zaman Sunan Paku Buwono abad XVIII M

Dengan demikian berarti, bahwa seni klasik adalah pengejawantahan seni masa lalu yang didukung oleh lembaga yang terkuat pada masa itu (istana, dinasti), dan dilakukan dengan motivasi yang tinggi tanpa memperhitungkan segala inputnya (ongkos, tenaga, waktu, bahan, dll)

Seni klasik bersifat abadi (eternal); sedangkan adanya pengembangan atas sesuatu yang sudah bernilai klasik itu kemudian melahirkan aliran neo-klasik (th. 1910-an), dan disusul selanjudnya oleh aliran modern-klasik (th. 1930 an) serta post-modern pada masa kini. Pengertian-pengertian tersebut terutama sekali dikenal dalam dunia seni arsitektur; sedang khusus untuk seni pewayangan sudah barang tentu masih harus dikaji lebih lanjut.

Kaidah-kaidah seni klasik pada umumnya sudah dibakukan, karena itu seni dapat seterusnya disajikan secara abadi.

Tradisional

Seni tradisonal adalah kegiatan yang dilakukan secara klise dan berulang kali sejak zaman dahulu hingga kini, sehingga merupakan ciri khas suatu daerah, lembaga, keluarga (klan) etnik, kelompok religi atau kepercayaan, dan lain sebagainya.

Tradisi sangat erat kaitannya dengan legenda ataupun mitos. Hal ini dapat berlangsung dan berkesinambungan karena didukung oleh semua anggota (suku, ummat, warga, dll) ataupun seluruh lapisan masyarakat.

Seni tradisional pada umumnya sudah menjadi setengah dibakukan. Pembakuan sepenuhnya belum / tidak dapat dilakukan karena terdapat beberapa seni tradisonal yang perlu disajikan dengan mengacu kepada perkembangan zaman (efisiensi, teknologi, logika, dll).

 

Masih Soal: Adiluhung

Demi kristalisasi atau untuk lebih mengenal nilai keadiluhungan, kadang-kadang dilakukan upaya mendampinginya denganlaku spiritual berupa: mesu brata, raksa jati atau pun yoga semedi, maupun berbagai laku lainnya yang bernilai sakral. Dalam hal ini, seniman pelakunya harus menghayati sikap 'sepi ing pamrih'. Kepentingan pribadinya hanyalah untuk 'Yang Di atas Sana' (Tuhan) ataupun 'wakilnya yaitu raja (Kiatnya: nuhoni darma lan bekti). Hal ini erat kaitannya dengan 3 prasyarat untuk mencapai nilai keadiluhungan (sebagaimana yang akan disebutkan pada Bab Penutup makalah ini) yakni: cipta, rasa, dan karsa.

Penjabarannya kurang-lebih sebagai berikut:

- cipta-nya adalah : wening, sepi ing pamrih

- rasa-nya adalah: rasa jati

- karsa-nya adalah: darma dan bakti

Dengan memenuhi 3 prasyarat tersebut, Insya Allah akan dapat diciptakan sesuatu maha karya (master-piece) atau sesuatu yang mendekati tataran adiluhung. Sedang tataran adiluhung yang sejati sebenarnya tidak akan bisa tercapai. Hal utama yang dapat diupayakan yaitu melakukan pendekatan ke arah itu (asymptothis). Dengan kata lain: tan kendhat ing pambudi-daya.

Sejauh itu perlu diwaspadai, bila nilai-nilai sakral terlalu 'kental' atau mendominasi bentuk sajian, maka nilai hiburan (entertain-ment) nya akan cenderung menjadi 'encer' atau hambar. Karena itu, bagi para pelaku pagelaran seni yang mendambakan tataran keadiluhungan, kepadanya dituntut kematangan, kedewasaan, kebijaksanaan dan sudah tentu profesionalisme yang tinggi.

Didalam komposisi yang seimbang antara muatan sakral dan entertainmentnya, sesuatu yang adiluhung pada hakikatnya harusdapat menciptakan dimensi.

- memayu hayuning jalma: meningkatkan kesadaran tentang makna dan martabat hidup manusia.

- memayu hayuning praja: meningkatkan arti kehidupan bermasyarakat dan bernegara

- memayu hayuning bawana: menjadi dan meningkatkan makna tata kehidupan di dunia yang lebih baik.

Yang kesemuanya haruslah mengacu kepada keberadaan dan kekuasaan Sang Pencipta - Tuhan Yang Maha Kuasa.

Dalam pentas pewayangan:

Di dalam seni pagelaran wayang khususnya, nilai keadiluhungan dapat secara samar-samar terbaca dari:

- applause (tepuk-tangan) para penonton sambil mengangguk-anggukan kepala (manthuk-manthuk, karena ing panggalih lahir-batos).

- tendensi dimana penontonnya yang mencari dalang, bukan dalang yang 'mengejar' penonton.

Reaksi-reaksi positif tersebut baru muncul manakala penonton memiliki tingkat/daya 'serap' atau kepekaan yang cukup dalam menikmati pagelaran wayang, dimana disisipkan simbolisme/pesemon/sanepan dalam sebuah lakon. Karenanya, penontonpun perlu meningkatkan kemampuannya untuk dapat menikmati nilai keadiluhung yang telah diupayakan oleh Ki Dalang (liding dongeng).

Contoh Kasus

Sebuah puisi tentang 'Senja Kala', karya Rama DR Ign. Kuntara SJ,'bergaya' neo-klassik -meskipun diciptakan pada zaman klasik-modern.

Lingsir Dalu

Dhandhang Gula

Sewu manis lingsiring Hyang Rawi

Langit imbang kulon paes raras

Jenar murup bang semune

Gumuk suyud sumujud

Sidhep nungku muja semedi

Ingauban kalapa

Kinepung alas gung

Getering cahaya sumirad

Ing ngakasa siniram tis-tising riris

Wayang suruping surya.

 

Rawat-rawat tebih kapiyarsi

Gejoging wong nutu ing padesan

Rerantaman wiramane

Ngruwar ruweting kalbu

Nguntapaken Hyang Rawi lingsir

Peksi cintakala linggar

saking waringing gung

Puser madyaning pasetran

Kleper-kleper sumarah keplasing angin

Lir keli ing sumpena.

 

Raras mukswa sunaring Hyang Rawi

Dhedhep tidhem indering leladan

Titi-tentren kahadane

Tan ana jalma kadulu

Jejer kaki dhiri pribadi

Bareng suruting cahya

Manjing ing asuwung

Sumusub jatining rasa

Kungun-kungun kayungyun ngungun ngranuhi

Ngrerapu asrah jiwa.

 

Penutup

Sebuah artikel di Harian Kompas (13 Agustus 1995) mengatakan al : "Pemerintah lebih merasakan kebudayaan (termasuk wayang tentunya-Pen). Sebagai kata benda atau katakanlah warisan; sedangkan seniman-bukan dalang pada umumnya-merasakannya sebagai kata kerja, sebagai perkara yang harus terus menerus digalikan dan dipelajari".

Jika benar Pemerintah memang lebih menganggap wayang sebagai warisan, adalah karena wayang memang bukan ciptakan masa kini, sekaligus merupakan jati-diri budaya nasional yang berakar ke masa lalu. Seandainya pemerintah dan para pencita budaya tradisional tidak berbuat apa-apa terhadap warisan budaya ini, seni wayang barangkali sudah lama punah. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa diantara sekian jenis wayang yang pernah di ciptakan, hanya wayang kulit purwa-lah yang masih tetap tegar digemari orang.

Usaha-usaha penggalian dan penjelajahan' itu tidak hanya sekarang saja dilakukan. Dahulupun sudah ada: Wayang krucil, wayang klithik, wayang wahyu, wayang Pancasila, dan lain-lainnya. Bagaimanakah nasib wayang-wayang itu sekarang?

Seorang dalang menerima warisan ini sebagai amanat, entah dia seorang seniman atau bukan. Bila kebanyakan seniman budaya wayang memang bukan dalang, barangkali dalam jiwanya memang tidak perlu tumbuh kewajiban menjalankan amanat itu. Mereka dapat berdiri bebas sebagai penonton yang beridialisme, tanpa perlu merasakan reaksi spontan (terutama yang negatip) atas pembaruan yang dilakukan, lain halnya dengan seorang dalang, yang akan mengalami hal itu langsung dari masyarakat penontonnya.

Pengembangan tentunya berindikasi kepada perubahan-perubahan, dengan mengacu kepada kesempurnaan, bukan kepada trend-trend penyimpangan. Jika sekedar ingin melakukan untuk perubahan yang berikutnya? satu hal baru dicobakan untuk kemudian dirubah lagi kalau sudah membosankan (seperti lagu pop atau mode pakaian). Jika demikian, berkesenian wayang itu harus terus menggali, menimbun, menggali lagi lobang yang baru, dan begitu seterusnya? Padahal wayang yang baik, selain bisa bernilai tontonan, juga harus mampu menjadi tuntunan. Jika simbol-simbol dan tata nilainya selalu saja dirubah (supaya dianggap mampu berkreasi), tuntunan macam apa yang dapat dipelajari dari pertunjukan itu.

Dalam persepektif Tri Karsa wayang adalah kata benda dan sekaligus kata kerja. Sebagai kata benda, ia memang warisan yang perlu diagungkan dan dilestarikan : sebagai kata kerja ia perlu dikembangkan kesempurnaannya menuju strata adiluhung yang sebenarnya. Untuk itu selain perlu didukung oleh hal-hal yang telah disinggung-singgung sebelumnya, proses penciptaan nilai adiluhung harus dimodali 3 prasyarat utama. Ke 3 prasyarat tersebut adalah: cipta, rasa dan karsa.

 

You are here Kepustakaan Makalah "Adiluhung"