Nilai-Nilai Budi Pekerti Dalam Wayang

E-mail Print PDF

 

Abstrak

Makalah ini pada dasarnya ingin menekankan pentingnya pendidikan budi pekerti bagi seluruh bangsa Indonesia, dengan wayang sebagai sarana medianya. Dari strategi kebudayaan, wayang sangat penting untuk membangun budi pekerti. Mengambil contoh budi pelaku budi pekerti dari tokoh-tokoh wayang, akan amat terhindar dari pro dan kontra penilaian pribadi yang berakibat tidak baik bagi kerukunan, solidaritas, serta kesatuan dan persatuan Indonesia.

Isi makalah ini adalah : Budi Pekerti Dalam Wayang, Kualitas Manusia, cara mempelajari Budi Pekerti, Manfaat Budi Pekerti, dan Dawuhing Gusti dan Bukan Gusti, serta Sumber Budi Pekerti.

Melalui konggres wayang ini, diharapkan pertumbuhan dan perkembangan wayang semakin nyata dan menghasilkan banyak orang berbudi pekerti luhur.

  1. PENDAHULUAN

Bahwa wayang mengandung ajaran budi pekerti tak bisa dibantah. Namun tak mudah untuk mengetahui ajaran budi pekerti dalam wayang, kecuali harus dipelajari terlebih dahulu. Kesulitan tersebut disebabkan karena ajaran budi pekerti dituangkan dalam sebuah cerita peristiwa ataupun kejadian tertentu. Dengan kata lain didalam cerita atau kejadian sudah terkandung ajaran budipekerti. Misalnya cerita tentang begawan Wisrawa yang mencarikan isteri bagi anaknya yaitu Prabu Danaraja. Sesudah mendapatkan wanita pilihan dan cantik bernama Dewi Sukesi, ia ternyata diperisteri sendiri dan tidak diberikan kepada anaknya.

Persoalan itu timbul ketika begawan Wisrawa berhasil memenangkan sayembara Dewi Sukesi yaitu : Bahwa barang siapa bisa menerangkan tentang ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, dialah yang akan dijadikan suami Dewi Sukesi. Semua raja dari seribu negara tak ada yang berhasil memenangkan sayembara Dewi Sukesi kecuali begawan Wisrawa.

Konflik batin begawan Wisrawa muncul ketika Dewi Sukesi hanya mau diperistri begawan Wisrawa. Sedangkan begawan Wisrawa itu sendiri dihadapkan pada kenyataan bahwa ia sedang berjuang untuk mencarikan istri bagi anaknya yaitu Prabu Danaraja. Pilihan ini sungguh menekan batin begawan Wisrawa, mana yang harus diambil diantara dua pilihan.

  1. Memberi Dewi Sukesi kepada anaknya.

  2. Memenuhi permintaan Dewi Sukesi bahwa hanya sang pemenanglah, yang akan dijadikan suami Dewi Sukesi.

Begawan Wisrawa akhirnya memenuhi permintaan Dewi Sukesi dan itulah pilihan satu-satunya yang tidak bisa ditolak.

Dari cerita ini timbul persoalan budi pekerti yaitu :

  1. Apakah tindakan begawan Wisrawa itu baik?

  2. Bagaimana halnya dengan misi begawan Wisrawa dalam mencarikan istri untuk anaknya Prabu Danaraja?

Kalau dikatakan bahwa begawan Wisrawa dinyatakan baik apakah artinya begawan Wisrawa tidak menceritakan secara terus terang kepada Dewi Sukesi dan lingkungan keluarganya bahwa sesungguhnya memasuki gelanggang sayembara hanya semata-mata sekedar memenuhi permintaan anaknya. Apakah begawan Wisrawa dengan begitu melihat Dewi Sukesi lalu ia keluar nafsunya yang berbunyi :

‘ Dari pada untuk anaknya sendiri lebih baik Dewi Sukesi untuk dirinya sendiri ‘ ataukah

Kerena Dewi Sukesi ia terpaksa memenuhi permintaan Dewi Sukesi yang intinya tidak mau diperistri oleh seorang laki-laki yang tidak berhasil menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Jika pertimbangan terakhir yang dipilih oleh begawan Wisrawa maka begawan Wisrawa sungguh menjadi tokoh yang tragis, yaitu tokoh yang terpaksa memilih tindakan tertentu walaupun tindakan tersebut sesungguhnya bertentangan dengan hati nuraninya.

Cerita tersebut tidak berhenti sampai disini. Masih ada lanjutannya yaitu sesudah begawan Wisrawa berhasil menyunting Dewi Sukesi, sepasang suami istri tersebut dikaruniai secara berturut-turut empat orang anak. Yaitu Rahwana, Kumbakarna, Wibisana dan Sarpakenaka.

Dari sudut pandang budi pekerti episode tersebut di atas sangat menarik untuk dibahas. Pembahasan budi pekerti berfokus pada manusia yang memiliki sifat baik yang sekaligus juga mempunyai sifat tidak baik.

Budi pekerti harus dipahami sebagai laku manusia untuk menjalankan sifat-sifat yang baik. Sifat yang baik hanya dimiliki oleh Tuhan YME. Dalam proyeksi ini, Tuhan hanya memiliki sifat satu yaitu sifat yang baik, sedangkan manusia karena kodratnya mempunyai dua sifat yang satu sama lain bertentangan, yaitu sifat baik dan sifat tidak baik. Dalam bahasa agama, sifat baik dikatakan sebagai manifestasinya malaikat, sedangkan sifat tidak baik merupakan manifestasinya syaitan.

Bagi manusia yang telah mengerti, yaitu manusia yang telah mengenal Tuhan, tugas hidupnya adalah menipiskan sifat tidak baik menebalkan sifat baik. Atau mengurangi sifat tidak baik menambah sifat baik. Dalam budaya Jawa terdapat anggapan bahwa selama masih menjadi manusia tidak mungkin sama sekali menghilangkan sifat tidak baik. Berbeda dengan tradisi Hindu di India yang berpendapat bahwa sifat manusia yang tidak baik itu dapat dihilangkan sama sekali sehingga yang tinggal hanyalah sifat baiknya. Oleh sebab itu di India terdapat orang suci, artinya orang tersebut sudah terbebas sama sekali dalam hidupnya dari sifat tidak baik, Di India ada sesebutan maharaj (maharaja), yaitu orang yang dianggap telah mencapai tataran spiritual yang tinggi, sehingga ia sudah membelakangkan dan tidak mau melibatkan diri pada sifat-sifat yang tidak baik.

Di Jawa yang terjadi pada diri manusia hanyalah hukum dorong-mendorong, artinya pada suatu ketika kalau lingkungan mendukung sifat baiknya muncul dan ketika lingkungan tidak mendorong, yang muncul adalah sifat tidak baiknya. Jadi di dalam kebudayaan Jawa yang ada adalah relatifisme.

Di dunia nyata, sifat baik dan tidak baik dapat dilihat, dipikirkan, dan / atau dirasakan secara konkrit, dengan acuan memayu hanyuning bawana (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia). Barang siapa memberi, mengamalkan, dan / atau menyumbangkan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia, ia pada ketika itu sedang menjalankan sifat baik. Dalam bahasa teknis spiritual, ia sedang kalenggahan Tuhan YME. (Gusti Ingkang Murbeng Dumadi, Gusti Ingkang Maha Suci, Gusti Ingkang Murbeng Kawasa, Gusti Ingkang Maha Agung, Gusti Ingkang Maha Welas Asih, dsb). Sebaliknya siapapun yang tidak melaksanakan memayu hayuning bawana, ia adalah merusak karahayon (keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup). Secara alamiah dipercaya barangsiapa merusak karahayon, ia akan rusak sendiri.

Dalam menjalankan memayu hayuning bawana harus diikuti rangkaian -kegiatan berupa ambrastha dur angkara ( memberantas nafsu-nafsu rendah). Dengan demikian pelaksanaan memayu hayuning bawana dapat dijalankan secara kreatif, dinamis, dan rasional oleh siapa saja kapan saja dan dimana saja.

Sekarang semakin jelas bahwa pelaksanaan budi pekerti dapat diaktualisasi dengan mantap dan konkrit. Baik dan tidak baik menjadi relatif apalagi menjadi tergantung dari sudut pandang filsafat, idiologi atau ajaran apapun. Seseorang yang menolong atau memberi sesuatu yang baik adalah tetap baik, tidak perlu dikomentari atau tidak perlu berada dalam kebergantungan waktu dan tempat.

Jika perihal ini sudah dapat diterima secara umum dan merata maka kiranya tidak diperlukan lagi adanya penataran-penataran semacam P4, akan tetapi yang ada adalah pendalaman yang dilakukan berdasarkan pengolahan oleh keluarga, pergaulan antara sesama kawan, sesama warga komunitas, sesama anggota masyarakat bahkan juga sesama orang pemerintahan, dan sesama warga negara ataupun warga bangsa. Masing-masing secara akal sehat dapat menditeksi sendiri mana yang baik dan mana yang tidak baik berdasarkan kedewasaan dan kesadaran jiwa masing-masing orang.

  1. NILAI-NILAI BUDI PEKERTI DALAM WAYANG

    1. Budi Pekerti Dalam Wayang

Sungguh sangat menarik dan mengasikkan, apabila kita meluangkan waktu untuk menelaah budi pekerti yang terkandung didalam wayang. Budi pekerti perdefinisi adalah : budi yang dipekertikan dalam kehidupan nyata sehari-hari, atau pekerti yang berbudi. Budi adalah cipta rasa karsa seseorang. Ia (budi itu) masih belum nampak karena masih berada dalam cipta rasa karsa manusia, kecuali kalau sudah diaktualisasikan kedalam kenyataan berupa sikap, kata, dan perbuatan. Oleh sebab itu kalau direnungkan dunia manusia adalah sesungguhnya dunia sikap, kata, dan perbuatan manusia.

Dari situ, kita dapat “memotret” struktur sikap, kata, dan perbuatan seseorang, Jujur dan tidak jujur – lugu dan tidak lugu – baik dan tidak baik – dengki dan iri dan tidak iri, dsb (ingat ungkapan “ meri, dahwen, open, srei, drengki, apik, geten) seluruhnya dapat dibaca dengan jelas lewat sikap, kata, dan perbuatannya. Misalnya seorang dosen yang bersikap bertolak pinggang (Jawa : malangkerik) sambil wajahnya dimiringkan tidak menatap wajah mahasiswa yaitu ketika datang mahasiswa dengan maksud minta waktu berkonsultasi, maka si dosen tersebut pastilah menggambarkan sikap yang “kementus” (sombong rada-rada menyepelekan), sebuah sikap yang tidak Jawa (berbudaya) yang sekaligus dari sisi komunikasi merugikan diri sendiri.

Sedangkan budi luhur adalah nilai-nilai luhur yang tercipta dari cipta rasa karsa seseorang. Ia karena masih berupa nilai jadi lebih merupakan seonggok atau sekumpulan nilai-nilai tertentu, belum dioperasionalkan kedalam kenyataan hidup. Nilai-nilai itu bisa bersumber dari kitab-kitan suci, kitab-kitab piwulang, kitab-kitab idiologi, temuan sendiri dsb, yang ditata rapi dalam struktur yang indah. Untuk dipekertikan dalam kehidupan nyata atau untuk dijadikan budi pekerti dibutuhkan latihan-latihan, teori dan praktek dengan kata lain budi luhur masih terletak diawang-awang, sedangkan budi pekerti telah dioperasionalkan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Memang ada jarak antara nilai dengan kenyataan. Pada pelaksanaan budi pekerti sudah tentu ada budi pekerti luhur dan ada budi pekerti asor, namun istilah yang terakhir ini tidak umum. Dalang Ki Timbul Hadi Prayitno menyebutkan budi candala untuk mewakili budi pekerti asor.

Dalam konteks wayang segera teringat akan pendita Durna gaya Jawa, dimana pendita Durna dipersiapkan sebagai seorang pandita yang ahli menguasai teori perang sekaligus menguasai nilai-nilai luhur menjadi asor (nista) ketika ia gandrung ingin mempersunting Dewi Srikandi, sehingga pandita Durna tidak lagi nampak keluhurannya sebagai seorang guru lakunya para satria Astina dan Pandawa. Tetapi begawan Bhisma sebagai seorang gurulakunya para satria Astina dan Pandawa. Tetapi begawan Bhisma sebagai penasehat spiritualnya Prabu Duryudana, dia tetap konsisten “nglungguhi” (menempatkan diri) kebegawanannya dengan cara memberikan nasehat yang baik agar Duryudana jangan bersikap destruktif kepada Pandawa. Ia dapat memisahkan antara ia dipelihara tata lahirnya oleh Astina dengan ia sebagai begawan yang menjaga moral baik yang mengakibatkan hatinya cenderung membela kebenaran Pandawa. Kedua tokoh tersebut dan masih banyak tokoh-tokoh lain bisa dijadikan lapangan studi budi pekerti.

Adipati Karna misalnya, sebagai tokoh yang kontrofersial itu makin menarik untuk ditelaah dalam proyeksi budi pekerti

Adipati Karna misalnya, sebagai tokoh yang kontrofersial itu makin menarik untuk ditelaah dalam proyeksi budi pekerti, terutama dalam lakon Kresna Duta dan Kresna Tanding. Dalam kedua lakon tersebut Adipati Karna direpresentasikan oleh dalang-dalang yang pintar, seperti Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Nartasabdo, Ki Anom Suroto, Ki Manteb Sudarsana, Ki Panut Darmoko dll, sebagai seorang tokoh yang kontroversial sekaligus tragis. Disebut kontroversial karena Adipati Karno ternyata memiliki dendam karena sebagai seorang anak Dewi Kunti dibuang ke sungai Gangga sehingga ditemu dan dibesarkan oleh Adirata, yang kemudian setelah dewasa dan mengetahui bahwa ia sesungguhnya anak Dewi Kunti dan Betara Surya, jadi termasuk orang Pandawa namun diterlantarkan begitu saja. Wajarlah ketika tampil memukau dalam latihan perang yang dipimpin oleh pandita Durna kemudian ia didudukkan oleh Prabu Duryudana sebagai Adipati Awangga yang tidak bisa tidak dalam perang Bharatayudha ia terpaksa memihak Astina. Disebut tragis karena ia menjalankan tugas perang melawan Pandawa yang sesungguhnya bertentangan dengan kata hatinya apalagi melawan adiknya sendiri sang Arjuna.

Kalau tadi secara selintas kita menelaah budi pekerti tiga tokoh, bukanlah berarti telaah semacam itu tidak dapat dikembangkan untuk menelaah tokoh-tokoh lain yang jumlahnya banyak itu namun tiga tokoh tersebut hanya sekedar contoh telaah singkat saja yang bisa dipertimbangkan dan dikaji ulang kapan saja.

Setiap cerita, peristiwa, kejadian, sebagaimana disebutkan dalam pengantar sesungguhnya punya misi tertentu dan juga moral tertentu, yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan harkat martabat, derajat hidup masing-masing orang. Setiap dosen, setiap guru, setiap orang tua, setiap dalang, bahkan siapa saja ketika ia mau mencari pesan moralnya atau pesan budi pekertinya dapat menganalisis apa saja dan siapa saja tentang budi pekerti. Yang penting adalah hasil analisis tentang budi pekerti harus dapat dinalar secara akal sehat, tidak semakin sulit dicerna atau dimengerti.

    1. Kualitas Manusia

Menurut pengertian dari salah satu komunitas budaya spiritual Jawa kualitas manusia dapat dibagi menjadi lima tingkatan :

  1. Wong (Manusia hewani)

Wong (Manusia hewani) adalah manusia yang belum mengerti tatakrama dan kesusilaan. Jadi belum dapat membedakan mana sikap, ucapan, dan perbuatan yang pantas dan tidak pantas ditampilkan. Demikian juga belum bisa membedakan baik dan tidak baik. Dengan kata lain dalam menampilkan sikap, kata, dan perbuatan lebih bersifat egois, karena memang keluar dari nafsunya pribadi. Dalam wayang manusia jenis wong adalah raksasa atau orang-orang sabrangan.

  1. Manungso (Manusia insani)

Manungso (Manusia insani) adalah manusia yang telah mengetahui tatakrama dan kesusilaan. Ia sudah dapat membedakan mana yang baik dan tidak baik, mana yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dan/atau mana yang penting dan tidak penting, walaupun kesemuanya itu atas dasar konvensi masyarakat semata. Ia telah mempelajari etika (baik dan tidak baik) dari masyarakat tertentu seperti diketahui baik dan tidak baik bagi masyarakat yang satu belum tentu baik dan tidak baik bagi masyarakat lain. Ukuran baik dan tidak baik ditentukan oleh konvensi masyarakat. Dalam pewayangan contoh jenis manungso adalah para satria baik satria dari Astina, Pandawa maupun para satria dari luar Astina dan Pandawa.

  1. Jalmo (Manusia ilahi)

Jalmo (Manusia Illahi) adalah manusia yang telah mengerti tentang Ketuhanan, artinya manusia yang telah menjalankan kehidupan berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan. Manusia jenis ini senantiasa memohon petunjuk kepada orang yang telah mengerti Ketuhanan dalam bertindak. Dalam pewayangan contoh jenis jalmo adalah misalnya Arjuna beserta anak-anaknya. Bima beserta anak-anaknya dsb.

  1. Jalmo Winilis (Manusia terpilih)

Jalmo winilis (manusia terpilih) adalah manusia yang telah dikehendaki oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk menerima tuntunannya. Dalam praktek orang jenis ini dalam bertindak senantiasa memohon petunjuk terlebih dahulu kepada Tuhan menurut tata cara yang telah digariskan atau diterima. Petunjuk tersebut diperlukan agar pelaksanaan hidup bisa berjalan dengan benar lan pener (benar dan tepat). Dalam pewayangan contoh manusia jenis ini adalah Yudhistira, Begawan Abiasa, Resi Bisma, Matswapati dsb.

  1. Jalmo Pinilih Pininto (Manusia Terpilih Dan Tercadangkan)

Jalmo pinilih pininto (Manusia terpilih dan tercadangkan) adalah manusia yang dipilih dan dicadangkan oleh Tuhan untuk menjalankan misi Ketuhanan yaitu memayu hayuning bawana (mengusahakan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup di dunia). Jenis manusia ini jelas dipelihara keselamatan sepenuhnya oleh Tuhan. Dalam kenyataan ia senantiasa mendapatkan tuntunan Tuhan dalam menyelesaikan masalah betapapun sulitnya. Ia seolah-olah sudah manunggal dengan Tuhannya atau boleh dikatakan bahwa ia merupakan pengejawantahan dari Tuhan itu sendiri. Dalam pewayangan contohnya hanya satu yakni Kresna. Dalam dunia agama contohnya antara lain Yesus, Ibrahim, Muhammad, Musa, dsb.

3. Cara Mempelajari Budi Pekerti

Budi pekerti jelas bukan teori (ilmu) semata tetapi laku hidup. Antara ilmu dan laku ada jarak. Seseorang yang telah menguasai ilmu hidup katakanlah dia seorang ahli atau pakar ilmu spiritual, tidak otomatis bisa melaksanakannya kedalam kenyataan. Karena ada jarak maka wajar-wajar saja dalam dunia Jawa muncul istilah jarkoni artinya bisa ngajar ora bisa nglakoni. Dalam pewayangan tokoh jarkoni biasa ditujukan kepada pandita Durna. Dalam dunia nyata banyak ditemui tokoh-tokoh dari kalangan agama dan ilmu pengetahuan yang memanifestasikan dirinya sebagai jarkoni. Banyak dijumpai sesudah berkotbah lalu pulang tidak difikirkan secara mendalam bagaimana pembinaan umat selanjutnya.

Untunglah dalam dunia wayang terdapat tokoh-tokoh khususnya dari Pandawa yang memberikan keteladanan dibidang laku. Laku hidup sebagaimana dicontohkan oleh tokoh-tokoh Pandawa lebih mencerminkan tokoh-tokoh yang mengutamakan laku hidup yang berakhir dengan pencapaian keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia bahkan di akhirat. Tidak terbilang banyaknya contoh-contoh laku hidup yang dijalankan perintah Durna yang penuh tipu muslihat, akhirnya Bima tanpa diduga justru berhasil menemukan Tirta Pawitrasari (Tirta Pawitradi atau Tirta Merta), yaitu ilmu hidup yang menerangkan tentang cara memanunggalkan diri atau mendekatkan diri dengan Tuhannya.

Oleh karena budi pekerti itu harus dijalankan dan dihayati, maka caranya meresapkan kedalam hidup harus pula dengan penghayatan. Banyak orang yang tekun melaksanakan budipekerti tanpa ingin diketahui orang lain apalagi pamer. Orang-orang seperti itu terdapat umumnya justru di desa-desa atau kalaupun di kota-kota orang-orang seperti itu lebih bersikap diam dalam pengertian menikmati dan menjalankan hidup dengan sepenuhnya hati. Mereka dalam kesulitan ekonomi yang begitu dahsyat seperti sekarang selalu berusaha untuk menjalankan penghidupannya dengan diam sambil memohon selalu kepada Tuhannya dengan pemahaman jangan sampai langkah-langkah hidupnya terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran yang tidak baik, misalnya antara lain, menipu, mencuri dsb. Ajaran Malima (tidak main, berjudi, tidak maling (mencuri), tidak madat (narkoba, narkotik dsb), tidak madon (main perempuan), dan tidak minum (minum-minuman keras) secara tidak langsung dihayati dengan kesadaran penuh. Mereka jenis-jenis orang yang sabar, karena percaya dengan kesabarannya itu ia pasti berhasil membangun anak turunnya. Secara otomatis ia menganut pendirian jer basuki mawa bea (tiada kebahagiaan tanpa pengorbanan). Dalam hatinya ia dimotifasi oleh laku yang dijalankan Pandawa, dan memang Pandawa yang menjadi idolanya.

Mempelajari budi pekerti dengan contoh-contoh wayang, lebih aman dari pada mengambil contoh dari manusia yang masih hidup kecuali manusia itu telah tiada. Menjadikan manusia hidup dari manusia yang masih hidup kecuali manusia itu telah tiada. Menjadikan manusia hidup sebagai contoh klira-klirunya dapat menimbulkan rasa tidak simpati atau salah-salah dapat menimbulkan pro dan kontra yang berkepanjangan, yang dilihat secara etis tidak baik. Disamping itu dengan contoh-contoh wayang, orang diberi wayang asal kesemuanya itu dapat memberikan ekspresi dan penilaiannya tentang tokoh-tokoh wayang asal kesemuanya itu dapat memberikan nilai tambah bagi peningkatan harkat, martabat, dan derajat kemanusiaan luhur.

Sejak kecil saya mencintai wayang. Umur 2 tahun kata orang tua saya sudah menyaksikan wayang kulit semalam suntuk yang kebetulan dipentaskan dirumah orang tua saya. Ketika SD sampai SMP saya selalu dibimbing oleh ayah dan ibu saya dalam mendengarkan siaran wayang orang, wayang kulit dan ketoprak melalui radio. Sambil anak-anaknya makan di meja panjang ibu saya senantiasa mencontohkan satria-satria Pandawa sebagai idola hidup yang harus dipelajari. Apakah itu? Saya masih ingat bahwa Pandawa itu orang yang gemar prihatin, gentur tapanya, dan berbudi pekerti luhur. Sambil ibu saya menceritakan hal itu, ibu saya tidak menyukai kalau anak-anaknya kelak memiliki profesi dagang, sebab dagang itu selalu bohong. Yang diidolakan untuk diteladani adalah sifat-sifat Yudistira, Bima, Arjuna, dan Kresna. Dilengkapi dengan oposisinya seperti satria-satria Astina. Apabila kalau menceritakan Pandawa Durna, Sengkuni, Dursasana, ibu saya sangat bersemangat menampilkan ketidak baikan tokoh-tokoh tersebut, yang akhirnya dikunci dengan kata-kata bersayap: “Kuwi aja kok tiru” (itu jangan kau tiru).

Lama kelamaan apa yang diceritakan oleh ayah ibu saya meresap dan didalam hidup perilaku wayang menjadi conduct of live (acuan hidup). Karena wayang itu telah meresap maka saya pribadi kalau melihat orang menggunakan daya sorot dan analisis wayang. Wallahualam bisawab.

Dalam pendidikan modern sekarang dimana ditengah-tengah globalisasi kita rasakan bersama munculnya asas hidup materialistisme dengan kapitalisme sebagai ujung tombaknya, maraknya otonomi daerah, dan rusaknya kehidupan bermasyarakat, maka pertanyaannya adalah dapatkan budi pekerti dalam wayang masih dapat dipakai sebagai acuan atau sebagai pertimbangan dalam mensukseskan hidup kita?

    1. Manfaat Budi Pekerti

Pertanyaan tersebut diatas pada dasarnya sama dengan masih adakah manfaat wayang bagi kehidupan sekarang? Sudah barang tentu kalau kita bicara manfaat, mau tidak mau harus dilibatkan secara integral generasi muda sekarang. Wayang tanpa dihidupkan dan diaktualisasikan oleh para dalang mustahil akan lestari. Dengan kata lain ditangan para dalanglah letak nasib masa depan wayang dan sudah dengan sendirinya nasib masa depan generasi muda mendatang. Akan dibentuk seperti apa generasi muda kita? Seperti Sambakah, Sentyakikah, Duryudanakan, Sengkunikah, Durnakah, Durmagatikah, Wisanggenikah, Gathotkacakah, Antasenakah, Sengkunikah, Durnakah, Durmagatikah, Wisanggenikah, Gathotkacakah, Antasenakah, Arjunakah, Bimakah, Yudistirakah, Nakulakah, Sadewakah, Kresnakah atau Balabacingahkah, Raksasakah, Butakah, Cakilkah, Sabrangankah ataukah dijadikan demit, tuyul, baladupakankah, balatendangankah dll.

Kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berpemerintahan, dan bernegara dalam waktu-waktu sekarang terasa sekali mengalami kekosongan budi pekerti. Hal ini disebabkan karena sudah ada presiden di Indonesia hingga berganti-ganti, namun sesungguhnya belum ada pemimpin bangsa yang sejati, kecuali baru satu yaitu Bung Karno, yang disamping menjabat sebagai presiden RI beliau juga berperang sebagai pemimpin besar bangsa Indonesia. Dengan menyebut nama Bung Karno ijinkanlah panjenengan semua jangan serta merta, saya distempel Sukarnois. Bung Karnolah yang menjadi andalan sebagai pemimpin bangsa Indonesia yang sesungguhnya, karena mampu membangun nation and character building (pembangunan watak dan bangsa Indonesia).

Kaitannya dalam wayang, Bung Karno adalah pemimpin bangsa Indonesia yang benar-benar mampu menghayati wayang. Sebut saja dalam menggambarkan kepercayaan Gathotkaca. Bung Karno sangat membanggakan Gathotkaca. Bahkan dapat dikatakan Gathotkacalah idola Bung Karno yang sebenarnya. Bung Karno yang demikian memerankan dirinya sebagai atas nama pemuda Indonesia. Juga dalam mengobarkan semangat berjuang anti penjajah, anti kolonialisme, anti kapitalisme. Bung Karno menggunakan ungkapan-ungkapan dari dunia pewayangan antara lain seperti : kopat-kapita kaya ula tapak angin, kekejro kaya manuk branjangan, tak saut tak puntir gulumu kapitalisme, kolonialisme serta antek-anteknya. Rakyat mana yang tidak ikut bergetar mendengarkan semangat juang yang dikobarkan oleh Bung Karno.

Jadi dari contoh kecil tersebut diatas sudah dapat disimpulkan bahwa siapa saja yang mampu menggali nilai-nilai luhur wayang tak pelak lagi akan berhasil membangun paling tidak dirinya. Kita wajib bersyukur bahwa masih banyak dalang-dalang yang dapat dipakai sebagai contoh untuk membangun budi pekerti rakyatnya, seperti, Ki Narto Sabdo (Alm), Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Anom Surono, Ki Hadi Sugito, Ki Manteb Sudarsono, Ki Warseno Slank, Ki Panut Darmoko, Ki Enthus, Ki Radya Harsana, Ki Sugito Purba Carito, Ki Sugino Siswa Carito dan masih banyak lagi contoh-contoh dalang sepuh yang sudah tidak aktif dan dalang-dalang almarhum lainnya seperti Ki Gito Sewoko (dalang Istana Presiden Sukarno), Ki Gondo Margono, Ki Pujo Sumarto, Ki Surono, Ki Wali Telon, Ki Jaya Kandar, Ki Cermo Sarjono, Ki Suyatin, Ki Krusuk, Ki Nyoto Carito dll. Belum terhitung dalang-dalang muda yang baik-baik yang sedang menunggu sukses, seperti Ki Purba Asmara, Ki Kasidi Hadiprayitno, dll. Di kalangan wilayah Sunda pun pergelaran wayang golek cukup marak. Nama-nama seperti Ki Cecep Supriyadi, Ki Asep Sunandar Sunarya dll hidup di hati masyarakat.

Pertanyaan tentang manfaat budi pekerti dalam wayang kembali disini ditunjukkan bisa berkibar kalau dalang-dalang tersebut sering dibina dan ditanggap, sukur-sukur secara rutin. Setiap Pemda Kabupaten, seyogyanya menyelenggarakan secara resmi hiburan rakyat setiap periode tertentu dengan pentas wayang. Jangan lupa bahwa tugas Gubernur, Bupati, bahkan Lurah, salah satunya adalah menggerakkan semangat juang rakyatnya melalui pergelaran wayang. Hanya melalui pergelaran wayang rohani rakyet dibuka untuk belajar mengenali budi pekerti luhur versus (berhadap-hadapan) dengan budi pekerti candala. Siapa yang akan mendapat keuntungan? Jawabannya tegas tidak lain adalah sang Gubernur, sang Bupati, para Lurah, yang akan mendapatkan dukungan rakyatnya. Tidak mungkin pembangunan budi pekerti diperoleh dari sinetron, musik-musik kontemporer dengan lagu-lagunya yang memain-mainkan kisah cinta dan sebagainya. Wayang adalah santapan rohani yang berjati diri dan berkepribadian, dengan pengertian pergelaran wayang jangan dicampur-campur dengan pergelaran musik yang tidak menentu nilai estetikanya.

Mengambil manfat budi pekerti melalui wayang memang tidak sekaligus bisa dilihat hasilnya tetapi melalui peresapan terutama bagi anak-anak dan generasi muda. Kepada anak-anak dan generasi muda itulah ditanamkan daya-daya kritis tentang budi pekerti, baik lewat analisis tatah sunggingnya, postur wayangnya, penokohannya, sanggitnya (plot), ceritanya, dalangnya, sindennya, tim karawitannya, penanggapnya, penontonnya, repertoirnya (alat kelengkapan), bahkan sampai dengan pedagang rakyat yang mengelilinginya. Dari sisi sosiologis, sebuah peristiwa pergelaran wayang dapat menawarkan kajian-kajian komunikasi dan interaksi sesama manusia yang dapat diserap oleh Pemda, setidak-tidaknya dalam menyusun renstranya (Rencana Strategis).

    1. Dawuhing Gusti dan Bukan Gusti

Indonesia merupakan negara wayang. Bahkan karena begitu meresapnya wayang terutama bagi hati orang Jawa, maka kalau membicarakan Arjuna, orang-orang menganalisanya dengan penuh keasikan, kekuatan dan kelemahannya. Seolah-olah Arjuna itu masih hidup dan tinggal sebagai tetangganya.

Wayang pada tahun 2004 oleh Unesco diproklamirkan sebagai Warisan Budaya Dunia (Culture Haritatge) yang perlu dilestarikan. Dengan kata lain, dunia telah mengakui bahwa wayang memiliki peran yang besar dalam menuntun rakyat dan bangsa Indonesia.

Wayang dalam dunia sastra Jawa, masuk kedalam jenis sastra tersendiri, yaitu sastra wayang.

Yang menjadi pertanyaan adalah dimanakah letak tuntunannya. Kalau wayang memberi tuntunan siapakah sebenarnya yanng menuntuni. Sering dikatakan bahwa wayang itu mempunyai peran ganda: memberikan tontonan sekaligus tuntunan. Dengan kata lain wayang adalah tontonan yang tinuntun.

Dari penalaran tersebut nampaknya ada tontonan yang tidak tinuntun. Dalam kenyataan memang banyak dijumpai jenis tontonan seperti itu. Di kota-kota besar sudah tidak ayal lagi banyak pedagang-pedagang menjajakan VCD yang berisi kegiatan seksual secara terbuka dengan gaya dan model yang bermacam-macam, misalnya dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Thailand, Taiwan, Philipina, Malaysia dan tidak lupa yang memalukan adalah justru dari Indonesia sendiri. Generasi muda di Jakarta khususnya anak-anak SMA dan mahasiswa-mahasiswa yang kurang kontrol, telah marhum tentang hal ini. Orang tuanya biasanya tidak tahu anak-anaknya menonton VCD Porno, mungkin juga tidak tahu bahwa ada diantara anaknya yang telah mencoba melakukan kegiatan seksual sebelum pernikahan resmi.

Dalam teropong ini sudah dapat dibayangkan bahwa bangsa Indonesia melalui generasi mudanya terutama yang tinggal di kota-kota besar, umumnya sedikit banyak telah menjadi korban dari peredaran VCD Porno yang konon jumlahnya banyak sekali dan dijual dengan harga murah. Mereka itu yaitu generasi muda tersebut dirusak oleh VCD Porno, ditambah narkoba/narkotik, dengan didukung oleh lagu dan tari ciptaan baru yang bertema kisah-kisah cinta dangkal. Seorang dengan didukung oleh lagu dan tari ciptaan baru yang bertema kisah-kisah cinta dangkal. Seorang pengamat sosial budaya, Drs. Sutrisno Mangunputra berkata kepada saya bahwa bangsa Indonesia benar-benar sudah runtuh moralnya, apalagi ada kekosongan pemimpin, masuknya kapitalisme dan neoliberalisme, dan tidak jelasnya arah pendidikan kita. Pendidikan kita, katanya, hanyalah menghasilkan pelayan-pelayan dan pekerja-pekerja bagi kepentingan dunia kapitalisme dan neoliberasilme. Tidak menghasilkan pemimpin-pemimpin sejati yang memperjuangkan rakyat dan bangsanya.

 

Untuk apa sesungguhnya kita bangsa Indonesia berbudi pekerti luhur? Bagi orang yang mengerti, yaitu orang berketuhanan YME, hidup berbudi pekerti luhur secara spiritual merupakan perihal Tuhan YME kepada manusia.

Di dalam ilmu Satra Jendra Hayuningrat digambarkan bahwa makhluk hidup ciptaan Tuhan secara implisit mengalami evolusi meningkat. Secara teoritis bahwa hewan-hewan besar seperti gajah, singa, harimau, kuda, naga, bisa meningkat hidupnya kebentuk yang lebih tinggi. Diceritakan ada seorang raksasa yang ingin meningkat hidupnya menjadi manusia tetapi atas perintah dewa ia harus menjadi bulus terlebih dahulu yang bertempat tinggal disebuah rawa besar. Tersebutlah Prabu Salya yang bertapa disebuah rawa besar itu, untuk memohon agar mendapatkan anak laki-laki. Tapanya diterima, kemudian bulus rawa tersebut menjelma sebagai anak Prabu Salya dengan nama Burisrawa; nama tersebut sebetulnya berasal dari kata bulus rawa. Dari raksasa kalau baik bisa menjadi wong. Contohnya lakon Kunjarakarna. Di pewayangan dijumpai peristiwa Dewa Kamajaya berubah harimau (Lakon Ontosena Lahir), ada lagi Narada berubah menjadi harimau (Lakon Ujung Sengara).

Didalam lakon Anggodo Duta, dalang Ki Timbul Hadiprayitno mempergelarkan secara cemerlang perihal meningkatnya prabu Danaraja menjadi dewa untuk mengisi kekosongan “Kursi” (kedudukan) dewa yang jumlahnya seharusnya sembilan dewa itu (Dewa Nawangsanga). Sebagai catatan, dalam sistem nilai Hindu dewa merupakan makhluk ciptaan Tuhan Tertinggi. Namun demikian dewa sebagaimana juga manusia terkena hukum karma, artinya dewa siapapun yang dalam hidupnya menjalani kesalahan maka ia dihukum. Sebagai contoh ketika dewa Indra terpukau sehingga sorot matanya tiada benti-hentinya menyaksikan seorang bidadari cantik yang sedang menari, ia oleh dewa Guru dihukum berupa Dewa Indra berkemaluan seribu.

 

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa Sastra Jendra Hayuningrat pada dasarnya merupakan ilmu untuk meningkatkan harkat, martabat dan derajat kemanusiaan luhur. Secara rasional dapat disimpulkan bahwa siapapun tanpa pandang asal-usul, dan tanpa pandang tingkatan sosial, kalau seseorang dalam hidupnya konsisten dan konsekuen menjalankan hidup berbudi pekerti luhur, maka ia kalau sudah waktunya akan diterima oleh Tuhan YME di dalam alam kasidan jati atau alam kasampurnaan sejati manunggaling kawula gusti. Menurut pemahaman budaya spiritual Jawa, ia tidak hidup di neraka, tidak pula hidup kembali ke dunia (reinkarnasi), tidak hidup nitis bahkan juga tidak hidup di alam antara, tetapi bisa “cepat” masuk ke alam kasidan jati (alam kasampurnaan jati), bagaikan kapuk kapas yang ditiup naik ke atas dengan ringannya ke alam wasana.

 

Dalam pemahaman ini hidup di dunia nyata adalah sebagai tahap penyucian (katarsis), agar hidupnya mendapatkan keselamatan dalam arti yang sesungguhnya. Jika hal ini disadari maka sudah dengan sendirinya hidup berbudi pekerti luhur merupakan kebutuhan mutlak. Pelaksanaannya memang tidak mudah karena seperti dikatakan dimuka mencerna sesuatu sikap, kata dan perbuatan yang baik sangat sulit. Kadang-kadang kita dihadapkan pada tataran yang sangat sulit membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik bahkan juga mana yang benar dan mana yang tidak benar. Melayat dan merawat musuh, apakah itu baik ???

Di dunia pewayangan ketika bisma sebagai musuh Pandawa mati oleh panah Srikandhi dan Arjuna, jenasahnya bukan dirukti (dipelihara) oleh Kurawa tetapi justru oleh para Pandawa dengan pimpinan Kresna. Disini budi pekerti luhur Pandawa nampak sekali. Dengan sekejap mata ia dapat memisahkan Bhisma sebagai musuh dan Bhisma sebagai kakek Pandawa. Yang sulit dilaksanakan adalah perpindahan suasana batin dari Tidak baik ke baik, atau mungkin sebaliknya, karena pada umumnya suasana batin timbul dan tenggelamnya diguncang-guncangkan oleh rasa. Oleh sebab itu rasa tempat atau sumber tumbuhannya budi pekerti sudah semestinya dipelihara secara rapi oleh setiap manusia. Tidak berlebihan kalau leluhur kita mengatakan bahwa Lihat : Ramayana karya P.Lal. hal. 386.

Jawa iku panggonane rasa (Jawa itu tempat rasa) artinya bahwa setiap orang Jawa harus dan wajib memelihara rasa untuk mencapai kwalitas hidup manusia tertinggi.

Dalam kenyataan sekarang, konponen atau lapis rasa kurang di perhatikan bahwa cenderung diterlantarkan. Orang Jawa kini telah mengalami erosi dalam kepekaan rasa. Banyak anak-anak muda yang tidak memperhatikan lagi pada tatakrama dan tatasusila. Siapa lagi yang dapat disalahkan kecuali orang tuanya, sekolahnya, lingkungannya, dan atau pemerintahnya. Mereka-mereka itu dengan mudahnya mengatakan bahwa jamannya telah berubah sehingga tidak diperlukan lagi pemeliharaan rasa. Mereka beranggapan daya-daya intelektuallah yang musti dikembangkan karena daya-daya tersebut dapat menghasilkan Iptek yang berguna bagi peningkatan kwalitas hidup lahiriah. Nyatanya, ketika payung Iptek telah dikembangkan ternyata tidak banyak penelitian Iptek dilakukan. Indonesia belum berhasil membuat sendiri kereta api, kapal terbang, nuklir, kapal-kapal dengan segala jenisnya, komputer, HP, bahkan seperti motorpun tidak diproduksi oleh bangsa Indonesia sendiri. Sedih. Kita hanyalah menjadi tempat buangan produk-produk Iptek dari luar negeri, apalagi dililit hutang.

Jadi pembangunan budi pekerti lewat wayang adalah cara yang paling aman dalam membangun generasi muda bangsa. Siapa yang dapat meramalkan duapuluh lima tahun mendatang akan bagaimana jadinya apabila bayi yang lahir sekarang tidak dipersiapkan secara matang dalam melengkapi supra struktur dan imfrastrukturnya. Bagi orang tua yang telah waspada mereka akan berbahagia menerima anaknya yang duapuluh lima tahun mendatang bakal menjadi generasi muda harapan bangsa karena, disamping dilandasi pendidikan budi pekerti anak-anaknya diberi pengetahuan-pengetahuan yang mengantarkan seseorang menjadi ahli sekaligus pemimpin.

    1. Sumber Budi Pekerti

Sumber budi pekerti secara rasional berasal dari :

  1. Pancasila beserta produk-produk hukumnya.

  2. Agama, khususnya kitab-kitab suci dan kitab-kitab pendukungnya.

  3. Ilmu pengetahuan, khususnya poses penciptaan, poses pembuatan, hasil, dan poses penerimaannya.

  4. Tradisi, khususnya pitutur-pitutur luhur.

  5. Idiologi dan ajaran lainnya

  6. Peristiwa alam

  7. Pergaulan dalam setiap tingkat, lingkungan dan asalnya.

Setiap nilai yang diperoleh dari masing-masing sumber tersebut diatas tidak dengan sendirinya dapat dijadikan acuan, tetapi harus disaring terlebih dahulu dengan ases Ketuhanan YME. Sepanjang dapat masuk dalam misi memayu hayuning bawana yang dirangkai dengan ambrasta durangkara, temuan-temuan yang berasal dari sumber-sumber tersebut dapat dicalonkan masuk ke dalam butir-butir budi pekerti luhur.

Dengan misi memayu hayuning bawana dan visi Ketuhanan YME tidak mustahil kita dapat membangun bayi-bayi kita yang duapuluh lima tahun mendatang bisa menjadi generasi satria Indonesia yang dapat diandalkan dan dibanggakan lahir batin, jiwa raga, jasmani rohani, individual sosial, materiil spiritual, dan nasional international.

III. KESIMPULAN

  1. Jalan menuju ke kejayaan dan keluhuran bangsa Indonesia tidak ada lain kecuali melalui pembangunan budi pekerti.

  2. Pembangunan budi pekerti tersebut harus bervisi Ketuhanan YME dan bermisi memayu hayuning bawana, yang dilaksanakan sekaligus dengan ambrasta dur angkara.

  3. Pemerintah berkuajiban melalui unit-unit pendidikan : Play Group (taman bermain), TK, sekolah, perguruan tinggi, dan unit-unit pendidikan lainnya membangun peserta didik dari tingkat wong menjadi manungso, sukur juga menjadikannya sebagai jalmo.

  4. Orang tua bertugas membesarkan anak lahir batin, jiwa raga, dan jasmani rohani.

  5. Masyarakat bertugas membentuk lingkungan agar menjadi tempat suburnya penanaman visi dan misi seperti tersebut diatas.

  6. Guru, Kyai, Pastor, Pendeta, Pedanda, Pemangku Adat, dan pemimpin-pemimpin lain baik formal maupun informal harus menjadi teladan hidup terpuji, sesuai dengan visi dan misi tersebut diatas.

  7. Segenap pemimpin sesuai dengan tingkatnya masing-masing wajib menjalankan tugasnya dengan lambaran budi pekerti luhur.

  8. Budaya wayang harus semakin disosialisasikan keseluruh Indonesia.

  9. Pemerintah baik pusat dan daerah wajib menyiapkan dana yang memadai bagi penulis-penulis yang ingin menerjunkan diri dalam budi pekerti yang berkaitan dengan wayang.

  10. Pemerintah baik pusat dan daerah wajib menyiapkan buku-buku budi pekerti.

  11. Pemerintah pusat dan daerah wajib menyediakan guru-guru budi pekerti sekaligus dengan kurikulumnya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Lal, P. 1995, Ramayana, diterjemahkan oleh Djokolelono, Jakarta PT. Dunia Pustaka Jaya.

Hadiprayitno, Timbul. Anggada Duta, Kaset Wayang Kulit 1-8

Budya Pradipta. 1996 Pendidikan Budi Pekerti dalam Muatan Lokal Bahasa Jawa.

Makalah dalam Seminar Sehari Pendidikan Budi Pekerti, diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS IKIP Yogyakarta, 6 Juli 1996 di Auditorium IKIP Yogyakarta.

Budya Pradipta. 1997. The Relevance of Ramayana for Human life Today. Makalah dalam 14th Ramayana International Concerence, Houston, Texas, USA. 23-26 Mei 1997.

Budya Pradipta. 1998. Memayu Hayuning Bawono as a Cultural Action for United Religions Initiative. Makalah untuk the United Religions Initiativ’s Third Global Summit. 21-26 Juni 1998 di Stanford University, San Fransisco, USA.

Budya Pradipta. 1999. Membangun Masyarakat Berbudi Pekerti Luhur dengan Ilmu Budaya Ketuhanan YME dengan laku Memayu Hayuning Bawono. Makalah disampaikan dalam Seminar nasional Laku Budaya I/1999. 16-17 Juli di Semarang.

Budya Pradipta. 1999. The Role and Qualities of Arjuna in Jawa and India. Disertasi. May 1999. Departement of Sanskrit, University of Delhi, Delhi 110007, India.

Budya Pradipta. 2001. Bahasa Jawa Sebagai Sarana Pembangunan Budi Pekerti. Jakarta Yayasan Baskara.

Budya Pradipta. 2002. Memayu Hayuning Bawono (To Endeavour for Safety. Happiness and Welfore of Life in the World). As a mission af life of mankind in the world today. Paper untuk konperensi International Spiritual, 3-4 Juni 2002, di Bali yang diselenggarakan oleh PBB.

Budya Pradipta. 2002. How Ramayana May Be Absorbed All Over The World. Rhis paper is presented before the 18th International Ramayana Conference in Durban, South Africa 5th -8th September 2002

Budya Pradipta. 2004. Memayu Hayuning Bawono, Tanda Awal Indonesia Menjadi Pusat, Obor, Dan Pemimpin Dunia?. Jakarta: CV. Titian Kencana Mandiri.

M.Ng. Nojowirongko al. Atmotjendono. 1954. Serat Tuntunan Padalangan. Tjaking Pakeliran Lampahan Irawan Rabi, Yogyakarta: Tjabang Bagian Bahasa Ngajogjakarta Djawatan Kebudayaan, Kementerian P.P. dan K

 

BIODATA PENLIS

Budya Pradipta, Ph.D. lahir di Slawi anak Ki Partohadisoetjipto dengan Nyi Soegining Pendidikan terakhir: Ph.D (Doctor of Philosophy) dari Departement of Sanskrit, University of Delhi, Delhi India melalui Desertasinya berjudul The Role and Qualities of Arjuna In Java and India dengan predikat very excellence (summa cum laude).

Penghargaan-Penghargaan:

  1. Medali Emas Bidang Budaya dan Piagam Bhakti Budaya sebagai Pembina Budaya dari PLKJ (Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi), Surakarta 1995.

  2. Gelar KRT (Kanjeng Raden Tumenggung) dari Ingkang Sinuwun Kanjeng Susuhunan Paku Buwono XII, Raja Surakarta Hadiningrat. 2001.

  3. Bintang Satya Lencana dari pemerintah RI. 2000/2001.

  4. Penghargaan dari Committee Of International Ramayana Conference – Houston, USA, 1997

  5. Piagam dari Committee Of International Ramayana Conference-Durban, Afrika Selatan 2002

Publikasi

Banyak menulis makalah-makalah nasional serta internasional antara lain India (1986), di Houston (1997), Stanford University (1998), di University Of Malaya (1999), di Universitas Udayana (2000), di International Sankrit Conference Bangkok (2001), di India (1999, 2000, dan 2002, 2004), di University Kebangsaan Malaysia (2003, 2004) di Durban Afrika Selatan (2002)

 

 

 

You are here Kepustakaan Makalah Nilai-Nilai Budi Pekerti Dalam Wayang